Rabu, 04 Maret 2015

Yes or No? Mengajak Lelaki Menikah

Nikah, yuk!
Sumber


Perempuan pada umumnya (pasti) menyukai suatu kepastian dan komitmen. Perempuan tidak begitu suka menjalani hubungan yang main-main, apalagi kalau sudah masuk usia 20-an. Namun, bagaimana dengan persepsi para lelaki mengenai pernikahan? Bagaimana jika si lelaki tidak kunjung mengutarakan wedding proposal?





Heiho, heiho... Tumben nih Widy ngeblog di sore hari, di sela waktu pulang kantor lagi hehehe. Saat ini saya agak susah menemukan waktu untuk menulis blog, tidak seperti dulu saat masih menjadi fresh graduate dan masih bisa menulis blog rutin hampir setiap hari. Saat ini saya butuh mengumpulkan tenaga kamehameha lebih besar untuk ngeblog. Tetapi tetap diusahakan konsisten ngeblog kok :D

Berbicara tentang komitmen, hemm... Ini memang sesuatu yang sangat gurih bagi perempuan, namun sangat alot bagi lelaki. Entah mengapa begitu, saya juga merasakannya. Namun saya tidak akan mengungkap apa sebabnya, saya hanya ingin berpendapat bagaimana menanggapi sikap lelaki yang satu ini.

Kita (perempuan) kerap kali berkhayal mengenai pernikahan, sebuah komitmen yang utuh, hidup berdua hingga maut memisahkan. Saya juga kerap berkhayal begitu, apalagi sampai memikirkan printilan-printilan dalam kehidupan pernikahan kelak. Visioner banget gak sih? toyor diri sendiri

Namun ajakan komitmen atau pernikahan itu bisa menjadi bahaya dan fatal bagi hubungan. Percaya atau tidak, lelaki yang belum siap berkomitmen akan ketakutan dan mundur teratur bila kita kerap membicarakan pernikahan.

Lelaki adalah makhluk yang paling tidak bisa dipaksakan dalam masalah komitmen. Semapan apapun mereka, kita tidak akan bisa memaksakan mereka untuk menjadi suami dan ayah bagi anak-anak kita jika mereka tidak menginginkannya. Kalau kita terus memaksa, para lelaki pun akan menjadi defensif atau tidak excited dalam persiapan pernikahan. Lebih bahaya lagi jika mereka tidak excited juga dalam menjalani pernikahan. Hiii... ngeriiiiiii :(


Trus gimana dong?

Dari pengalaman saya, lelaki yang sudah siap berkomitmen atau menikah AKAN MENGUTARAKANNYA SENDIRI. Tidak perlu didorong-dorong, tidak perlu dipaksa-paksa.

Jika kata-kata itu sudah terucap dari mulut mereka sendiri (tapi jangan dipancing-pancing ya), maka mereka akan bersungguh-sungguh dalam berkomitmen atau mempersiapkan pernikahannya.


Trus gimana kalau si dia gak ngajak-ngajak nikah?

Pilihannya cuma dua :

1. Sabar aja
2. Cari cowok lain yang suami-able laaaahhhh....... :D -> ini saran serius, pertimbangkan yak!


Selamat sore dan jangan kebanyakan makan gorengan :*

16 komentar :

  1. yaaaa ... tulisannyaa bikin mel kepancing mau curhat ama kak widy T_T

    BalasHapus
    Balasan
    1. mel jadi april ke jakarta? hayuk kita curhat berjamaah :D

      Hapus
  2. wah ini kok terkesan meremehkan kaum lelaki.

    lelaki itu bukannya takut atau apalah. biar saya jelaskan.

    menikah berarti menjadi pengantin/manten (b.jawa). manten asal katanya mantun, yang artinya sekian. maksudnya sekian adalah selesai, tamat, wassalam, akhir dari satu fase kehidupan (baik perempuan maupun laki-laki). itu artinya segala hal (entah itu sifat, kebiasaan, tingkah laku, cara berpikir) yang bersifat kelajangan harus diubah. kalau laki, yang semula suka nongkrong-nongkrong harus stand by di rumah/untuk istri. kalau perempuan, yang semula kalau shoping seenak udel sekarang harus memikirkan kebutuhan rumah tangga. untuk keduanya, yang semula saling menonjolkan ego harus belajar memahami. dll.

    tapi bagi laki-laki bebannya lebih. karena sebagai pemimpin dalam keluarga, dia bertanggung jawab atas segalanya, tidak bisa memikirkan dirinya sendiri. bahkan dalam islam dosa istri ditanggung oleh suami. untuk kalimat terakhir, cmiiw.

    tapi, bukan berarti peran istri tidak ada. malahan luar biasa penting. istri adalah pondasi rumah tangga. jika pondasinya kuat maka akan menjamin keberlangsungan rumah tangga ke depannya. saking pentingnya peran istri, sampai ada yang bilang: istri bahagia, maka kehidupan rumah tangga juga bahagia. begitu pun sebaliknya. :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. coba sebutkan dimananya saya meremehkan kaum lelaki? :D

      Hapus
    2. kalimat seperti ini "Lelaki adalah makhluk yang paling tidak bisa dipaksakan dalam masalah komitmen." kesannya meremehkan. siapapun tidak akan mau kalau dipaksa.

      tapi entahlah kalau menurutmu. woman kan always right.

      Hapus
  3. Ikut menyimak saja dan menjadikannya sebagai referensi. Hehehe....

    BalasHapus
  4. bener banget. laki-laki kalau sudah siap pasti dia sendiri yang lebih excited dalam hal pernikahan *pengalaman sendiri* :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. yes mba, saat mereka memang sudah siap berkomitmen dan menikah, mereka yang bakal lebih excited dan banyak kejutan-kejutan pokoknya *jadi senyam senyum sendiri* :D

      Hapus
  5. Sabar tapi ingat umur juga :) *merasakan sendiri*

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau gitu silakan dipertimbangkan opsi ke-2 mba hehehe *dijitak*

      Hapus
  6. Balasan
    1. yang subur-subur berarti orangnya sabar ya *eeh :D

      Hapus
  7. Hhhhm.. ini dalam konsep pacaran yaa??
    aslinya perempuan gapapa kok propose laki2.. Dalam agama jg ada contohnya..
    Menurutku lebih baik ditanyain drpd digantungin,, hehehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya dalam agama pun diperbolehkan jika seorang wanita meminta dirinya untuk dilamar oleh seorang lelaki. Tetapi yang aku sampaikan dalam isi tulisan ini adalah kesiapan dari sang lelaki. Kalau dia belum siap menikah, waduww.... hehehehe

      Hapus
  8. Kalau boleh tau mba widy itu minimum order nya untuk brp porsi mba ?..

    BalasHapus