Minggu, 13 Agustus 2017

10 Fakta Menarik tentang ASI dan MPASI untuk Bayi

Standard
Tahun pertama menjadi ibu benar-benar menantang ternyata, ya! Apalagi cara membesarkan bayi jaman sekarang beda dengan jaman orang tua kita dulu. Kalau dulu MPASI mulai 4 bulan, sekarang 6 bulan. Dulu MPASI belum pakai lemak tambahan, sekarang ada lemak tambahan. Dulu belum ada ASI hasil pompa, sekarang banyak yang pumping ASI. Perbedaan ini juga menuntut saya selalu belajar. Tidak hanya membaca dari berbagai buku, namun juga konsul ke dokter spesialis anak, ngobrol dengan teman yang berprofesi sebagai dokter, atau dengan para ibu yang lebih berpengalaman secara online atau offline. Pokoknya berbagai ilmu dicari demi si kecil, deh! Hihihi...

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan menghadiri talkshow bertema "Solusi Menjawab Tantangan Pemenuhan Kebutuhan Nutrisi Anak" yang diselenggarakan oleh Philips Avent dalam rangka Hari Anak Nasional. Acara ini bertujuan memberikan dukungan kepada orang tua untuk memahami nutrisi apa yang dibutuhkan si kecil dalam masa tumbuh kembang atau periode emas.

Yes.. Saya sangat antusias mengikuti kegiatan ini. Berdua dengan Yasmin, kami berpetualang dari Bekasi ke Jakarta. Gak sabar untuk mendapat pengetahuan baru dari para narasumber. Dalam talkshow tersebut, Philips menghadirkan narasumber yang kompeten, Dr. dr. Damayanti R. Sjarif, Sp.A(K), dokter spesialis anak sub-spesialis nutrisi dan penyakit metabolik. Ini kesempatan bagus untuk mendengarkan nutrisi anak langsung dari pakarnya.

Baru saja menit-menit awal beliau berbicara, rasanya banyak sekali yang harus saya koreksi dari pemberian makan Yasmin. Huhuhu.... Eh, tapi belum terlambat sih! Alhamdulillah masih ada waktu memperbaiki makanan si kecil dalam periode emasnya. Banyak juga hal yang baru bagi saya, malah mematahkan anggapan yang selama ini saya dapat dari grup diskusi atau artikel di internet. Memang ya, belajar itu harus dari pakarnya. Hihihi.. Fakta menarik apa saja yang dipaparkan dalam talkshow kemarin? Simak ulasannya berikut ini, yuk!


Talkshow Solusi untuk Menjawab Kebutuhan Nutrisi Anak bersama Philips Avent

1. Kekurangan nutrisi pada 1000 hari pertama anak akan berdampak seumur hidup

1000 hari pertama anak adalah periode yang sangat penting bagi kehidupannya, karena ini sini pembentukan dan pertumbuhan berlangsung. 1000 hari pertama dimulai saat bayi dalam kandungan sampai usia 2 tahun. Waduuuuhhh..... Jadi merasa bersalah, makan apa ya saya waktu hamil dulu? Hehehe... Ternyata nutrisi saat hamil juga sangat penting. Jadi bagi para ibu hamil, jangan malas makan-makanan sehat ya demi si kecil.

Jika bayi kekurangan nutrisi pada 1000 hari pertamanya, yang akan terjadi adalah otak si kecil akan kurang berkembang (oleh karena itu lingkar kepala bayi harus rutin dicek). Jika hal itu terjadi, maka akan berpengaruh pada IQ bayi. Manusia yang memiliki IQ rendah akan kesulitan dalam mengenyam pendidikan, atau saat bekerja dewasa nanti. Kebayang kan, jika anak Indonesia memiliki IQ pas-pasan karena asupan gizinya kurang? Mereka hanya bisa menjadi pekerja kasar atau level staff karena tingkat pendidikan tidak begitu tinggi. Jika anak-anak memiliki IQ lebih tinggi, diharapkan mereka dapat menyelesaikan pendidikan yang lebih tinggi, dan mendapat posisi yang lebih baik dalam pekerjaan.

