Sabtu, 01 Juni 2013

Indonesia Youth Forum 2013 : Balada Delegates #salahfokus



Hampir seminggu Indonesia Youth Forum 2013 berakhir, huhuhu... *pijet jempol*bikin live-tweet capek ya*. Ya-gitu-deh bikin live-tweet terus selama empat hari sukses melenyapkan niat nge-blog saya. Alhamdulillah, setelah ilham datang (siapa tuh, wid?) akhirnya mau menulis juga.

Eits, tapi saya gak akan menulis tentang kegiatan IYF hari pertama sampai ke-empat! Kalau mau baca itu, silakan cek di blog teman saya yang lain. Nanti saya bikin daftar link-nya. Bisa juga saya sematkan kliping live-tweetnya dalam satu posting. Kenapa saya gak mau nulis kegiatannya? Ada dua sih, alasannya.. Satu, normatif. Dua, ngebosenin. Hehehee...
Saya saat menjadi Delegasi Indonesia Youth Forum

Selama IYF saya sangat menikmati. Sedih, senang, ribet, panik, deg-degan, ngantuk, bersemangat, kenyang, laper, wah... semuanya deh! Dari awal seleksi, wawancara, mengerjakan tugas delegates, sampai berangkat ke Bandung dan pulang lagi ke Bekasi semuanya berkesan. Satu hal juga yang sangat berkesan adalah bertemu sahabat baru dari Bandung, namanya Sindy.

Sindy (kanan) yang gak ada keturunan Cina,
tapi wajahnya oriental banget. Ajaib!

Saya dan Sindy itu satu kamar. Awal saya kenal Sindy itu horor. Ya-gimana-gak horor, saya datang di kamar paling pertama pukul 10.30. Tiba-tiba sudah ada koper di dalam. Saya bingung, karena sampai setelah makan siang sang pemilik koper itu belum juga datang. Baru jam 13.00 ada cewek ketok-ketok kamar dan ternyata itu yang 'empunya' koper, Sindy. Hampir aja saya bikin drama 'Hantu Koper Kosong'.

"Sin, kok kopermu sudah nyampe duluan? Gimana caranya?" tanya saya.
"Tadi pagi gue ke sini naruh koper, terus ke kampus ada ujian. Baru deh kelar ujian ke wisma lagi" jawabnya.

Meski baru kenal, saya dan Sindy sudah banyak jodohnya. Mulai dari satu kamar, satu bus, satu room coaching clinic, satu zodiak, satu selera film sama musik, dan satu hati buat melakukan kebodoran. Dibandingkan bertemu dengan CEO, pejabat, atau Pak Menteri, bertemu Sindy jauh lebih berkesan dan kocak.


H1
Hari pertama, kita masih malu-malu kucing. Masih kenalan datar gitu, mulai tukar cerita satu sama lain. Cerita tentang kampus, studi, daerah asal, sudah belajar ke mana saja, yah.. pokoknya standar lah! Kita pergi pakai baju adat ke Gedung Merdeka untuk Opening Ceremony dan Festival Kebangkitan Nasional. Sindy pakai kebaya, saya pakai baju Encim dari Bekasi. Yang paling repot adalah... harus bertarung dengan kain sendiri. Sindy gak bisa jongkok karena kainnya menyempit di bagian bawah kaki, dan saya repot banget saat mau pipis karena pakai kain dan korset.

H2
Kekacauan mulai di hari kedua saat coaching clinic. Saya dan Sindy mengambil room yang sama, Creative Writing (kalau kata coach-nya Creative WriTHINK) bersama Mas Fahd Djibran. Saya sempat mengetahui Mas Fahd saat ia mengisi materi di Writinc, kalau Sindy belum tahu. Mungkin karena pesonanya Mas Fahd yang awur-awuran, Sindy pun kena ranjau kekagumannya. Sindy spontan berkata pelan, "Ya ampun, Wid.. Gemes bangetttttt!!!". Coba saya sempat foto ekspresi muka Sindy saat coaching clinic, ya.. Hahaha..

Mas Fahd Djibran yang bikin Sindy gemes

Tapi ekspresi itu berubah saat Mas Fahd bilang dia sudah menikah. "Ouch, he's married guy.." ledek saya kepada Sindy.

Siang harinya, delegasi berpindah tempat di Gedung Merdeka, delegasi mengikuti kegiatan bertemu dengan CEO Jamsostek dan Adik Ahok Bupati Belitung Timur. Saya dan Sindy sigap duduk di belakang. Kenapa? Karena pasti ngantuk, Ternyata prediksi kami tepat. Beberapa delegates yang ngantuk di barisan depan pun kena tegur Pak Basuri Tjahja Purnama (adik Ahok). Saya dan Sindy tetap kalem duduk di belakang sambil ngemil cimol hasil petualangan kami saat break sholat. Em, padahal di aula tersebut gak boleh makan dan minum loh! Hehehe...

