Kamis, 01 September 2016

Mempersiapkan Masa Depan di Rumah

Siap?
Foto : picfont(dot)com

Sejak kuliah dan belum bertemu suami, saya mungkin adalah salah satu perempuan yang resah memikirkan mau jadi apa nanti. Yaaa... seperti memikirkan cita-cita gitu. Satu sisi, saya ingin berkarya juga, mengamalkan ilmu, berguna buat masyarakat. Di sisi lain, saya juga ingin jadi ibu dan istri yang super buat keluarga. Dua pilihan yang sulit, kan? Kalau keduanya dijalankan pasti bukan perkara mudah membagi waktu dan perhatian, namun bukan berarti juga gak mungkin. Hehehe...



Masa Depan Saya Ada di Rumah

Semakin banyak diberi kesempatan belajar, semakin saya mengerti bahwa kodrat perempuan adalah membentuk peradaban baru. Semakin saya mengerti bahwa saya berkewajiban berbakti pada suami dan mendidik anak-anak saya kelak. Tentunya terlepas dari saya juga memiliki hak menuntut ilmu atau melakukan pekerjaan yang saya inginkan.

Sejak lulus kuliah, alhamdulillah saya diberi kesempatan untuk bekerja di perusahaan yang baik. Pertama di sebuah konsultan bisnis dan digital, kedua di sebuah perusahaan nasional FMCG yang bisa dibilang jadi kantor impian banyak orang. Dengan penghasilan dan status pekerjaan yang baik, tentunya banyak orang mempertanyakan mengapa saya rela melepas semuanya.

Banyak juga yang menyayangkan keputusan saya dan menanyakan soal kebutuhan finansial yang semakin meroket saat ini. Iya, gak munafik deh. Pasti kalau perempuan resign yang dipermasalahkan orang-orang sekitar adalah duit. Hehehe....

"Kenapa sih resign, Wid?"
"Cari ridho suami"
"Keuangan rumah tangga gimana?"
"Kalau suami ridho, Insya Alloh semuanya cukup"

Saya memutuskan kembali ke rumah hanya dengan keyakinan 'selama suami ridho, orang tua ridho, mertua ridho, saya melangkah terus'. Rezeki? Bukan urusan kita memikirkan berapa rezeki yang akan kita terima. Selama ridho suami & orang tua dipegang, Insya Alloh rezeki akan mengalir terus.

...dan itu benar!


Tetap Beraktifitas

Meski menjadi ibu rumah tangga dengan sedang mengandung, saya masih pecicilan beraktifitas ke sana-sini. Hari-hari saya bahkan jadi lebih sibuk namun menyenangkan. Pagi-pagi sudah menyiapkan kebutuhan suami sarapan dan kerja, lanjut duduk di depan komputer kayak sekarang ini, lalu kalau suntuk ya cari teman untuk makan siang dan keluyuran. Hehehehe... Iya dong, saya perlu me-time juga biar tetap waras.

Saya masih bekerja sebagai digital content freelancer, jualan undangan di undanganbekasi.com , dan insya Alloh semester ini akan mengisi beberapa sesi perkuliahan di almamater tercinta. Semua aktifitas yang saya lakukan di atas bukan berarti tanpa persiapan lho! Apa yang saya lakukan saat ini bahkan saya sudah persiapkan sejak kuliah supaya saya gak bingung mau ngapain saat jadi istri purnawaktu.


Persiapan Berkarir di Rumah

Modal persiapan saya cuma satu : HOBI.

Hobi atau minat itu dicari ya, gaes. Nyarinya gak segampang nemu karet gelang dekat gerobak tukang gado-gado. Nyari hobi/minat juga butuh waktu dan usaha. Kalau kamu bingung hobi kamu apa, kamu bisa coba melakukan banyak hal. Tanda-tandanya kalau kamu menemukan hobi atau minat adalah : kamu gak bosan melakukan itu berbulan-bulan, dan kamu gak keberatan kalau gak dibayar, bahkan sampai keluar uang. Nah, kalau kamu belum nemu juga... berarti pencarian masih berlanjut hehehe. Jangan berhenti ya, soalnya kalau berhenti ya gak ketemu deh :D

Yaps, sejak kuliah saya memang menemukan minat di dunia digital. Tahapan selanjutnya adalah mencari mentor atau guru. Bersyukur saya juga menemukan mentor yang keras menggembleng dan memberi saya arahan yang baik. Untuk persiapan masa depan, saya harus selalu siap merunduk supaya ilmunya turun kepada saya, saya teladani apa yang ia lakukan, saya ikutin aja... Hehehehe. Untung mentor saya baik ya, jadi dia gak marah kalau saya ikutin, kalau saya gangguin, kalau saya nanya gak jelas, apalagi kalau sok tahu-nya saya lagi kumat.

