Rabu, 17 Desember 2014

10 Tahun Berjilbab : Bermacam Gaya, Bermacam Pengalaman

Standard
Pagi ini saat membaca suatu artikel, saya tersentil oleh satu pertanyaan :

Mengapa kamu berjilbab?

Kenapa ya?? Hehehe... Kalau diceritakan sebenarnya malu sih, tetapi semoga bisa diambil hikmahnya oleh teman-teman yang membaca tulisan ini.

Berjilbab jaman dulu, masih pakai jeans
Sumber : Dokumentasi Pribadi

Pertama kali saya pakai jilbab itu tahun 2003. Saat itu saya masih duduk di kelas 2 SMP. Saya sangat menyukai ikut kegiatan OSIS dan ekstrakurikuler saat itu, apalagi menjadi panitia acara di sekolah. Saat peringatan Isra Mi'raj, saya ditunjuk sebagai MC alias pembawa acara. Namun kali ini saya harus membawakan acara tersebut dengan menggunakan jilbab.

Setelah acara selesai, saya dihampiri oleh seorang kakak kelas 3. Dia cowok gebetan saya waktu itu, hahaha... Cinta monyet gitu lah :D ciaat. Kakak kelas saya itu juga salah satu pengurus OSIS, makanya kita sering bertemu dalam kepanitiaan. 

"Kamu bagus pakai jilbab. Coba kamu pakai jilbab terus" ujar kakak kelas itu. 

Hanya karena sepatah dua patah kalimat tersebut, saya jadi kepingin pakai jilbab lagi. Hahaha.. Jadi Widy pakai jilbab karena dipuji? Awalnya iyaaaaaa..... :)))))) *dijitak*

Saya mengutarakan kepada ibunda bahwa ingin memakai jilbab. Ibunda yang sudah berjilbab sejak 90-an awal pun menyambut gembira. Beliau belikan beberapa jilbab dan pakaian panjang untuk saya. Namun saat sekolah, saya masih belum berjilbab karena belum punya baju seragamnya. Jadi masih lepas-pakai gitu lah.

Tahun 2004 adalah awal mula saya berjilbab full. Saya dapat beberapa baju sekolah panjang dari kakak kelas yang sudah lulus. Saat itu seperti anak remaja pada umumnya, berjilbab bergo kaos, pakai kaos panjang dan celana panjang.

Jaman sekolah, narsis pake kamera VGA euy :))
Sumber : Dokumentasi Pribadi

Saat SMA, saya ikut Rohis di sekolah. Mulai lah saya memakai kerudung yang panjang hingga siku, kaos panjang sampai paha, dan rok. Ya... ala-ala ukhti gitu lah hehehe... Saat itu pun saya berteman dengan grup-grup nasyid dan komunitasnya.

Saya mulai dikritik oleh ibunda. Kamu jilbabnya panjang sekali, dilapis-lapis lagi, itu gak gerah, gak apek?. Ibu mulai insyekur dengan gaya anaknya. Mungkin takut anaknya terkena suatu aliran ya hehehe...

Di masa itu pun saya mengalami proses spiritualitas diri yang ganjil, Walaupun berjilbab panjang kali lebar, saya belum menemukan indahnya Islam. Jiwa saya masih kosong. Yang saya dapat justru bagaimana ukhti-ukhti masih bersikap genit, diam-diam mendamba lelaki. Mungkin kebetulan saya berada di lingkungan yang kurang tepat, namun membuat saya tidak nyaman dan bergumam 'kok begini?'. Akhirnya saat kelas 3 SMA saya kembali berjilbab seperti biasa. Pakai kaos dan celana jeans. Proses itu berlangsung sampai kuliah semester 3.

Saat semester 3, ibu membelikan saya rok panjang. "Buat kamu kuliah", kata ibu. Saya yang tadinya malas pakai rok, karena sehari-hari kuliah selalu naik motor manual. Apalagi saat awal kuliah saya agak tomboy, pakai sepatu kets belel kayak tukang ojek, celana jeans sobek-sobek, suka foto sampai tengkurap-tengkurap di tanah. Hehehe... Maklum, saat itu lagi hobi fotografi dan belajar kamera DSLR.

Entah mengapa saya jadi suka pakai rok. Apalagi di semester 3 saya mulai mengambil konsentrasi Public Relations. Setiap kuliah PR, saya diwajibkan memakai pakaian kantor, wedges/high hells, dan berdandan. Dosen saya pun detil, kalau pakaian saya tidak macthing, beliau pasti berkomentar. Alhasil, ketomboyan dan kecuekan saya dalam berpakaian pun luntur sedikit demi sedikit. Semakin lama nyemplung di dunia PR, semakin 'dipaksa' untuk sadar penampilan dan rapih. 