Malamnya kami galau karena rambut sudah harus dicuci karena aktivitas penuh selama dua hari, tapi boro-boro sempat mandi saat malam. Baru sampai di wisma jam 21.00, kami harus mengikuti focus group discussion jam 21.30. "Bodo amat telat, pokoknya keramas!" ujar saya keras kepala. Benar saja, kami (ditambah Tiara) telat ke FDG. Udah buru-buru dengan rambut basah (dan kedinginan pula), ternyata yang lain juga telat. Haseum.. haseum..

H3
Kalau hari pertama masih jaim, hari kedua mulai keliatan aslinya, hari ketiga jadi bodor banget. Hari ini kami meresmikan diri sebagai Partner in Crime. Petualangan Hari ke-3 IYF kami dimulai ke Babakan Siliwangi lanjut jamuan makan siang di Gedung Bank Indonesia Bandung. Kami sudah pakai kemeja dan celana formil rapi. Ternyata kami harus tracking jalur Basil. Dengan rok berlumuran cipratan tanah, saya meringis-mirings gak menikmati hari. Sindy rewel karena dia pakai flat shoes.

Abis tracking. Muka gak enjoy dan ngidam cilok

"Harusnya bilang ya, kalau mau tracking gini. Kan, bisa pakai sepatu kets" keluhnya. Tambah kesel lagi, ternyata siangnya kami gak jadi jamuan makan. Fix, hari itu kami salah kostum.

Makan siang berlangsung seperti dua hari biasanya. Kami mendapat nasi box berlabel "Bumbu Desa". Asyik sih, hari pertama saja. Tapi bayangkan kalau kamu dapat menu makan siang dan makan malam sama selama satu hari dan semua lauknya ayam selama tiga hari? Huahahahaha... Tidak bergairah :'(

Makanan kita, siang dan malam


"Asli Wid, nanti malam kita cari makanan di Wisma. Gak ada toleransi lagi nih makan Bumbu Desa terus" keluh Sindy. Saya pun makin komporin Sindy buat cari makanan nanti malam.

Saat materi kami kelaparan tingkat dewa, kahyangan, nirwana, apalah itu.. Judulnya laper banget. Biskuit yang dibawa di tas sudah habis. Satu-satunya harapan adalah snack di sofa pembicara yang tidak habis. Tebak.. apa yang kami lakukan? Ya, kami nekat makan snack itu. Lumayan ganjel perut :p

Malamnya, kami makan Bumbu Desa (lagi). Memang benar kata Sindy, kali ini perut gak bisa mentoleransi lagi. Saya cuma makan sedikit ayamnya, terus berhenti makan. Beruntung sekali kami, malam itu para delegasi dijamu Bajigur, Pukis, Cilok, dan Lumpiah Basah secara gratis!

Halaman Gedung Indonesia Menggugat, tempat jajanan gratis
bagi para delegates

Perut saya dan Sindy yang sudah barbar gak sabar lagi makan cemilan gratis itu. Tapi... ngatrinya penuh banget! Kami sepakat berkolaborasi, misinya mendapatkan makanan banyak. Saya ngantri cilok, Sindy ngantri lumpiah. Sukses, kami dapat dua makanan dalam satu waktu. Saat kami sudah selesai makan, banyak delegasi yang masih mengambil makanan pertama. Ya sudah, kami ikutan antri lagi! Alhamdulillah, berkat modus Sindy ke delegasi cowok lain, dia berhasil mendapat satu porsi lumpiah lagi TANPA ANTRI LAMA. LANGSUNG DIKASIH. GILA!!!

H4
Hari terakhir di IYF masih dipenuhi cerita seru dan haru. Pagi-pagi kami sudah siap ke CFD Dago untuk pawai, flashmob, dan membagikan 1000 gelas susu. Saya yang baru pertama kali ke CFD Dago norak-norak gembira gitu. Jajanannya murah, banyak yang unjuk kreativitas juga. Seru deh!

Kriminal kami saat membagikan 1000 gelas susu adalah gak mau bagikan susu banyak-banyak. Soalnya, kami mau jajan sosis bakar. Eh, saya sih yang kepengen banget! Bukannya bagikan susu lagi habis jajan, Sindy malah menemani saya belanja oleh-oleh..

Mau flashmob


Sedih, saat Closing Ceremony di Hotel Savoy Homann dan menyadari saya akan berpisah dengan seluruh delegasi di sini, terutama Sindy. Alhamdulillah sertifikat IYF pun di tangan tanda kami telah menyelesaikan seluruh kegiatan dengan tertib. Ya Alhamdulillah sih, dibilang tertib :D

Akhirnya.....

IYF begitu berkesan.. Karena saya dan Sindy selalu #salahfokus saat mengikuti kegiatan. Eh tapi tenang, tetap memperhatikan kok.. Cuma kalian gak tau aja apa yang ada di otak kami dan kami bicarakan.

Beruntungnya, Sindy bukan delegasi dari luar Jawa. Rumahnya di Jakarta, dia lagi liburan di rumahnya, dan bulan ini kami sama-sama ulang tahun. Bakal ada kebodoran dan #salahfokus apa lagi ya kita?




Tidak ada komentar :

Posting Komentar