Sabtu, 13 Juni 2009

Menguping

Dalam perjalanan pulang kantor, saya tak sengaja mendengar pembicaraan 2 orang ibu-ibu. Tidak salah dong, karena mereka berbicara dengan tidak pelan dan saya mendengarnya. Dan dari pembicaraan ibu-ibu itu membuahkan satu renungan dan pemikiran untuk saya.

Ibu A, berbicara kepada ibu B "saya harus menyekolahkan anak saya di London". Saya sekilas melihat penampilan ibu A. Biasa saja. Tak ada kesan mewah atau apapun. Lalu ibu B mendengarkan dengan penuh seksama tanpa komentar satu pun. Yang saya tangkap dari pembicaraan itu adalah Ibu A ingin menyekolahkan anaknya di luar negeri karena hal itu akan membawa prestise bagi anaknya, keluarganya, dan sang ibu A itu sendiri.

Ibu A ngotot habis-habisan (yang saya tangkap), anaknya berhasil sekolah di London. Namun, baru semester awal saja sang anak sudah give-up. Kembali ke Indonesia. Ibu A mengeluh dan menasihati anaknya habis-habisan yang menurut ia benar.

Ada beberapa hal yang saya pikirkan :
1. Sang anak tertekan, mungkin itu bukan minatnya.
2. Sang ibu terlalu ambisius, tidak mempedulikan sang anak. Ibu itu selalu menyebutkan kata "prestise" dan "bangga". Sangat angkuh.

Setiap anak mempunyai impian masing-masing, apa yang menjadi angan-angannya. Setiap anak bebas mencapai apapun yang mereka mau. Orang tua mengarahkan dan mensupport agar sang anak bisa berkembang dengan baik. Bukannya memaksakan dan mendikte ini itu. Saya menjadi sedikit berpandang negatif pada Ibu A.

Memang setiap orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya walaupun terkadang anaknya tak suka.

Saya misalnya. Saya dimasukkan ke sekolah farmasi oleh ibunda. Awalnya sangat tertekan. Saya frustasi. Namun, ibunda selalu bilang "sabar. semua ini memang terasa sangat sulit. lakukan yang terbaik dari kamu, dan suatu saat nanti ketika kau melihat ke belakang, kau akan tahu betapa kuatnya dirimu" dan semua itu benar. Ibunda memang ingin yang terbaik untuk saya. Buktinya di usia 17 tahun saya sudah bisa mencari uang sendiri.

Ayah saya juga sangat menginginkan saya kuliah kedokteran ataupun mengeyam pendidikan di fakultas farmasi UGM. Namun dengan tegas saya jelaskan, saya ingin menjadi penyuluh kesehatan. Saya ingin kerja di WHO. Karena disitu panggilan jiwa saya. Dan saya sangat tidak ingin menjadi PNS. Itu prinsip saya.

Saya juga tidak didukung untuk menjadi graphic designer oleh orang tua saya. Saya pun memutar otak bagaimana caranya untuk tetap menggapai apa yang saya mau dan tetap bisa menyenangkan orang tua saya.

Akhirnya saya membujuk orang tua saya untuk kursus design grafis, dan akhirnya diizinkan. Walaupun hanya sekedar kursus, saya cukup puas. Saya bisa mendalami ilmu yang saya mau.

Intinya, kunci dari semua ini adalah komunikasi. Setiap kepala mempunyai pemikiran yang berbeda, mempunyai keinginan yang berbeda. Setiap manusia selalu ingin membahagiakan manusia yang disayanginya. Tidak ingin melihat orang yang disayanginya sengsara, apalagi anaknya. Namun, semua itu adalah bagaimana kita bisa mengutarakan keinginan masing-masing dan berusaha mencari jalan tengah alias win win solution.

Alhamdulillah, pelajaran hari ini dahsyat!

Tidak ada komentar :

Posting Komentar