Minggu, 29 November 2015

Jangan Memaki Remaja Perusak Kebun Amarilis!

Taman Bunga Amarilis di Jogja sebelum rusak
Sumber

Beberapa hari lalu, Facebook saya jadi cantik karena banyak pemandangan bunga Amarilis yang ada di wilayah Pathuk, Yogyakarta. Duhh, cantik banget serasa ada di luar negeri hehehehehe. Postingan tersebut membuat saya kepingin juga ke Yogyakarta meskipun baru berencana jalan-jalan ke sana di tahun 2016. Kayaknya gak sempat lihat bunganya ya, wong mekarnya cuma 3 minggu ini. Hehehe..




Namun kondisinya berubah dalam dua hari terakhir. Taman bunga cantik itu kini jadi rusak terinjak-injak oleh para pengunjung. Daya tarik kebun bunga ini pasti mempesona banyak orang untuk mengunjunginya, termasuk para remaja.

Remaja yang mau eksis dengan selfie ini justru malah menuai banyak kecaman lewat fotonya. Mereka banyak berfoto dengan menginjak bunga, bahkan hingga bunganya rata dengan tanah.

Saya pribadi sedih sekali melihat bunga-bunga yang cantik jadi rusak terinjak. Namun lebih sedih lagi lihat makian orang-orang di media sosial, bahkan ada yang sampai sumpah serapah. Memang kadang mulut orang di media sosial itu jahat banget ya. Sedih :(

Salah satu sumpah serapah di Facebook.
Cek di sini statusnya kalau masih ada hehehe


Apakah Ini Salah Mereka?

Woh dasar alay, gak punya otak, perusak lingkungan, bla bla bla...

Gak pernah terpikirkah mengapa mereka bersikap seperti ini?
Apakah kita sebagai orang tua atau kakak sudah memberikan bimbingan dan teladan?
Apakah kita menegur mereka (dengan teguran yang mendidik) saat salah?
Apakah Bapak Ibu guru juga mendidik mereka untuk berkarakter baik di sekolah?

Saya juga pernah melalui masa anak-anak dan remaja. Saya juga banyak melakukan kebodohan-kebodohan saat itu. Beruntungnya saya, saya tidak pernah dimaki anak bodoh, anak durhaka, anak gak tahu sopan santun saat salah.

Pendidikan saya tidak lepas dari orang tua dan guru di sekolah. Keduanya bersinergi membentuk saya menjadi manusia yang lebih baik dan lebih baik lagi. Tidak hanya mengajarkan baca tulis dan hitung, orang tua dan guru-guru saya juga mengajarkan cara bergaul dengan teman, cara berbagi, cara menghormati, sampai disiplin buang sampah di tempatnya. Tanpa didikan luar biasa dari mereka, saya hanya menjadi manusia yang kasar, sombong, dan urakan.

Salah siapa mereka berperilaku begini?

Ini Bahan Introspeksi Kita

Perilaku anak-anak remaja yang merusak taman bunga tersebut harusnya menjadi momen untuk kita berkaca kembali, apakah kita sudah mendidik dan memberi teladan bagi mereka dengan baik?

Saat seorang anak berkata kasar, dari mana ia belajar kata-kata itu?
Saat seorang anak merusak kebun bunga, dari mana mereka belajar tidak peduli? Jangan-jangan dari kita.



The Power of Makian 

Apakah kata-kata makian dan sumpah serapah bisa membuat mereka lebih baik? Tidak.
Secara tidak sadar, kata-kata makian itu bisa tertanam dalam benak mereka.

Pernah lihat film "Butterfly Effect" ? Ada sekelompok anak yang tidak sengaja melempar petasan. Petasan tersebut ternyata memiliki daya ledak yang besar dan melukai orang lain. Anak-anak tersebut lalu dicap nakal dan pembunuh oleh orang-orang di sekitarnya. Saat dewasa pun akhirnya mereka benar-benar menjadi pembunuh dan kriminil.

Ya... Makian kita bisa merusak masa depan mereka. Masa depan mereka (setidaknya) lebih panjang dari masa depan kita, lho!

Saat kamu memaki mereka, kamu memaki seorang anak perempuan.
Saat kamu memaki seorang anak perempuan, maka kamu akan menciptakan seorang calon ibu dengan karakter yang seperti kamu sumpahi.
Saat anak itu menjadi ibu, bagaimana ia bisa mendidik anak-anaknya dengan baik?

Maka saat kamu memaki seorang anak perempuan, kamu sedang merusak peradaban selanjutnya.
Namun saat kamu mendidik seorang anak permepuan, kamu sedang mendidik peradaban selanjutnya.

... dan semoga makian kamu tidak berbalik menjadi do'a yang akan Alloh kabulkan kepada kamu sendiri. Ingat, gelombang do'a itu memantul.


Makanya jangan jahat mulutnya yaaa :p

29 komentar :

  1. Betul sekali ini. Saya juga sebal membaca status sumpah serapah itu. Kalau menginjak bunga saja disumpahi seperti itu, bagaimana jika membunuh? Allah saja Maha Pengampun dan penerima taubat. Terima kasih ya sudah mengingatkan untuk terus berkata2 yang baik.

    BalasHapus
  2. Memang sih mereka kelewatan. Tapi gak juga dgn makian. Orang klo dimaki mlh makin tambah memaki. Menasehati jg hrs pke cara baik

    BalasHapus
  3. Sukaaa tulisannya, mengulas dari sudut pandang yg lain

    BalasHapus
  4. memang tidak perlu sampai sumpah serapah karena kalau baca cacian gitu kedengarannya serem banget ya. posting foto sebelum dan sesudah juga kalimat keprihatinan cukup bagus untuk kita menyadari dan mengoreksi kesalahan, bersama-sama.

    BalasHapus
  5. Sebaik-baik teguran adalah yang Tetap sopan nan santun & memberikan solusi. Hindari cacian dan makian.

    BalasHapus
  6. Sayapi gitu, malah jadi jengah melihat komentar2 negatif dari mereka.

    BalasHapus
  7. Harusnya mereka menasehati dan menegur dengan sopan. Bukan menasehatinya dengan cara memakinya. Tapiii.. generasi orang tua jaman dulu alias kolot, biasanya menasehati anak-anak dengan cara memaki sih.. Mungkin pengaruh pendidikan yang rendah sehingga orang tua menasehati maupun memarahi dengan cara memaki.

    BalasHapus
  8. paling males kalau udah bawa-bawa agama. hahahah. komen-komenya ngeri,,ada yang nyumpah-nyumpah juga.

    BalasHapus
  9. ana juga kaget. menurut ana ini hal yang sering nginjek2 bunga. emang sih karena mereka gak tahu jadinya ya kayak gtu. harusnya kita menasehati dalam kebaikan.
    Wah makjleb smw ya mbak, bawa2 agama cabe2an lagi. haduh
    salam kenal.

    BalasHapus
  10. Mereka memang salah kalau ternyata benar injak2 bunga. Tapi kalau memakinya seperti itu, apa ita dia sendiri mau dimaki seperti itu? Ngeri bgt kl kejadian kyk butterfly effect. Amit2. Nauduzubilahiminzalik ya mak..

    BalasHapus
  11. Thanks for sharing mba..betul bgt..mengingatkan
    Hendaknya dg cara yg baik

    BalasHapus
  12. itu orang yg memaki juga tidak punya etika dalam berbicara. kualitasnya sama atau bahkan lebih rendah drpada mereka yg menginjak2 bunga

    BalasHapus
  13. Mereka mmg salah karena menginjak bunga, tp yg menyumpahi berlebihan juga salah. Jangan selalu limpahkan kesalahan pada ortu atau guru. Pada umur tertentu anak sudah bisa ngerti benar dan salah, bisa menentukan pilihan, dan bertanggungjawab pada hidupnya sendiri.

    BalasHapus
  14. Enaknya di jewer aja kali ya, atau gak dihukum dengan menanam kembali bunga yang sama dan menjaga sampai tumbuh besar sampai seperti saat mereka kunjungi.

    BalasHapus
  15. Waduh baca postingannya ngaitin sama Islam apa hubungannya? Sekaligus nyari celah mencela jilbab?

    BalasHapus
  16. hadih...malah mau ketawa baca status itu di bagian akhir mbak. yg nulis bukan perempuan kah?

    BalasHapus
  17. The power of makian. Sebaiknya memang harus lebih berhati-hati ya, jika sedang menulis di media sosial. Bunganya cantik ya.

    BalasHapus
  18. Bener mbak, walopun liat bunga-bunga sebagus itu rusak emang bikin gondok kuadrat. Tapi kayaknya gak perlu caci-maki segala deh :((

    BalasHapus
  19. Naudzubillah ,, caciannya itu,, semoga ALLAH tidak mengijabahi itu cacian,, jadikan sebalikny,,untuk lebih baik :)
    Semoga Butterfly Effect ini tidak terjadi :)

    BalasHapus
  20. Mestinya dihukum aja yang katangkep kamera tengah merusak bunga dengan foto selfi. Dan yang memaki pun juga dihukum dengan teguran yang halus, agar lebih menjaga etika saat bersocmed.

    BalasHapus
  21. memang sangat disayangkan bunganya diinjak-injak...tp yang komentar2 juga serem2 euy...bikin ngerut kening... media sosial memang seram...

    BalasHapus
  22. kejadian itu potret dari kondisi pendidikan kita kah?

    BalasHapus
  23. Jadi merenung bacanya... karena ngeh kalau perempuan itu emang kunci peradaban

    BalasHapus
  24. Jadi merenung bacanya... karena ngeh kalau perempuan itu emang kunci peradaban

    BalasHapus
  25. Mungkin makian dari netizen ga akan separah skrg klo si "perusak tanaman" itu tidak menyertakan caption yg terkesan menantang.
    "Gue foto disini, masalah? Bodo amat, suka suka gue dong"

    BalasHapus
  26. Sedih juga mbak ngelihatnya, pemandanganya jadi enggak cantik lagi, kasihan yang merawatnya..

    BalasHapus
  27. Kalo aku sih ngeliatnya ini justru social punishment ya, inget kalau di sosiologi ada pelanggaran norma kesopanan dan kesusilaan terus hukumannya adalah tekanan dari orang2 sekitar? Nah kasus ini juga sama, cuma karena sekarang udah cyberworld, social punishment-nya juga dari media sosial dan semacemnya. Then, I personally think mereka udah cukup dewasa ya, which is mereka udah ngelewatin fase pembentukan karakter, jadi kayanya kurang tepat sih kalo disangkutinnya ke Butterfly Effect, soalnya Butterfly Effect itu terjadi ketika karakter seseorang belum stabil.
    Soo, menurut aku sih kita tetep butuh orang-orang yang mengingatkan (karena mungkin ada orang yang belum aware dengan 'makian', but somehow it's strangely needed, seriously). Tapi karena cara orang untuk mengingatkan kan beda-beda (salah satunya makian), jadi yaaa that's life, diterima aja, biar dunia lebih berwarna hehe. Toh kadang orang juga butuh 'some punches on their faces' buat sadar. Gitu, mungkin?

    BalasHapus
  28. Kalau aku idem dengan kak widya, masih kecil dan masih remaja. Anak - anak yang menginjak bunga tersebut tidak sepenuhnya salah, karena mereka masih butuh bimbingan dan arahan yang baik. Coba bercermin pada kita yang dahulu pernah mengalami masa remaja, kayak apa kah dahulu kita? Nah beda lagi kalau yang menginjak bunga - bunga tersebut orang dewasa, Menurut ku maki - makian perlu juga kak. wong sudah dewasa kok nggak ndolor, begitulah kira - kira saya berfikir. :-)

    BalasHapus