Setelah cari mentor dan belajar banyak, saya harus banyak buka jaringan dan menjalin hubungan baik dengan orang-orang yang sudah dikenal. Memang kadang ada satu dua yang bikin kecewa, kalau begini obatnya cuma : JANGAN BAPER. Yang udah ya udah. Kita kan, gak tahu suatu saat akan kerjasama bareng dia atau enggak. Cukup tandai dalam hati agar mawas diri, tapi tetap berusaha bersikap baik dan sopan.

Satu lagi yang harus dipersiapkan adalah mental. Mempersiapkan mental juga gak cuma sehari atau seminggu, tapi bertahun-tahun. Saya melatih mental dengan berdagang. Sejak sekolah sampai kuliah, saya suka berdagang. Dagang apa saja yang penting bisa dijual, untungnya sedikit juga gak apa-apa. Rugi juga gak apa-apa, besoknya jualan lagi. Hehehe... Saya pernah jualan nasi uduk, coklat, pulsa, paket internet, roti bakar, piscok, Aqua gelas, snack/ciki-cikian, kaos, jasa print dokumen, apa saja deh. Sampai sekarang saya jualan undangan, dan masih kepingin jualan yang lainnya lagi. Udah gak kehitung namanya rugi sampai ditipu teman sendiri jutaan rupiah juga pernah. Biar rugi dan ketipu alhamdulillah saya masih sehat, gak stress, dan tetap melanjutkan hidup saat ini. Yang penting prinsipnya satu : bisnisnya gak ngutang. Jadi mau nyungsep kayak apa gak pusing mikirin hutang yang tertinggal. Hehehe...


Yuk, Bersiap!

Sebenarnya gak ada kata telat untuk mempersiapkan masa depan di rumah. Yang masih sekolah, bisa melakukan. Yang masih kuliah juga bisa. Yang sudah berumah tangga bahkan sampai punya anak juga bisa.

Yang membedakan hanya kemauan dan tekad, serta efisiensi waktu. Kapan mulainya? Ya, sekarang.

Lebih baik bertindak segera daripada hanya merasakan resah di hati setiap saat tanpa ujung. Kantor atau rumah bukan halangan untuk jadi perempuan yang produktif.

Jangan lupa juga prioritaskan kewajiban dulu, baru hak. Aliaaas.............. Prioritaskan kodrat kita dulu untuk membangun peradaban di rumah, baru memperjuangkan hak kita untuk berkarya.


HAVE A PRODUCTIVE DAY ^_^


6 komentar :

  1. Waahh kita punya pengalaman yg sama, aku juga baru resign n skrg ngajar 1-3 kali seminggu, Alhamdulillah yg penting suami n kel support, kerja part time dan rezeki full time ya Mbak heheheh malah seneng lbh banyak waktu di rumah, bisa berkarya jalanin hobi dan passion.. btw saya dan suami juga nikah tanpa hutang dan honeymoon berulang2 hehe sehat terus ya bumils, salam kenal dari Bandung

    BalasHapus
  2. Saya tuh pengen banget sebenarnya resign tapi surat resign saya udh bbrapa kali dikembalikan bos. Tulisan yang inspiratif mbak :)

    BalasHapus
  3. Saya sekarang full IRT, tapi belum ketemu jalan, mau ngapain.

    BalasHapus
  4. Saya kebalikannya Mbak. Suami mendukung saya untuk terus bekerja sebagai abdi negara. :). Jadi, yang saya lakukan mengalir aja, sama, selama suami ridlo, inshaallah semuanya akan terasa mudah.

    BalasHapus
  5. Saya kebalikannya Mbak. Suami mendukung saya untuk terus bekerja sebagai abdi negara. :). Jadi, yang saya lakukan mengalir aja, sama, selama suami ridlo, inshaallah semuanya akan terasa mudah.

    BalasHapus
  6. Karena saya laki-laki, saya tetap mendukung calon istri saya yang sukanya kerja kantoran. Dan sekarang lagi tahap menaklukan kedua orangtuanya alias calon mertua. Hehehe...

    Tulisan Mbak Widy sering saya baca buat motivasi dan penyemangat dalam berjuang menaklukkan calon mertua.

    BalasHapus