Jumat, 20 Mei 2011

Kuliah Bersama Guru Besar UI

Rabu (11/5) mahasiswa Fakultas Komunikasi Sastra & Bahasa Universitas Islam 45 mengikuti kuliah umum. Judul kuliah umunya sih, agak 'menjelimet' dan bikin otak mumet. hehehe.. Judulnya "Trend Terkini Metodologi Penelitian Sosial dalam Kajian Critical Discourses Analysis" (bacanya sambil nahan napas), diisi oleh guru besar komunikasi Universitas Indonesia, Prof. DR. Ibnu Hamad. Kuliah umum ini diikuti oleh seluruh mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi dan Sastra Inggris UNISMA Bekasi. Kuliah umum ini diadakan di Aula FISIP - Gedung B 102 UNISMA.

Kuliah Umum bersama Prof. DR. Ibnu Hamad


Saya awalnya sangat bersemangat mengikuti kuliah ini. Awalnya hanya tahu kita akan mengkaji teori kritis. Tapi ketika melihat plotter di depan aula, otot mata ini rasanya agak sedikit berkontraksi, berhubung harus membaca tema kuliah umum dari ujung kiri ke ujung kanan (ditambah tidak mengerti maknanya).

Well, 1 jam pertama saya masih semangat. Saya kira akan sangat menyenangkan membahas teori kritis. Ternyata yang disampaikan oleh Prof Ibnu Hamad hanya paparan metode-metode penelitan yang terkini. Beliau menjelaskan tentang evolusi teori-teori komunikasi dari tahun 1978 oleh Fisher, sampai pengembangannya pada tahun 2007 oleh Robert Craig.
Kami mempelajari tentang 7 tradisi teori komunikasi (Craig : 2007), diantaranya
1. tradisi sosio psikologis
2. tradisi retorika
3. tradisi semiotika
4. tradisi fenomenologi
5. tradisi sibernetika
6. tradisi sosio kultural
7. tradisi kritikal --> harusnya spesifik membahas ini, kalau saya lihat dari judulnya.


Selain itu, kami juga diberi sedikit penjelasan tentang 8 metode penelitian kualitatif dan kunci-kunci untuk memahaminya (kalau kata Prof Ibnu Hamad sih, 'dalil'nya).

Agak sedikit kecewa, karena Prof. Ibnu Hamad tidak banyak berbicara tentang CDA (Critical Discourses Analysis) dan beliau belum bisa menjawab pertanyaan saya dengan jelas. Saya bertanya, bagaimana kita bisa menggunakan teori kritis dalam mencerna informasi (berhubung saat ini masyarakat Indonesia belum 'cerdas' menanggapi berita). Jawaban beliau terlalu terpaku dengan teori, tanpa menjelaskan aplikasi nyata di masyarakat dan dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh orang yang 'non-komunikasi' (mengingat saat itu ada jurusan Sastra Inggris juga).

Tapi ada positifnya juga saya mengikuti kegiatan kuliah umum ini. Saya jadi 'melek' metode penelitian, dan mungkin memberikan sedikit gambaran bagi saya ketika menyusun sebuah karya ilmiah.

Selain itu, saya menjadi mengerti efek komunikasi antarpribadi. Tiga bulan lebih saya kuliah komunikasi antar pribadi, namun tak dapat 'intinya' sama sekali (atau mungkin saya yang bodoh dan malas, hehe..). Namun lewat kuliah ini saya mengerti pengaplikasian teori komunikasi antarpribadi.

Ketika Prof Ibnu Hamad menjelaskan sesuatu, saya kurang begitu mengerti. Padahal saya sudah berusaha memberikan atensi sebaik mungkin. Namun ketika dosen saya, Pak Idham Holik, menjelaskan sesuatu saya lebih bisa menangkap intinya. Disini faktor proximity ternyata berpengaruh juga dalam efektifitas komunikasi.

Prof. DR. Ibnu Hamad bersama Dekan FKSB Unisma, DR. Jarot Prianggono


Wah, senangnya dapat pengalaman baru. Semoga ada kuliah-kuliah umum selanjutnya. Semoga universitas saya selalu dapat memfasilitasi mahasiswanya dalam belajar dengan baik. Semoga saya kelak menjadi komunikolog dan public relations yang kompeten. Amin ^_^

Tidak ada komentar :

Posting Komentar