Sabtu, 20 September 2014

Anak IPA Pintar, Anak IPS Bodoh

Standard
"Intan, cita-cita Intan mau jadi apa?" 

"Aku masih bingung, Mba.. Aku suka pelajaran IPS, nilaiku juga bagus-bagus di situ. Tapi aku takut masuk IPS, katanya anak IPS itu bodoh"


Begitu lah sekilas percakapan saya dengan Intan (sepupu) saat jalan-jalan bersama di akhir pekan yang lalu. Intan masih duduk di kelas 1 SMP Negeri 1 Bekasi. Anaknya mungil, pecicilan, kritis. Walaupun baru kelas satu SMP, tutur katanya rapih dan enak didengar.

Marah? Eits, jelas... Saya salah satu orang yang menentang keras pemikiran kuno ini. Stereotipe anak IPA - IPS ini sangat menggelitik pemikiran saya, karena saya pernah mengalami keduanya.

Mau jadi anak IPA atau IPS hayo?

Meski terlahir dengan sifat keluarga yang saklek (apalagi bapak), saya memang kerap memberontak dari kecil. Bapak memiliki latar belakang pendidikan teknik, saya dapat katakan he is a genious one. Penelitiannya mengenai termodinamika gak main-main, bahkan pernah mendapat penghargaan dari Pak BJ Habibie saat berkunjung ke IKIP Semarang di akhir tahun 80-an. 

Waktu kecil saya sering diomeli kalau nilai matematika saya jelek, kemudian saya diajari sampai malam dan menangis karena ngantuk. Ah, walau begitu saya tetap mencintai Bapak. Hehehe... Lama kelamaan saya jadi terbiasa dengan hitungan, belum lagi saya dileskan aritmatika saat SD, mau tidak mau kemampuan berhitung pun juga terasah.

Berbeda dengan Bapak, Ibu adalah lulusan Administrasi Perkantoran IKIP Semarang. Saat lulus SMP saya 'dikompori' masuk ke sekolah farmasi. Ibu bilang, farmasi adalah cita-citanya waktu kecil namun belum tercapai sehingga ibu berharap saya yang bisa mewujudkannya. Saya sekolah di farmasi dengan baik bohong deeh, padahal bandel.  

Perdebatan besar dalam keluarga mulai terjadi saat saya lulus SMA. Ayah bersikeras saya meneruskan pendidikan ke kedokteran, ibu bersikeras saya meneruskan farmasi. Saya sendiri ingin kuliah komunikasi. Saat itu kedua orang tua sempat marah dan saya pun akhirnya berusaha membiayai kuliah dan uang jajan sendiri.

Tak dipungkiri, keluarga saya juga masih memandang anak IPA itu lebih 'wah', dan IPS itu cuma buat anak-anak yang gak bisa masuk IPA..... dan bodoh.

Bukan hal mudah membuat orang tua menerima saya berkuliah di bidang sosial. Butuh sekitar 3 tahun hingga saya berhasil meraih mahasiswa berprestasi tingkat universitas (in other words bisa mengalahkan anak teknik dan anak pertanian di kampus hehehe). Berbagi jurus lobi dari jurus sailormoon sampai kamehameha sudah dilancarkan. Saya pun berusaha bukan main menunjukkan bahwa saya cocok di komunikasi, saya punya passion dan punya peluang besar di bidang ini.

Berhasil kah, Widy? Alhamdulillah, Ibu dan Bapak sudah tidak punya stigma IPA-IPS lagi. Apalagi Ibu, beliau mempersilakan anak-anaknya menggeluti pendidikan tinggi di bidang yang disukai. Mau IPA dan IPS pun tak apa. Adik saya yang tengah telah berkuliah di Pendidikan Olahraga di Universitas Negeri Semarang. Sedangkan adik saya yang bontot saat ini duduk di kelas 3 SMA dan mempersiapkan mimpinya menuju jurusan Geologi atau Fisika di beberapa universitas negeri.

Kembali lagi ke Intan... Setelah mendengar perkataan Intan yang takut menjadi anak IPS, saya memberikan sedikit penjelasan...

"Gak ada jurusan pintar atau jurusan bodoh, Ntan... Yang pasti, Intan harus belajar yang Intan sukai. Kalau Intan suka pelajarannya kan, jadi lebih mudah..

Kata siapa anak IPS bodoh? Coba Intan lihat sarjana hukum yang jadi pengacara, sarjana hubungan internasional yang jadi diplomat Indonesia ke luar negeri. Mereka gak bodoh, pintar banget malah.. Bisa ketemu orang-orang hebat, bisa ngomong banyak bahasa.

Mau anak IPA atau IPS, kalau Intan suka.. Intan ikhlas.. Nanti Intan bakal jadi yang terbaik di sana"


:)




14 komentar:

  1. Setuju, mak!
    Aku dulu juga sempat terjebak di dikotomi plus stereotipe itu sih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Generasi 80-90-an pasti pernah ngalamin ini yaah :D
      Hehehe.... yg pasti jadi pelajaran untuk kita dan generasi kita mendatang

      Hapus
  2. lulusan UNNES juga ya mak? *pamer almamater kuning :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku Unisma... Kalau UNNES itu bapak, ibu, sama adikku yang tengah heheehhe #KeluargaUnnes :D

      Hapus
  3. iya mak, dulu aku pengen masuk bahasa, tapi sama orang rumah suruh masuk IPA krn kalo IPA lebih fleksibel. Nanti mau jurusan apa aja pas kuliah bisa. Kalo IPS & Bahasa, pilihannya terbatas itu2 aja (malah curcol. haha)
    Tapi, ternyata waktu membuktikan kalo apapun jurusan kita, kita bisa sukses kok.
    Teman saya dari IPS kini kerja & mendapatkan posisi yg bagus di OJK.
    Teman saya dari Bahasa, skrg sdg meraih gelar doktornya di Netherland.
    Teman saya dari IPA, skrg jadi dokter muda yg mumpuni.
    Semua tergantung diri kita sendiri ya mak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mak... mau belajar apapun dimanapun, kalau memang kita suka pasti menyenangkan dan bisa berkembang :)

      Hapus
    2. betul
      orang bilang anak ips bodoh tapi
      anak ips banyak memiliki perusahaan
      sedangkan anak ipa jadi karyawanya

      Hapus
    3. betul
      orang bilang anak ips bodoh tapi
      anak ips banyak memiliki perusahaan
      sedangkan anak ipa jadi karyawanya

      Hapus
  4. IPA atau IPS sama aja , ga ada yang pintar atau bodoh. tergantung orangnya masing-masing. btw aku IPA tp juga ga paham Fisika kimia hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku anak farmasi juga nilai fisikanya jelek terus gak pernah dapet 7 hahahahaa :))

      Hapus
  5. betul banget. ilmu sumbernya hanya satu. yang mengkotak kotakkan adalah manusia itu sendiri.

    BalasHapus
  6. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  7. anak ips bisa dan anak ips gak akan kalah dengan anak ipa

    BalasHapus