2. Bayi cepat gemuk, bagus atau tidak?

Banyak yang senang bayinya gemuk, bayinya buntal, pipinya menal-menul. Sama, saya juga :D

Berat bayi besar sebanarnya tidak apa-apa selama kenaikan berat badan bayi masih normal atau sesuai dengan grafik KMS (Kartu Menuju Sehat). Jika kenaikannya di luar normal, dikhawatirkan bayi mengalami gangguan metabolik.

Bayi yang mengalami gangguan nutrisi dalam 1000 hari pertamanya berisiko mengalami penyakit metabolik seperti obesitas, diabetes, atau jantung koroner. Pasti diantara kita ada yang mudah banget gemuk. Minum air putih aja kayaknya bisa gemuk. Hehehe... (berasa ngomongin diri sendiri, Wid!). Naaah, itu karena metabolisme kita tidak maksimal dalam membakar makanan. Ini bisa disebabkan karena kesalahan pemberian makan saat kita kecil. Selain itu, bayi yang kekurangan nutrisi juga menciptakan manusia stunting (pendek). Nah, kan! Saya lagi. Wkwkwkwk. Jangan heran kalau generasi muda Jerman sekarang badannya tinggi-tinggi buanget. Itu karena gizi mereka sejak kecil sangat diperhatikan.

Nasi sudah jadi bubur. Gak apa-apa lah, ya bunda gampang gemuk dan imut-imut begini. Anaknya jangan :D Mari kita belajar!

3. Kandungan nutrisi pada ASI semakin hari semakin berkurang

dr. Damayanti menjelaskan bahwa bayi biasanya akan mulai kekurangan nutrisi saat berusia 3 bulan. Ini disebabkan oleh kandungan nutrisi dalam ASI ibu mulai berkurang, terutama zat besi yang berpengaruh dalam perkembangan otak. Pada usia 6 bulan, zat besi dalam ASI jumlahnya sangat sedikit, malah mendekati habis. Oleh karena itu bayi membutuhkan MPASI (makanan pendamping ASI). Pemberian asi eksklusif lebih dari 6 bulan tidak direkomendasikan karena zat gizi dalam ASI ibu tadi semakin berkurang. Sedangkan bayi di bawah 6 bulan yang mengalami kesulitan naik berat badan, bisa berkonsultasi dengan dokter untuk solusinya (entah MPASI dini atau solusi lainnya, tergantung kondisi).


4. Pemberian ASI lewat botol dan dot, Yes or No?

Banyak sekali isu yang beredar seputar bahaya penggunaan dot, mulai dari bingung puting sampai penyakit infeksi menyeramkan. Lhoooo, kok begitu? Apa memang segitu berbahayanya menggunakan dot?

dr. Damayanti mengatakan bahwa risiko penggunaan dot ada jika wilayah kita tinggal bermasalah dengan sanitasi seperti di wilayah Afrika. Misalnya, susah air besih. Nah, ditakutkan penggunaan botol dan dot malah jadi tempat tempat tumbuh kuman. Namun bagi kita yang tinggal di perkotaan ini, resiko air bersih itu gak separah di pelosok lah ya. Setidaknya kita bisa cuci piring tiap hari. Justru media pemberian ASI atau susu dengan sendok atau pipet tidak direkomendasikan oleh dr. Damayanti karena susu/ASI mudah terbuang juga tidak sesuai oromotor anak. Salah satu ikhtiarnya adalah memberikan botol susu dan dot terbaik bagi si kecil. Saya juga memilah-milih mana botol susu dan dot yang bagus dan natural seperti cara kerja payudara ibu.

Baca : 5 Alasan Mengapa Saya Memilih Botol Susu Philips Avent Natural 2.0


5. Sayur dan buah bukan jadi kebutuhan utama bayi

MPASI bayi isinya buah atau sayur terus? Hati-hati nanti bayi akan kekurangan zat gizi lainnya. Sama seperti kita, bayi juga butuh karbohidrat, protein, lemak, vitamin & mineral. Namun, bayi tidak membutuhkan banyak serat seperti kita. Kebanyakan serat justru akan 'menarik' zat gizi lainnya seperti zat besi. Padahal zat besi tersebut sangat dibutuhkan bayi. Oleh karena itu, menu bayi sebaiknya ada karbohidrat, protein hewani & nabati, juga lemak. Nah, jadi metode MPASI food combining sepertinya kurang cocok untuk bayi. Lebih cocok menu 4 bintang atau pakai pedoman gizi seimbang aja :)

6. Sebagian besar ibu tidak mencoba hal ini dalam pembuatan MPASI

Banyak ibu-ibu yang mengeluhkan bayi tidak suka MPASI yang ibunya buat. Mendengar keluhan ini, dr. Damayanti selalu bertanya : "Sudah dicicipi belum MPASI-nya?"

