Rabu, 09 Mei 2012

Energi itu Kekal!

Standard
Tiba-tiba jadi teringat salah satu bab di buku "Terapi Berpikir Positif" Ibrahim Elfiky. Ia mengulas tentang Hukum Kekekalan Energi karya Albert Einstein. Einstein menyatakan bahwa energi itu tidak bisa dimusnahkan, namun hanya berubah bentuk dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Sekarang saya percaya teori ini.

Setelah lebih dari satu tahun lumayan vakum di dunia relawan, akhirnya saya memutuskan dan merasa siap untuk kembali ke sana. Beberapa ilmu yang saya dapat ketika kuliah dan di luar perkuliahan membimbing saya agar bisa tetap fokus pada tujuan. As you know like what I've written before, saya ingin menjadi bagian di UNICEF. And I will. Itu alasannya mengapa saya memutuskan dan siap untuk kembali.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap hari Minggu saya khususkan waktu saya untuk adik-adik di Rumah Singgah Balarenik, Cakung - Jakarta Timur. Saya korbankan waktu bersama pacar atau keluarga selama beberapa jam hanya untuk mereka. It's fun!

Mewarnai Angry Birds (22/4)

Namun Minggu (6/5) berbeda, sungguh berbeda. Seusai belajar dan bermain bersama adik-adik, saya dan Yogi (relawan lain yang mengajar bersama dengan saya) dikenalkan oleh calon relawan baru yang ingin ikut bergabung dengan kami. Namanya Danti dan Yeyen dari Jurusan Pendidikan Matematika Unindra, Jakarta. Akhirnya kami dan Kak Agus (pendiri Yayasan Balarenik) dan Mpok Sulis (guru PAUD Balarenik) berbincang bersama. Mereka mengajak kami ke Balarenik di wilayah Cakung dan memperkenalkan wilayah calon binaan Balarenik di kawasan pemukiman pemulung di PIK Pulo Gadung.

Saya pikir, jalan-jalan ke sana sini. "Wah, menyenangkan!". Saya justru super kelelahan. Saya mencoba menganalisis mengapa saya kelelahan. Rasa lelah yang teramat sangat ini bukan karena fisik, namun juga psikis saya yang lelah.

KEJADIAN #1
Baru saja sampai di Cakung, kami serombongan berhenti di lampu merah Cacing (Cakung Cilincing). Disana kami berinteraksi dengan keluarga-keluarga dan anak-anak binaan Balarenik Cakung. Pemandangan yang tak biasa bagi saya. Kulit mereka terbakar matahari, lelah dan keringat namun bercampur dalam suasana keakraban yang kental. Kami semua duduk bersama dan berbincang santai.

"Kak Widya, silakan duduk" ujar salah satu ibu-ibu disana.

Saya pun duduk di bale kayu sendirian. Tiba-tiba sesosok mata memandang saya lekat. 

"Hai, kesini dik! Siapa namamu?". Anak itu menghampiri saya namun wajahnya datar dan tak menjawab.

"Namanya Arya, Kak! Dia emang gak bisa ngomong" ujar ibu-ibu tadi.

Astaghfirulloh... hati saya seperti ditonjok. Arya tidak terlihat cacat, ia rupawan, matanya berbinar. Walau saya tahu ia tidak bisa berbicara, namun saya tetap mengajaknya berkomunikasi verbal.

"Arya sini, duduk samping kakak"

Arya menghampiri dan segera duduk di samping saya. Bocah berumur sekitar 7 tahun itu segera mencari posisi duduk dengan sigap dan menempel manja dengan saya. Saya terus merangkul dan mengelus-elus badan dan kepalanya. Ya Alloh, perih sekali hati ini...

KEJADIAN #2
"Wid, ayo kita jenguk Devi. Dia baru pulang dari rumah sakit. Rumahnya deket kok, dari sini" ajak Mpok Sulis. Devi adalah salah satu anak binaan Balarenik Cakung. Saya cukup mengenalnya karena ia sering kali mewakili Balarenik dalam kontes menyanyi. Suaranya bagus, wajahnya ayu ceria.

Kedua kalinya saya tertohok. Saya pikir sakit apa, ternyata Devi sedang menjalani kemoterapi pertama. Ia menderita tumor di perutnya. Ia pun masih harus menjalani lima tahap kemoterapi selanjutnya.

