Selasa, 30 Juni 2009

Hampir Celaka

Standard
Kamis (25/6) kemarin saya hampir saja celaka. Saya sama sekali tidak menyangka hal ini akan terjadi pada saya di sebuah angkutan umum 26 jurusan Kampung Melayu - Bekasi.

Ketika itu pukul 13.45. Saya sedang dalam perjalanan ke kantor, hendak dinas siang. Di tengah perjalanan saya mengirimkan pesan kepada rekan kerja saya. Menjelaskan, mungkin saya akan telat, karena angkot yang saya tumpangi jalannya seperti siput, ngetem terus.

Situasi ketika itu, dalam angkot hanya ada 2 penumpang. Saya duduk di pojok belakang (bangku 4), dan seorang pemuda usia 20-an duduk di pojok (bangku 6) tepat di belakang supir. Saya tidak menyadari karena sedang asyik dengan ponsel. Tahu-tahu sudah ada 3 orang laki-laki berpostur cukup besar duduk di dekat kami. Satu orang di sebelah saya (dekat pintu), 1 orang di hadap serong saya, 1 orang tepat di sebelah pemuda 20-an itu. Saya perkirakan mereka naik satu per satu di depan up2date factory outlet, satu di pasar sumber arta, dan satu lagi di jembatan kincan (lokasinya berdekatan).

Keanehan dimulai ketika laki-laki yang berada di hadap serong saya terus menerus melihat saya. Saya tidak pernah membuang pandangan ketika ada orang lain melihat saya, pasti saya akan terus melihat dia sampai dia tidak melihat saya lagi. Namun laki-laki itu terus melihat saya, lalu berpaling, lalu seperti mengirim isyarat kepada laki-laki sebelahnya, dan tiba-tiba laki-laki di sebelahnya itu juga ikutan melihat saya. Pandangan mereka seperti menginginkan sesuatu dari saya. Semuanya mulai tidak beres.

Tiba-tiba lelaki di samping saya (yang duduk dekat pintu), mulai membagikan sebuah brosur "PIJAT REFLEKSI" yang bisa mengobati berbagai macam penyakit. Ia membagikannya kepada saya, pemuda 20-an, dan juga kedua rekan komplotannya itu.

Saya kira hanya sekedar membagikan, tahunya lelaki itu langsung MEMIJAT pemuda 20-an dengan erat dan keras, disusul lelaki yang duduk di sebelah pemuda 20-an itu juga mulai mepet-mepet. Saya terperangah. Panik.

Saya langsung menggedor-gedor atap angkot dan teriak turun kepada supir. Lelaki yang duduk di dekat pintu sempat hendak mencegat saya (sambil terus memijat pemuda 20-an itu). Saya yang panik langsung menerobos tubuh copet berkedok tukang pijat itu.

Jantung saya terus berpacu. Terus dan terus. Sesampainya saya di kantor pukul 14.30 (telat 30 menit) tangan saya masih dingin, jantung saya masih berdegup cepat. Saya sudah lama tidak mengalami kejadian kriminal. Berbeda ketika sekolah dulu, hampir setiap hari saya melihat kejadian kriminal dan hampir beberapa kali saya yang menjadi korbannya. SUBHANALLAH, ALLOH AZZA WA JALLA selalu melindungi saya.

Semoga kisah ini menjadi pelajaran bagi kita semua.

0 komentar:

Posting Komentar