Kamis, 23 Juli 2009

Hari Anak Indonesia

Standard

Entah karena saya terlalu menjiwai hari anak tahun ini, atau memang saya ditakdirkan untuk belajar mengenai hal ini. Minggu ini, saya banyak sekali belajar tentang ANAK. Memang setahun belakangan ini saya tertarik sekali mempelajari psikologi anak. Saya sudah membaca beberapa buku referensi dan intens meng-update pengetahuan saya tentang psikologi anak ini.

Mungkin beberapa teman saya menertawakan saya mengapa saya sering kali membaca buku tentang pendidikan anak dan sejenisnya. Mereka mengira saya 'ingin cepat-cepat' mempunyai anak, dalam tahap persiapan menjelang menikah (padahal pacar saja saya tidak punya), atau alasan-alasan lain.

Saya tertarik dengan dunia psikologi dan pendidikan anak, karena saya merasa ketika kecil saya tidak tumbuh sebagaimana anak pada umumnya. Perkembangan emosi saya buruk. Saya mempunyai trauma masa kecil yang mendalam. Dan saya tidak merasakan lengkapnya keluarga dan orang tua, saya merasa terabaikan. Butuh kerja keras, dilema, dan perjuangan besar mencapai apa yang saya punya sekarang. Butuh proses keras nan panjang mencapai keseimbangan perkembangan emosi saya sampai detik ini. Karena tak ada yang membimbing saya kecuali Alloh Azza Wa Jalla dan perjalanan hidup ini detik demi detik.

Saya bertekad, saya tidak ingin ada anak yang bersedih seperti saya ketika kecil (apalagi darah daging saya nanti). Saya berpendapat, membentuk seorang anak tak hanya membutuhkan naluri sebagai ibu. Semua hal di dunia ini ada ilmunya. Termasuk mendidik dan membesarkan anak. Dimulai ketika sang anak masih menjadi benih. Sampai akhirnya kita semua akan kembali ke tanah.

Pelajaran minggu ini dimulai ketika saya bertemu dengan ketiga keponakan baru saya, Callista, Dinda & Shaina. Saya mulai belajar menerapkan apa yang pernah saya baca dan saya ketahui. And it works. Subhanallah, tak terlukiskan rasanya ketika mereka menerima saya hadir di tengah mereka, merangkul saya, memeluk saya erat, menunjukkan kebisaan mereka, bercerita tentang sekolah, mengajak saya bercanda, bermain, semuanya sangat menyenangkan.

Keesokan harinya, saya teringat kamis lalu saya baru saja membeli sebuah buku berjudul "Mendidik Anak dengan Cinta". Dan buku itu masih tersimpan rapi di rak buku saya (masih ada plastiknya lho!). Saya mulai membuka lembar-lembar kalam itu. Subhanallah, banyak yang belum saya ketahui. Dan saya ingin terus belajar tentang hal ini.

Dan hari ini saya belajar banyak hal dahsyat. Saya banyak berbincang dengan fisiopedi di rumah sakit tempat saya bekerja, namanya Mas Lucky. Banyak yang kami bicarakan. Saya menanyakan banyak hal tentang Autisme, Down Syndrome, Hiperaktif, Mental Regadration, Disleksia, dll. Lumayan menambah pengetahuan saya selama ini tentang anak-anak berkebutuhan 'khusus'.

Hari ini saya juga diajak untuk berinteraksi dengan anak Down Syndrome. Kebetulan ada satu anak pasien terapi yang datang. Dan saya dijelaskan tentang bagaimana keseharian mereka. Subhanallah, tahukan Anda bahwa mereka sangat terjadwal, teratur, dan disiplin waktu? Mereka tak pernah ingkar dari rutinitasnya. Termasuk jamnya. Jika mereka terbiasa tidur siang pukul 12, maka mereka pasti akan tidur pukul 12. Mereka tidak akan mau minum dengan gelas yang berbeda. Mereka sangat teratur. Dan saya diajarkan bagaimana berbicara dengan mereka. Senang sekali saya ketika sang anak mencium tangan saya, tersenyum, dan mengucapkan "Assalamu'alaikum" walaupun tak terdengar seperti Asslamu'alaikum, lalu ia melambaikan tangannya kepada saya.

Anak kecil selalu jujur. Jika mereka ingin mengungkapkan, mereka akan mengungkapkan apa yang benar-benar ada di benaknya.

Ketika menemani Callista belajar, ia bertanya kepada saya.

Callista : "Tante, sudah punya pasangan belum?"
(yaa.. ini pertanyaan paling menyebalkan untuk saya. Namun saya harus tetap tersenyum)
Widya : "Belum sayang"
Callista : "Kenapa tante?"
Widya : "Kan kata Oppie, Im single and very happy"
Callista : "Sendiri itu kan ga enak tante"
Widya : "umm.."
Callista : "Waktu ayah ke luar kota, bunda uring-uringan. Bunda tersenyum, tapi Bunda senyumnya terpaksa. Aku tahu, sebenarnya Bunda gak bahagia saat itu"

Satu pertanyaan terbesit di hati, "Sudah pantaskah saya mencintai dan dicintai seseorang?"

0 komentar:

Posting Komentar