Hahaha.. Ngaku deh, saya juga gak selalu nyicipin MPASI Yasmin. Kalau MPASInya gak enak, ya wajar aja bayinya gak suka. Oleh karena itu, masak MPASI juga harus enak. Pengalaman saya, kalau masak MPASI 4 bintang biasanya tetap terasa enak walau tanpa gula/garam/penyedap.

7. Bayi susah makan? Simak tips unik ini!

Suatu hari ada pasien dr. Damayanti yang mengeluh anaknya berhenti makan. Tidak mau makan apa-apa. Saran dokter adalah memberikan makanan kesukaan ibunya saat hamil.

"Ibunya suka makan apa saat hamil?"
"Steak, dok"
"Berikan steak untuk bayinya"
"Hah, bayi makan steak?"
"Ya dihaluskan dulu steaknya"

Ternyata bayinya habis banyak makan steak dan mashed potato.
Ayo ibu-ibu, coba diingat lagi kemarin saat hamil ngidam apa? Hihihi...

8. Boleh mengenalkan cita rasa masakan Indonesia pada bayi

Anak kita makan apa? Keju? Olive oil? Padahal santan bagus lho, untuk MPASI. Saya juga gak kepikiran memberikan santan dalam menu Yasmin. Tidak apa-apa ternyata jika si kecil mencicipi opor ayam, atau makanan lain yang mengandung bumbu rempah-rempah. Tapi opor ayamnya dihaluskan dulu ya. Hehehe...

Sejak dalam kandungan, bayi-bayi kita sudah mencicipi rasa opor ayam, rendang, ayam penyet, dan masakan Indonesia lainnya. Kemungkinan besar bayi akan doyan dengan makanan tersebut karena sudah mengenali rasanya.

Oke deh, berarti Yasmin sudah sangat familiar dengan nasi bebek ya *eh :D

9. MPASI Instan, Why Not?

Boleh gak sih, MPASI instan? Boleh. Gak apa-apa kok. Malah MPASI instan kandungan gizinya lebih bagus dari MPASI yang dibuat asal-asalan. MPASI instan tidak mengandung pengawet, karena proses pembuatannya berasal dari bahan-bahan yang dikeringkan.

Namun perhatikan, MPASI instan yang kita gunakan harus ada izin Badan POM. Kan ada tuh, kemarin produsen MPASI yang digrebek karena belum mendapatkan izin BPOM. Makanan bayi yang sudah ada BPOM-nya setidaknya menjadi 'garansi' makanan tersebut telah melalui proses pembuatan yang layak dan aman dikonsumsi untuk si kecil.

10. Bahan MPASI bergizi tinggi tidak harus mahal

Ibu pasti selalu ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya, termasuk MPASI. Sampai dibela-belain beli bahan makanan yang mahal-mahal. Hihihi... Gak salah kok, bagus juga. Namun bahan makanan yang bergizi untuk MPASI juga tidak harus mahal, lho!

Tahu tempe bagus untuk protein nabati, mudah didapat dan terjangkau. Ikan bergizi gak harus ikan salmon. Ada juga yang kandungan gizinya lebih tinggi dari ikan salmon tapi lebih murah, yaitu ikan kembung, makcarel, dan tenggiri. Protein hewani ada yang murah dan mudah didapat, kandungan zat besinya malah lebih tinggi dari daging sapi, yaitu hati ayam.

Oleh karena itu, tidak perlu sulit-sulit mencari bahan MPASI. Malah saran dr. Damayanti adalah bayi makan makanan sama seperti orang rumah. Yang membedakan adalah cara penyajiannya saja (dihaluskan atau disaring dahulu). Saya banget itu, mah! Supaya hemat, MPASI ambil dari belanjaan dapur saja. Hihihi... Jadi setiap hari selalu bikin MPASI fresh untuk si kecil.


