Selasa, 17 November 2009

SOS :: Soul Of Shopaholic

Soul of Shopaholic.. biasanya saya sebut SOS, karena suatu sinyal jiwa yang tak tertahankan. Hehe..

Menarik untuk disebut SOS, karena :
SOS karena sinyal itu datang ketika stress melanda.
SOS karena harus segera menghilangkan stress itu.
SOS karena demi ketenangan jiwa.
SOS karena bukan sembarangan benda yang dibelanjakan.
SOS karena membutuhkan ketelitian yang tinggi untuk berbelanja.
SOS karena butuh perhitungan tinggi (ini kalau tanggal tua, hihi..)
SOS karena harus tetap on-controlled.
(Pilih satu opsi yang benar, atau menurut saya sih semuanya benar. Ouch!!)

Best point of SOS:
1. Melihat suatu barang dan berkata "Ouch Gosh, lucunyaa"
2. You should compare with another another and another one, or you'll look like a fool
3. Minta pertimbangan teman atau yang lain (tapi bahaya kalau teman anda adalah Ijul atau Lia. Karena mereka akan berkata "ayo, beli aja.. pakai kartu gue dulu deh", jangan ditiru!!)
4. Melirik dompet anda, menghitung apakah cukup untuk anda bertahan sampai akhir bulan. Lebih baik anda mempunyai anggaran khusus untuk berbelanja.
5. Lihat promo, siapa tahu ada diskon
6. Ini nih, the most important point! Lihat di depan toko apakah toko tersebut menyediakan pembayaran dengan kartu atau cash only. Bila cash only, segera cari ATM (apalagi jika anda adalah tipikal saya yang malas membawa cash di dompet). Percaya ga percaya ini penting!! Saya pernah kehilangan kesempatan untuk satu pasang wedges coklat karena hal ini. Hiks..



Belanja itu menyenangkan. Ya.. menyenangkan! Namun mengapa banyak yang memandang sebelah mata dengan kegiatan yang satu ini. Sebagai wanita, wajarlah jika setiap bulan kami belanja (bahkan setiap hari ke warung). Belanja itu menenangkan. Menurut saya, wajarlah jika Rebecca Bloomwood sangat menyukai berbelanja. Namun, saya anti ya jadi Miss Bloomwood yang menghabiskan $200 hanya untuk underwear. Hihi..

Ada berbagai reaksi orang di sekitar saya tentang kebiasaan yang satu ini, ada yang berdecak (ibu saya), ada yang jelas-jelas melarang (Lindra), bahkan ada yang menjadi kompor mledug bagi saya (Ijul dan Lia). Jelas sang 'kompor mledug' lah yang sangat berbahaya. Selalu men-support saya lahir batin untuk berbelanja. Kalau saya lagi kumat isengnya, saya yang berbalik mengompori mereka sampai mereka mau membeli barang itu. Hihi..

Saya akui, saya sudah insaf jadi gila belanja. Tak seperti setahun lalu ketika pertama kali mendapatkan gaji saya secara utuh. Sekarang saya lebih hemat (ingat, tahun depan kuliah!), lebih cermat, lebih teliti (yang penting kualitas, pasti awet). Bukan saatnya belanja dengan gila tanpa perhitungan sabet sana-sini, tapi yang lebih penting adalah tetaplah berbelanja dengan cerdas =)

Inilah yang dinamakan "Soul of Shopaholic".

Tidak ada komentar :

Posting Komentar