Rumah Devi terletak di pemukiman padat penduduk. Gangnya kecil dan rumahnya rapat-rapat. Devi dan keluarganya tinggal di sebuah kontrakan petak, mungkin ukurannya lebih kecil dari kamarku. Langit-langitnya pendek dan menciptakan hawa panas. Kombinasi sempurna jika kita sakit dan berada di dalam ruangan tersebut. 

"Kak, sini kak.. Devi sakit, perut Devi panas. Devi gak kuat.."

Begitulah ucapan Devi ketika kami baru saja sampai di pintu rumah. Ia menangis sambil terus memegangi perutnya. Wajahnya sungguh tirus dan terkesan jauh lebih tua dari usianya yang masih menempuh sekolah menangah kejuruan. Badannya hanya tinggal tulang, kurus sekali. Wajahnya pucat, berhiaskan air mata. Astaghfirulloh... Saya tak kuat mengingatnya.

Hawa negatif begitu terasa di ruangan sempit itu, dan berhasil masuk dan menyerap ke dalam badan saya. Dengan seksama saya membiarkan energi negatif menyerang tubuh dengan dahsyatnya. Ditambah seisi ruangan ikut bersedih dan menangis.

KEJADIAN #3
Tak sampai disitu, kami melanjutkan perjalanan ke pemukiman pemulung di PIK Pulo Gadung. Rencananya, mulai tanggal 20 Mei 2012, wilayah tersebut akan menjadi binaan Balarenik. Beberapa anak-anak disana akan mendapatkan beasiswa dan juga diberikan akses pendidikan yang lebih baik. Balarenik juga mengadakan kegiatan pengajian untuk anak-anak disana.

Seperti sedikit mengobati kelelahanku, anak-anak disana dengan riang menyambut kakak-kakak yang berkunjung. Senyum mereka sungguh kekuatan besar. What a magic smile! Namun saya tetap merasa lemas teramat sangat. Lihatlah keadaan lingkungannya. 

Kondisi Pemukiman Pemulung PIK Pulo Gadung

Berpose di depan Mushola warga

Bayangkan, bermain dan dibawahnya tumpukan sampah seperti ini?

Tumpukan sampah dimana-mana, debu dan bau tak terelakkan lagi. Tanah mereka tertutup dengan material-material sampah yang bermacam-macam. Jembatan pun tak ada, hanya beralaskan kayu yang rapuh (sukses membuatku berdzikir ketika motorku melintasinya). 

Saya tak dapat membayangkan bagaimana mereka hidup disana, bermain dimana, belajar bagaimana agar bisa berkonsentrasi? Saya bagaikan tertampar dengan seluruh fasilitas yang bisa saya raih dan orang tua persiapkan untuk saya. Dengan keadaan seperti itu, malaikat-malaikat kecil itu tetap bisa tersenyum riang. 


............
Dosen Psikologi saya, Ibu Agustina Ekasari, beliau mengatakan 

"Sulitnya menjadi psikolog adalah ketika kita harus bertemu orang-orang yang membawa energi negatif begitu besar. Menumpahkan semuanya kepada kita. Bayangkan jika kita tidak sedang dalam keadaan baik dan fit, maka energi negatif itu akan menyergap tubuh kita. Dan akhirnya kita juga akan 'tertular' negatif"

Wow, sama persis seperti isi buku Elfiky. Kelelahan berat yang saya alami karena saya kehabisan energi positif dari tubuh saya, dan sukses dimasuki energi-energi negatif dari lingkungan. Pelajaran penting bagi saya untuk selalu mempersiapkan diri apalagi ketika saya menjadi bagian dari UNICEF. Namun saya percaya, senyum anak-anak itu akan selalu menjadi kekuatan besar bagi saya.

Namun harusnya saya juga berfikir lebih jauh daripada rasa lelah saya..

APA YANG BISA SAYA LAKUKAN UNTUK MEREKA? 
untuk Arya, Devi, atau Anak-anak di PIK Pulo Gadung

APA?

Bantu saya berpikir, yuk...

NB : Spread your positive energy, and your environment will be positive too ;)

0 komentar:

Posting Komentar