Akhir tahun 2012 saya kembali mendapat pengalaman spiritual yang luar biasa, hampir sebulan saya tak bisa tidur tenang. Sampai akhirnya saya menemukan 'indahnya' beragama, indahnya Islam. Mungkin kalau teman-teman kepo seperti apa pengalamannya, silakan tanyakan langsung kepada saya jika bertemu hehehe.... Karena pasti agak sulit dicerna orang.

Setelah mendapat pengalaman spiritual tersebut, saya kembali berusaha memanjangkan jilbab. Yang tadinya hanya alakadarnya berjilbab, jadi lebih santun dan rapih. Eh, tapi... saya kan kelak akan menjadi seorang PR. Terus bagaimana dong??



Berjilbab dan Jadi PR

Bisa dibilang, saya menikmati belajar public relations lebih khususnya brand di dunia digital. Namun, sebagai tuntutan profesi PR juga harus selalu tampil menarik. Lalu bagaimana dengan agama dan akidah Islam-nya?

Kampus saya itu luar biasa, saya dibiasakan tetap berpegang dengan Islam dimanapun berada. Jangan sampai lingkungan membawa kita lepas dari agama, sekalipun kita dituntut professional saat bekerja. Dosen-dosen saya pun selalu mencontohkan demikian. Sambil duduk santai, kami berbincang mengenai bahaya sekulerisme di luar sana, sambil terus menasihati saya untuk menjaga diri. Ah, mereka sayang sekali pasti dengan saya. Hehehe....

Lalu bagaimana dengan gaya busana saya?? Apakah saya akan berjilbab modis seperti hijabers? Ah, saya tidak semodis wanita-wanita hijabers sayangnya. Hehehe.... Saya gak bisa melilit-lilitkan hijab seperti tutorial-tutorial yang ada di youtube.

Sedikit demi sedikit, saya belajar sendiri mencari model yang pas untuk saya. Mulai dari model jilbab, atasan, dan bawahan. Untuk bawahan, saya tetap pakai rok, dan jilbabnya saya mengenakan pashimna saat ini yang dikait dengan model syria. Model Syria cocok untuk wajah saya yang bulat dan pipi chubby

Mungkin kalau bisa dideskripsikan bagaimana gaya berbusana saya saat ini akan seperti yang gambarnya saya ambil dari koleksi Jenahara di situs web Zalora berikut :


Style gue banget!!! Eh tapi jilbabnya lebih panjang ya...
Sumber : Zalora
Meeting Bekasi Urban City sambil groufie
Sumber : Dokumentasi @mayemaee

Saat ini saya nyaman dengan gaya berbusana saya, saya pun merasa jiwa ini lebih berisi, tak lagi hampa. Meskipun belum sempurna, saya masih terus mencari makna berjilbab dan mencari indah Islam lebih dalam dan lebih dalam lagi.

Because life is a lifetime learning process... 

25 komentar:

  1. Moga istiqomah yah dengak kerudungnya :)

    BalasHapus
  2. Alhamdulillaah. Jangan dipendekin lagi ya jilbabnya! ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. aaamiiin... semoga imannya unlimited jadi gak pernah mau mendekin jilbab lagi, insyaAlloh :)

      Hapus
  3. Hahaha, ngakak sendiri. Keinget diri sendiri juga....

    BalasHapus
    Balasan
    1. ahahaa shikaaaa kangeennn!!!

      kita semua punya proses berkembang sendiri-sendiri, yang pasti kalau kita nengok sejenak ke belakang berasa gak percaya gitu pernah ngelewatin masa2 itu :D

      Hapus
  4. Alhamdulillah, Istiqomah ya Dy....

    Kira kira siapa yah cowo yang dimaksud *penasaran :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. InsyaAlloh ka Azam, makasii :)

      Siapa yaa?? hehehe ayo tebak! nanti kalo bener kasih cibu

      Hapus
    2. Yah... u know lah @azami ceo..

      coba aja di share ke FB orangnya.. :P :P

      Hapus
  5. Balasan
    1. makasih mak nuruuulll... aaamiin :)

      Hapus
  6. Berproses trus ya kita... :)

    BalasHapus
  7. Huaaa Baru Kali ini baca pengalaman pribadi dikau yg sangat super.
    Kemaren ketemu sih, dikau cantik dgn hijab dan gaya dikau.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba... lama banget gak ketemu kitaaa :) Next time kita hangout lagi...

      Hapus
  8. Alhamdulillah,gue bangga punya sepupu kaya gini. Sukses terus ya mba,semoga allah mudahkan semua cita2 mba

    BalasHapus
  9. selamat, ya
    semoga kita semua yang udah berjilbab tetap istiqomah

    BalasHapus
  10. semoga istiqomah dear sis aamiin

    BalasHapus