Tantangan Orang Tua Masa Kini

Banyak ya, serba-serbi mengenai makanan untuk anak. Saya pun ingin memberikan yang terbaik untuk Yasmin dalam 1000 hari pertamanya. Namun menjadi orang tua masa kini 'berbeda' tantangannya. Menurut data BPS tahun 2016, jumlah pekerja wanita hampir setara dengan pekerja pria yaitu 40% dari seluruh angkatan kerja. Sedihnya, 64% wanita bekerja belum bisa memberikan ASI secara optimal kepada bayinya.

Sebenarnya, dengan manajemen ASI yang baik, si kecil tetap bisa mendapatkan ASI secara eksklusif hingga 2 tahun. Oleh karena itu, perlu edukasi para working mom untuk belajar memompa ASI, cara menyimpan ASIP, dan pemberian ASIP.

Philips Avent dengan pengalaman klinis lebih dari 30 tahun dalam menyusui bayi telah mendesain dan menghasilkan produk-produk yang memenuhi kebutuhan para ibu dalam memberikan ASI atau susu bagi bayi & anak. Dalam pembuatan produknya, Philips Avent juga melibatkan para ibu sehingga produk yang dihasilkan menjadi user friendly alias mudah digunakan dan sesuai dengan kebutuhan.

Berbagai produk telah dihasilkan untuk mendukung working mom dapat memberikan ASI kepada bayi, seperti pompa asi manual dan elektrik, penghangat asi (bottle warmer), alat sterilisasi (steriliser), kantong ASI, botol susu dan dot natural, serta perlengkapan menyusui lainnya. Yasmin juga pakai botol susu dan dot Philips Avent Natural 2.0 yang anti-tumpah (gak netes-netes), botolnya wide neck sehingga gak banyak udara masuk saat menyusui, dan bentuk dotnya seperti payudara ibu.

Pompa ASI Philips AVENT
Sumber : Facebook Philips AVENT Indonesia


Masuk ke tahap MPASI, Philips Avent juga memberikan solusi persiapan makanan dimana steamer (pengukus) dan blender (penghalus) disatukan. Praktis dan higienis, karena gak perlu pindah-pindah tempat setelah dikukus ke blender. Bahkan ada juga produk Philips Avent yang 4-in-1 Healthy Baby Food Maker, di mana fungsi alatnya ada kukus, blender, defrost (menghangatkan dari beku), dan reheat (menghangatkan kembali). Sangat berguna untuk para ibu menyiapkan MPASI si kecil, bahkan ada tempat penyimpanannya juga. Jadi bisa masak MPASI untuk makan selanjutnya.

Penampakan 4-in-1 Healthy Baby Food Maker

Philips Avent juga menyediakan peralatan makan dan minum yang dikembangkan oleh psikolog terkemuka. Ada set mangkuk, piring, dan sendok garpu, juga cangkir. Yasmin pakai Philips Avent trainer cup supaya gak kaget saat awal-awal MPASI minum dari botol ke cangkir. Lalu, karena sekarang Yasmin sudah bisa minum pakai sedotan, dia sekarang pakai Avent Straw Cup. Tempat minum Philips Avent bisa membantu masa transisi si kecil ke tempat minum dewasa tanpa berantakan.

Salah satu alasan mengapa saya juga suka dengan produk Philips Avent ini adalah mudah didapat secara offline dan online. Philips Avent banyak tersedia di toko bayi, maupun di berbagai e-commerce. Selain mudah didapat, Philips Avent juga banyak mengadakan promo salah satunya seperti di JD.id, cek promonya di sini. Ada Philips Avent Awesome Deals dengan bonus voucher hingga 300 ribu rupiah. Duh, jadi pengen belanja lagi :D

Menjadi orang tua masa kini memang banyak tantangannya ya, karena kita juga (terutama sebagai ibu) harus tetap produktif dan berkarya. Tapi jangan sedih, semua ada solusinya kok! Yuk, semangat terus belajar agar selalu dapat memberikan yang terbaik untuk si kecil. Semoga si kecil tumbuh sehat dan bahagia selalu, moms :)

3 komentar:

  1. Ini sejak habis mudik,anakku susah banget buka mulut. Dulu waktu hamil kan di Riau,sering makan nasi padang hahaha...boleh juga tipsnya xixixi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin kangen masakan riau, mba hana... Coba dibuatin hehehehe

      Hapus
  2. Infonya keyen sekali kaka.. aku lupa euy waktu hamil kifah makan apa yaa, wkwkwk.

    BalasHapus