Minggu, 22 Juni 2014

Belajar dari Kekalahan Spanyol

Standard
Tahun 2014 ini menjadi perhelatan piala dunia yang pahit buat Spanyol. La Furia Roja harus menanggung kekalahan dalam dua laga pertamanya melawan Belanda dan Chili. Sebagai pendukung setia La Roja, saya sedih dong (pasti). Apalagi lihat Gerard Pique hanya duduk termangu di bangku cadangan pada laga versus Chili. Huhuhu….. bawaannya Shakira mau pukpuk aja *okeskip*

Saat gawang Casillas dijebol oleh Vargas (Spain vs Chili, World Cup 2014)
Sumber : o.canada.com


 Dulu saya juga suka mem-bully tim sepak bola yang kalah, misalnya “hahahaa mampus Itali kalah”, “lagian pendukung Inggris sombong-sombong sih, giliran kalah aja kicep”, dan sebagainya. Jahat ya, mulutnya… Hehehehe… Biarkan, namanya juga pernah muda, pernah alay, ya memang begitu :D

Saat kalah di piala konfederasi tahun 2013 saya kesal sekali, kalah di laga final lawan Brazil. Itu pun lebih kesel lagi karena Sergio Ramos ga masuk pinaltinya. Hehehe… Tapi di situ saya mulai belajar menerima kekalahan Spanyol setelah era kejayaannya selama lima tahun terakhir ini. Hemm… walau masih kesel.

Time flies and says I have to learn more. Saya mengerti sekarang bagaimana perasaan para pemain sepak bola. Saya belajar saat Mas mengalami kekalahan pada laga semi-final turnamen tarkam-nya.

“Mas kalah, dy… Adu pinalti” ujarnya lemas.

“Itu berarti tim Mas mainnya sudah bagus. Tinggal keberuntungan dari Alloh pas pinalti”

“Bukan begitu, dy… Banyak orang yang datang dukung tim Mas, terus kalah. Rasanya kecewa banget”


Begitu lah, bukan masalah bola yang gagal masuk ke dalam gawang. Tapi bagaimana membuat bangga banyak orang yang sudah berekspektasi tinggi terhadap penampilan kita, dan sulitnya untuk memprediksi kondisi di lapangan kemudian. Pilihan pemain saat masuk ke lapangan cuma dua, menang dibanggakan atau kalah di-bully, menurut saya gak ada kemungkinan tengahnya. Pasti di-bully, paling enggak sama tim lawan. Semenjak itu, saya gak mau mem-bully tim lawan yang kalah lagi.

Huft… pasti berat ya, beban yang dipikul timnas Spanyol. Saya sih, tetap setia dukung mereka. Gelar juara piala eropa dan dunia dari 2008 sampai 2012 berturut-turut sudah membuktikan La Roja memang tim hebat. Mungkin skuad sudah lelah, saatnya berganti generasi. Ya… secara Casillas sudah tua, Puyol gantung sepatu, Iniesta tambah botak, dan Pique sudah jadi ayah. Hiks :(

Quote terakhir yang jadi esensinya dan sangat penting adalah….

Karena lelaki sejati bermain sepak bola 

:D

2 komentar: