Senin, 28 Maret 2016

Muslimah Traveller : Ini Bukan Jalan-Jalan Cantik

Standard
Jalan-jalan? Hemm.. Sudah lupa rasanya, sudah lama gak piknik. Hahahaha :D

Saya tipikal orang yang jarang jalan-jalan. Hidupnya paling di situ-situ aja, tapi bahagia. Ngeselin kan kalimatnya? :))))

Begitu Blogger Muslimah ngasih tema blogwalking special 'Muslimah Traveller' langsung bergumam 'deuh, gue travelling kemana bok? Jalan-jalan paling gathering kantor sama pulang kampung doang hahaha..'

Ya.. setidaknya pernah jalan-jalan ke Purwokerto, Kebumen, Yogyakarta, Probolinggo, Bali, Semarang, Belitung, Bandung, Tasikmalaya, Sukabumi, Jakarta, Depok, Bogor, Tangerang, Bekasi yaelah :p

Walaupun cuma antar-kota antar-provinsi aja, saya juga punya jalan-jalan yang berkesan. Super berkesan malah. Saya namakan perjalanan tersebut sebagai perjalanan rohani.

Foto dibuat di picfont (dot) com

Sebelum Perjalanan Rohani, Januari 2015

Meskipun mendapat gelar cum laude dari kampus, saya juga pernah merasakan yang namanya jadi pengangguran. Luntang-lantung gak punya pekerjaan. Hidup mumet, pusing, banyak kebutuhan. Padahal saya terbiasa menjadi freelancer sejak awal kuliah. Namun memiliki gelar sarjana dan belum bekerja (di perusahaan) memang menjadi beban mental tersendiri di saat setiap orang yang kamu temui bertanya :

'Sudah lulus?'
'Sudah..'
'Kerja dimana?'
'Belum kerja'

Orang tua setiap hari menanyakan bagaimana kabar perusahaan yang sudah kamu kirim lamaran? Sudah ada panggilan belum?

Bayangkaaannn mumetnya :D

Di sela waktu menganggur, saya iseng bikin usaha undangan pernikahan & khitanan. Sudah 2 bulan berjalan. Ada yang order? Kagak, sepi men.

Hidup kok kayaknya susah banget ya?
Iya, susah banget hahahahahaaha subhanalloh kalau inget sampe melilit nih perut.

Di tengah kesulitan hidup luar biasa, saya melihat status teman yang bilang "kalau merasa rejeki kamu susah, perbaikilah hubungan dengan ayahmu"

DEG!

Iya. Saya sudah bertahun-tahun tak bersapa dengan Bapak. Perceraian kedua orang tua 'memaksa' saya terpisah dengan Bapak. Bapak kini sudah berkeluarga kembali dan tinggal di kampung halamannya, Kebumen Jawa Tengah. Entah mengapa saya menangis membaca status itu, hati saya langsung kayak diperes-peres. Keinginannya cuma satu, ketemu Bapak.

Perjalanan Itu Dimulai

Dengan sisa uang freelancer yang saya miliki, saya beli tiket kereta Jakarta - Kebumen kelas ekonomi. Sepanjang perjalanan saya hanya merenung ke luar jendela, kadang menangis setitik. Diam lagi.. Soalnya gak ada teman ngobrol juga, orang pergi sendirian. Hahaha...

Setelah menempuh 7 jam perjalanan, saya tiba di Kebumen pada siang hari. Sorenya, saya bertemu dengan Bapak di rumah Mbah. Saya gak bisa berkata apa-apa saat itu, cuma diam memeluk lalu menangis gak henti-henti. Sudah bertahun-tahun mata saya gak pernah sebasah itu. Bahkan putus dari mantan aja saya gak nangis. Bweeekk.... Hahahaha

Entah menangis karena rindu, bersalah, atau benar-benar gak tahu harus ekspresi gimana lagi saat ketemu Bapak. Setelah puas menangis, saya bercerita tentang kehidupan saya. Bercerita saya sudah lulus kuliah dengan baik dan tepat waktu, namun belum dapat pekerjaan.

"Kamu mau bapak referensikan ke temen Bapak di Jakarta, Wid?"
"Enggak, Pak. Widy mau usaha cari sendiri dulu. Widy mau kerja di bidang yang Widy kepingin"

Serontok-rontoknya hati saya, tetap keras kepalanya gak hilang. Sama kayak beliau hehehe :p

"Kamu punya uang buat ongkos?"
"Punya, Pak" --> darimana coba pengangguran punya uang hahaha
"Kamu kapan wisuda?"
"April.."
"Sudah bayar wisuda?"
"Sudah pak" --> alhamdulillah masih ada tabungan waktu itu, langsung dibayar buat wisuda

Saya lebih baik berpura-pura semuanya oke daripada orang tua tahu kalau saya gak punya uang. Baik Bapak maupun Ibu, keduanya berprofesi sebagai guru honorer. Yah.. tahu sendiri kan bagaimana negara kita tercinta ini memperlakukan honor guru? Apalagi yang bukan guru PNS. Hehehe... Oleh karena itu saya selalu berusaha mandiri secara finansial sejak kuliah.

Pertemuan yang singkat (hanya 2-3 jam) tersebut harus berakhir karena Bapak juga harus pulang ke rumahnya. Di akhir pembicaraan, saya hanya minta do'a dari Bapak. Semoga saya bisa melalui masa-masa ini dengan baik, semoga saya punya pekerjaan yang halal dan berkah. Itu aja, saya gak minta embel-embel apalagi ongkos. Do'anya sudah lebih dari cukup.

Singkat, Namun Bermakna

Saya hanya menginap satu malam di Kebumen, keesokan harinya saya langsung kembali lagi ke Bekasi. Tidak sempat jalan-jalan ke tempat wisata, hanya ke warnet saja di pasar buat buka Facebook. Tidak sempat mendokumentasikan apa-apa, karena fokus sama rontokan hati. Hehehehe..

Sepanjang jalan pulang, saya masih menangis. Menangis setiap ingat pelukannya Bapak, nasihat-nasihatnya Bapak. Tak peduli konflik keluarga apa yang terjadi bertahun-tahun silam, saya tetap mencintai Bapak secara utuh. Sama seperti anak-anak perempuan lainnya.

Di jalan pulang menuju Bekasi, ada ketenangan hati yang tidak dapat saya tuliskan. Gak bisa digambarkan walau dengan jutaan garis dan titik. Seperti Po dalam Kung Fu Panda 2 yang akhirnya bisa menerima asal usul dirinya, saya pun juga belajar tentang menerima keadaan diri. Saya lepaskan semua rasa sakit dan tersakiti di masa kecil, seperti embun yang jatuh dari daun ke tanah. Lepas dengan lembut dan penuh kerelaan.


Setelah Perjalanan

Setelah perjalanan itu, apakah saya langsung ceria lagi? Enggak. Saya masih galau juga. Hahaha... Yaaa namanya proses :D

Namun Alloh gak membiarkan saya galau lama-lama. Beberapa minggu kemudian saya diterima masuk ke perusahaan yang saya impikan, Nutrifood, dan dapat posisi sesuai dengan minat saya. Usaha percetakan undangan pun semakin lama semakin menunjukkan eksistensinya. Semakin banyak yang order. Semakin lancar, alhamdulillah. Uang yang didapatkan dari bekerja pun bisa banyak bermanfaat untu keperluan pribadi, rumah, bahkan sampai persiapan pernikahan.

Tepat setelah satu tahun perjalanan rohani Januari 2015 tersebut, saya menikah.
..dan saya siap lalui berjuta langkah petualangan bersama suami tercinta :)


Tulisan ini diikutsertakan dalam blogwalking special dengan tema "Muslimah Traveller : Bertualang melatih fisik, menajamkan akal, dan menghidupkan hati" dari komunitas Blogger Muslimah.




20 komentar:

  1. Aaahhh aku terharu sekali baca tulisan ini. Jadi teringat diri sendiri pernah berkonflik juga sama bapak, tapi alhamdulillah kini sudah happy ending. Semoga bapaknya selalu sehat ya mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. setiap keluarga pasti ada gesekan-gesekan konflik, tapi semuanya kembali ke kesadaran bahwa kita adalah keluarga, dan selamanya gak akan berubah :)

      Hapus
  2. Terharu mbaa baca ceritanya :) semoga selalu didekatkan dengan keluarganya yaa

    BalasHapus
  3. hati saya ikut gerimis mbak :')
    masih masih berusaha keras belajar menerima keadaan diri... luka di masa kecil, dll itu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. nonton kung fu panda 2 deh mba, hihihi *saran yg aneh*

      Hapus
  4. Aku belum bikin postingan ini, heuumm.. hidup ituuu yaaa gituuu dehhhh,,,

    BalasHapus
  5. Ishhh...travellingnya Mbak Windy udah kemana-mana :D
    Bte, baru ngeh blognya blogger muslimah hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu jalan kalau pulang kampung sama outing kantor doang mba hahahaha...
      Salam kenal mba :)

      Hapus
  6. Berkonflik sama orang tua itu.... sakit...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya... Gak nemuin inner peace :(

      Hapus
  7. menyayangi bapak sama seperti anak perempuan lain.

    iya mbak. betul itu kalau anak perempuan sayaaang sama bapaknya.

    eh kita sama mbak, punya darah kebumen. bapak saya juga kebumen. tapi bapak sudah ga ada sekarang. tanah warisan mbah sudah dijual semua. jadi saya udah ga punya jejak di kebumen. but somehow dengar kata kebumen sudah bisa membuat saya terharu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kebumen sekarang banyak wisatanya loh mba... keren-keren lagi. Hayuk someday napak tilas mlipir lagi ke kebumen hehehe

      Hapus
  8. Huaa bc tulisan widy bikin kangen sm alm bapakku.. kebumen iku sblh mnnya purworejo wid :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau naik kereta dari jakarta, stasiun kebumen itu sebelum stasiun purworejo mba. hehehe... Demi apaaaa geografi aku jelek deh kayaknya, aku gak tau letak purworejo dimana. Huehehehehe

      Hapus
  9. Terharu, Mbak. Konflik seperti itu sulit rasanya *pernah merasakan. Tapi syukurlah happy ending.
    Jadi inget, sayang juga banyak cerita perjalanan yg belum sempat ditulis :(.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayuk mbaaa nulis lagi, sekalian ikut BW spesial. Nanti kita mlipir2 ke blog temen2 juga hehehe :)

      Hapus
  10. Seru mba ceritanya. Inspiratif penuh makna :)

    BalasHapus