Jumat, 23 Januari 2015

Menghitung Tanggal Pernikahan, Sebuah Jaminan?

Tulisan ini saya buat di tengah perjalanan kereta Kutojaya Utara menuju Kebumen. Mungkin karena terlalu banyak lihat sawah jadi banyak melamun dan berpikir kali ya :D


 Jadi begini....

Saya keturunan Jawa, dan keluarga ayah saya di Kebumen masih memiliki adat jawa yang kental. Salah satunya adalah kebiasaan yang sampai sekarang saya masih bikin saya bingung.... yaitu menghitung tanggal pernikahan.

Entah mengapa ada hitungan begitu, entah bagaimana cara menghitungnya saya juga gak tahu. Selama ini yang saya lihat saat sepupu-sepupu melakukan lamaran, Mbah kakung saya membawa kalender (yang ada tanggalan jawanya) dan spidol. Beliau mencoret-coretnya selama beberapa menit... dan voila! Hak perogatif seseorang sesepuh keluarga pun dilakukan, tanggal pernikahan ditentukan. Hampir semua pernikahan di keluarga ayah dilakukan saat hari kerja.

Keluarga Ibunda di Purwokerto justru lebih 'santai', karena selama ini tante-om yang menikah tidak pernah dihitung. Seringkali mengambil akhir pekan atau long weekend. Alhamdulillah para Eyang pun bukan tipikal orang yang 'ribet' masalah pernikahan keluarganya.

Yang jadi pemikiran saya, mengapa harus dihitung?

Ada yang bilang, supaya menghindari kematian saat menjalani rumah tangga, supaya hidupnya gak prihatin, supaya hidupnya banyak harta.

Semua orang akan mati bukan?
Rezeki sudah ditentukan Alloh bukan? Semua keran rezeki ditentukan dari cara kita berikhtiar dan bersyukur.
Tidak satu-dua contoh yang saya lihat menemui kegagalan pernikahan, bahkan ditinggal suami/istrinya menghadap illahi. Apa karena mereka tidak menghitung hari pernikahan?
Kalau mereka menghitung hari pernikahan, mengapa itu semua masih terjadi?
Karena kehendak Tuhan, bukan?

Saya lebih takut kehilangan berkah Alloh kalau saya percaya dengan hal-hal seperti itu. Apapun yang Alloh kehendaki saat mengarungi rumah tangga nanti adalah bagian dari perjalanan hidup.

Lagipula apakah hitung-hitungan tanggal pernikahan itu masih valid di tahun 2015? Di mana mobilitas semakin tinggi, interaksi semakin luas. Jaman dulu sih, orang berinteraksi hanya di sekitar rumah saja, tidak begitu jauh. Jadi peluang selingkuh harusnya dulu lebih kecil ya? Hahahaha....

Jadi.... Gak ada satupun di dunia ini yang bisa menjamin rumah tangga kita selain Alloh. Gak ada satupun di dunia ini yang bisa menjaga kemana suami kita pergi selain Alloh. Terus, kenapa masih percaya kepada selain Alloh?

Berserah kepada Alloh, beriman terhadap qada dan qadar, mungkin terdengar klise. Tetapi ada maknya yang lebih dalam di situ.

Kembali ke hitung-hitung tanggal pernikahan, sekalipun (misalnya) nanti saya harus tetap mengikuti aturan keluarga, itu hanya semata menghindari konflik dengan orang tua. Nasib baik, nasib buruk, takdir baik, takdir buruk, semua milik Alloh.. Kita hanya bisa terus bergerak dan bersyukur, menulis kisah hidup yang bisa menjadi hikmah bagi anak-cucu kelak :)

6 komentar :

  1. Bener Mak, Kenyataan, sudah itang-itung tanggal baek bulan baek, ternyata banyak juga yang cerai dalam waktu singkat. Naudzu billahi min dzalik!

    BalasHapus
    Balasan
    1. dan aku banyak menemukan hal itu di kenalan2/orang terdekat mak... na'udzubillah... ngeri jadi syirik juga hehe

      Hapus
  2. mau tidak mau kadang menghargai dan toleransi adat harus dilakukan demi kebaikan bersama dilingkungan, so untuk keyakinan wajib dipasrahkan pada yang maha kuasa agar diberi petunjuk. "salam kenal"

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal, mas... terima kasih sudah mampir :)

      yaps, terkadang ini hanya dilakukan demi semata-mata menghindari konflik karena menghormati sepupu dalam keluarga hehehe

      Hapus
  3. Jodoh ditangan Tuhan, cukup bertawakal untuk siapa jodoh kita dan kapan waktu yg terbaik. Karena hny DIA yang Maha mengetahui segalanya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba.. Tawakkal kepada Alloh untuk segala urusan, siapa orangnya, kapan bertemunya :)

      Hapus