Minggu, 05 September 2010

TERBALIK

Standard
Hidup saya seakan berbalik 180 derajat dari setahun yang lalu. Saya memang suka naik roller coaster. Yang ini seribu kali lebih dahsyat dari roller coaster. Hidup saya memang dinamis, dan saya berusaha menerima ini sebagai pelajaran yang diberikan ALLOH.



Setahun yang lalu, umur saya masih 18 tahun dan memiliki gaji diatas UMR. Sungguh bangganya. Bisa belanja bulanan rutin untuk keluarga, kirim uang ke adik, membeli alat elektronik di rumah, mengajak ibu makan di luar. Setidaknya saya bisa membuat orang tua tersenyum akan hasil perjuangan saya.

Namun semua itu tak lepas dari sikap konsumtif saya. Membeli gadget yang saya inginkan, bahkan sampai barang-barang branded. Terutama untuk kosmetik, tas dan high heels. Memang bukan barang branded jutaan, setidaknya satu barang seharga sepersepuluh gaji saya per bulan. Hang out bersama teman, selalu saya lakukan di kafe. Saya tidak suka makan di kaki lima. Makan yoghurt sambil ber-hotspot ria. Mengitari mall-mall di Jakarta. Mengincar sale. Semuanya untuk memuaskan hasrat belanja saya.

Saya pun sadar akan sikap konsumtif saya walaupun tak diliputi hutang (alhamdulillah). Saya mulai berpikir untuk kuliah atau berwira usaha. Akhirnya saya menabung keras untuk membuat usaha.

Kebiasaan makan di kafe mulai berkurang. Berbelanja pun juga. Alhamdulillah Maret 2010 saya mempunyai usaha kaos sablon sendiri. 25% modal dibantu oleh mantan pacar saya. Kami kelola bersama.

Hidup mulai berbalik ketika saya resign dari perusahaan yang kedua dengan gaji yang lebih besar dari perusahaan yang pertama. Saya tidak betah dengan pola kerja disana, akhirnya memutuskan resign dengan alasan ingin konsentrasi kuliah.

Hidup dengan kebutuhan tinggi dan sama sekali tidak meminta-minta kepada orang tua. Saya pun juga merayakan ultah ke-19 dengan jerih payah sendiri. Namun ALLOH berkehendak lain, bisnis saya pun ditimpa masalah dengan piutang tertahan yang cukup besar. Mulailah morat marit.

Saya memulai kerja di perusahaan baru yang lebih kecil. Sampai detik ini saya masih berusaha memulai (alias belum mendapatkan hasilnya) hehe.. Namun saya sangat bersyukur terdampar disana. Suasana kerja yang nyaman dan penuh semangat. Ini salah satu hikmah dan pelajaran dari ALLOH.

Sekarang saya berhenti menjadi miss branded. High heels dan tas bermerk saya simpan baik-baik. Saya hanya makan warteg dan kaki lima. Untuk perawatan wajahpun tidak lagi memakai krim yang dianjurkan dokter. Sampai membeli pembersih wajah, saya hanya bisa membeli yang paling murah karena tak tersisa lagi rupiah.

Ironisnya, ketika saya sedang dalam keadaan terpuruk seperti ini ada saja orang yang menjauhkan kita. Atau orang yang dulu mengelu-elukan atas apa yang kita dapatkan, sekarang mereka hanya mengeluh ketika dimintai tolong untuk meminjamkan uang 10ribu rupiah yang akan saya gunakan untuk membeli bensin. Seandainya motor saya berbahan bakar air, mungkin saya tidak akan kelimpungan begini. hehehe...

Saya tidak boleh menyerah. TIDAK BOLEH dan TIDAK AKAN. Masih banyak 1000 pintu rezeki yang terbuka.

Rupiah memang penting tapi bukan segalanya. Survive, Widya!!

2 komentar: