Sabtu, 12 September 2015

Kenapa Harus Takut dengan Biaya Pendidikan Anak?

Standard
Saya mengenal seorang perempuan sejak lama. Ia seorang perempuan yang sederhana dan penyabar. Pekerjaan sehari-harinya adalah guru honorer. Guru yang dibayar hanya sejumlah jamnya mengajar. Jangan bayangkan gajinya seperti guru-guru PNS, bahkan upah minimum relatif saja tidak sampai.

Sejak awal 90-an, ia sudah istiqomah mengenakan jilbabnya. Ya, disaat orang masih memandang sebelah mata para muslimah yang mengenakan jilbab, ia sudah percaya diri terus mengenakan jilbabnya. Dulu ia hanya mengajar beberapa hari dalam seminggu, sekedar mengisi kegiatan selain menjadi ibu rumah tangga. Uang hasil mengajarnya digunakan untuk menambah penghasilan keluarga saat itu.

Sumber


The Turning Point

Namun kondisi berubah di tahun 1999. Suami yang dicintainya sepenuh jiwa harus terpisah darinya. Perceraian membuatnya harus berjuang seorang diri menghidupi ia dan ketiga anaknya yang masih kecil-kecil.

Awalnya ia membuka warung di rumah, namun akhirnya memutuskan untuk kembali mengajar. Alhamdulillah, ia diterima mengajar di sebuah sekolah kejuruan Islam yang siswanya kebanyakan perempuan. Saat itu, ia menjadi pendidik purna waktu.

Terkadang terbesit di hati kecil anaknya, mengapa Ibundanya bisa mengajar penuh anak-anak lain sedangkan bukan dirinya dan adik-adiknya? Tetapi itu hanyalah kecemburuan sesaat. Si kecil berusaha mengerti bahwa apa yang dilakukan oleh Ibundanya adalah untuk kebaikan dirinya dan adik-adiknya.

Waktu terus berlalu, tak terasa anak-anaknya semakin besar dan akan memasuki pendidikan tinggi. Terbesit sedikit ketakutan bahwa ia tidak bisa menguliahkan anak-anaknya. Padahal ia ingin anak-anaknya juga mengenyam pendidikan tinggi seperti dirinya, bahkan lebih tinggi lagi hingga jenjang magister.


2010... Si sulung mulai berkuliah
2013... Si tengah mulai berkuliah dan mendapatkan beasiswa hingga studi sarjananya selesai
2014... Si sulung menyelesaikan studinya dengan biaya sendiri, mendapat kemenangan di beberapa kompetisi, dan meraih beasiswa di beberapa kesempatan
2015... Si bungsu mendapatkan beasiswa S1 teknik sipil di universitas impiannya



Saya bertanya-tanya, mengapa Alloh baik sekali kepadanya?

Diam-diam saya suka memperhatikannya, apa yang ia lakukan padahal ia sibuk mendidik anak-anak lainnya di sekolah, dan hanya ada di rumah saat malam hingga pagi hari.

Ternyata perempuan itu tak pernah lelah mendo'akan anak-anaknya saat sholat, setiap sepertiga malam, dan saat dhuha. Bahkan saat si bungsu ujian nasional, ia tak beranjak sedikit pun dari sajadahnya. Entah do'a apa yang dipanjatkan, tapi Alloh pasti mendengarnya.

Meskipun dalam hatinya terbesit sedikit ketakutan terhadap masa depan anak-anaknya, ia selalu berusaha berprasangka baik kepada Alloh dan tak pernah lelah memohon kepada-Nya. Rezeki yang halal dan berkah selalu diusahakannya, agar anak-anaknya tumbuh menjadi anak yang baik dan takut kepada Alloh. Meskipun tidak dibesarkan dengan banyak harta, ia selalu mengatakan bahwa rezeki Alloh selalu ada untuk keluarga kita. Meskipun terseok-seok, ia selalu mengusahakan anak-anaknya mendapatkan fasilitas belajar dengan baik seperti rumah yang nyaman, buku, dan laptop.


Umar, Widy, Ibu, Ali
Dokumentasi : Pribadi

Saya bangga mengenal perempuan itu, dan saya bangga darahnya mengalir dalam tubuh saya.
Perempuan itu adalah Ibunda saya......



4 komentar:

  1. Subhanallaah. Luar biasa. Terharu bacanya Mak Widy. Semoga Ibu selalu mendapat keberkahan dan kebahagiaan, aamiin.
    Memang ga ada yg perlu ditakutkan sola rezeki. Toh Allah sudah mengaturnya. In shaa Allah selalu ada jalan bila kita terus berusaha.
    Nice share mak ;). Salam untuk IBU

    BalasHapus
  2. Nice writings :)
    Salut untuk Ibumu. Semoga selalu berbahagia ya.

    BalasHapus
  3. Subhanallah. Semoga selalu diberikan kesehatan Ibu dan keluarga ya. Amin

    BalasHapus
  4. Bersyukurlah engkau memiliki ibu yang baik yang selalu mendoakan kebaikan,memenuhi semua harapan kepada anak anaknya cinta kasih yang ikhlas.mungkin ada bebreapa anak se usia mu iri membaca tulisan mu ini,karena tidak sedikit pula ibu yang tega menelantarkan anak anaknya demi sebuah ambisi yang terkadang sulit dicerna oleh akal dan pikiran,jika sudah seperti ini masikah surga dibawah telapak kaki ibu?

    BalasHapus