Selasa, 08 Juli 2014

Pejuang Baju Pengantin Bekasi

Standard
Dear gaes... Bagaimana puasa Ramadhannya? Sembari ngabuburit, saya berusaha menulis pengalaman saya hari ini di blog.

Tadi pagi saya seperti biasa menjadi MC panggilan kampus. Kali ini saya membawakan acara Beauty & Hijab Class di Fakultas Komunikasi Sastra dan Bahasa (FKSB). Namun herannya, audiens-nya kok mayoritas mahasiswa Fakultas Agama Islam (FAI) ya? Hehehehe... Jadi malu, padahal penyelenggaranya fakultas saya sendiri.

Ternyata hari ini saya dipertemukan Alloh dengan Bu Nurhaeti, salah satu pemateri dalam Beauty Class tersebut. Bu Nurhaeti mewakili Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Ulumul Qur'an di Tambun Selatan Kabupaten Bekasi. Selain itu, Bu Nurhaeti juga menjadi pemilik Griya Rias Ulumul Qur'an dan ketua Asosiasi Perias Kabupaten Bekasi. Usianya setengah abad, namun tetap cantik, enerjik, dan segar.

Awalnya saya tertarik mengobrol dengan beliau karena ingin mengikuti kursus menghias seserahan yang diadakan LKP Ulumul Qur'an. Setelah bertukar kartu nama, pembicaraan kami semakin seru dan semakin seru.

Sampai akhirnya Bu Nurhaeti bercerita :

"Bekasi ini seperti kehilangan identitas. Kita sebenarnya punya budaya, tapi orang-orang tidak tahu. Orang Bekasinya pun belum tentu peduli.." ujar Bu Nurhaeti.

"Saya termotivasi dari teman-teman perias (pengantin) di daerah lain. Di sana mereka punya baju adat wilayah masing-masing. Masa' Bekasi gak punya? Akhirnya saya meneliti selama setahun. Saya cari, saya temui perias-perias asli Bekasi, ada di Cibitung, Mustika Jaya, dan Pabayuran. Ternyata pengantin Bekasi itu cantik sekali. Di sana saya temukan aksesoris pengantin asli perak dari tahun 1920-an. Saya bawa aksesoris itu untuk direplika. Karena yang asli tetap dipegang ahli warisnya.." sambung ibu delapan orang anak yang kerap kali menjadi juri di Abang Mpok Kota dan Kabupaten Bekasi ini.

"Setelah saya mengumpulkan hasil penelitian saya, saya berusaha sosialisasikan ke pemerintahan. Setiap ada kesempatan saya sosialisasi, tidak dibayar oleh siapapun. Tahun 2004 saya mulai menyosialisasikan baju pengantin Bekasi ini agar diakui pemerintah. Berbulan-bulan terkatung-katung. Akhirnya tahun 2007, baju pengantin Bekasi ini berhasil dikukuhkan Dinas Pariwisata Kabupaten Bekasi" tuturnya penuh semangat.


Wah, spontan saya kagum sekali dengan Bu Nurhaeti. Hatinya tulus mengabdi untuk budaya Bekasi. Sejak disahkan tahun 2007 pun saya belum pernah melihat wujud rupa pengantin adat Bekasi itu seperti apa. Habis kebanyakan pengantin pakai adat Jawa atau nasional, sih... Hehehe...

By the way, gak lupa minta foto bareng sama Bu Nurhaeti. Hahaha :D

Bu Nurhaeti (kiri) dan saya (kanan) berfoto di sela obrolan


Oke oke, saya belum bisa pasang foto baju pengantin Bekasi di sini. Nanti saya minta dulu ke beliau yaa... Oh iya, kalau mau rias pengantin, beliau recommended sepertinya. Secara setiap tahun beliau yang mendandani busana dan rias Abang Mpok Kota/Kabupaten Bekasi.

Selamat ngabuburit, gaes... Jangan lupa minum Mastin saat berbuka dan sahur ;)

2 komentar:

  1. Balasan
    1. Terima kasih... mohon bantu share yaa.. supaya teman-teman juga melek budaya Bekasi :)

      Hapus