Jumat, 10 Juli 2009

Pindah Jalur


Umur 18 ini saya mulai belajar tentang jalan hidup dan pilihan hidup. Takdir dan suratan Tuhan memang ada, namun hidup juga ditentukan oleh pilihan kita sendiri.

Saya saat ini menjalani jalur sebagai farmasis. Cukup menyenangkan, saya pun cukup menikmatinya. Namun tak dapat saya pungkiri batin saya berteriak "Ini bukan dunia saya!". Entah mengapa akhir-akhir ini teriakan batin itu semakin menggila. Terkadang membuat saya benar-benar sampai ke titik jenuh dan lelah. Rasa ingin lari terkadang terbesit di benak saya.

Mungkin saya bertahan karena hal ini sudah menjadi harian saya selama 4 tahun terakhir ini. Mulai dari menjadi seorang siswa sekolah farmasi hingga saat ini saya sudah resmi dilantik menjadi Asisten Apoteker setahun yang lalu.

Saya teringat dengan ucapan wali kelas saya, Ibu Dra. Sri Riyanti, M.Pd, Apt. Beliau berkata, saya lebih cocok mengambil jalur komunikasi atau jurnalis dan mengambil pendidikan publicity. Terkadang saya fikir benar juga. Menjadi seorang media publising menyenangkan. Berinteraksi dengan banyak orang, menjajal bahasa satu dan bahasa lainnya. Pengetahuan, wawasan, ilmu, dan cara pandang kita pasti meluas. Dan pastinya, hal itu akan semakin membuat kita lebih bijak memandang hidup ini.

Namun, sepertinya keinginan saya untuk pindah jalur tidak akan dikabulkan orang tua. Baik bapak maupun ibu, menginginkan saya untuk tetap ada di bidang eksak. Bapak awalnya menginginkan saya memilih jalur kedokteran, saya menolaknya. Dan akhirnya bapak setuju bahwa saya harus tetap di jalur farmasi, pendapat yang sama dengan ibu saya.

Walaupun saya juga sedang menggeluti kursus desain grafis, saya ingin lebih. Saya ingin total di dunia publicity. Saya juga ingin belajar fotografi, orginizing, menjadi voulenteer, relawan, aktivis. Saya ingin menggapai semua yang ada dalam angan saya.

Saya tak bisa mencurahkan ini kepada siapa-siapa selain blog ini. Saya tidak berani mencurahkan kepada orang tua saya, walaupun saya pernah mengutarakan bahwa saya ingin pindah ke jalur komunikasi. Namun orang tua baru mengizinkan saya mengambil jalur pendidikan itu ketika saya sudah berhasil menyelesaikan S1 Farmasi saya.

When will miracle can be happen?

Saya ingin menggapai semuanya selagi saya belum menikah.

3 komentar :

  1. wahh luar biasa ternyata "emak" widia ini baru 18 tahun ya...salut banget, banyak kegiatannya dan sukses..semoga Allah selalu mudahkan yaa mba..meraih impian. Apapun jurusan kuliah dan impian kita sebenarnya, menurut saya inti dalam hidup ini adalah "kebermanfaatan" kita. Seberapa besar kita bisa memberikan manfaat buat orang lain. Semoga sukses ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini tulisanku 5 tahun lalu mak... saat baru lulus SMA dan belum kuliah, alhamdulillah saat ini sudah lulus dari jurusan yang aku pikir gak akan bisa meraihnya karena dilarang orang tua :)

      Hapus
    2. aaaamiiin mak... terima kasih atas do'anya.. Barokalloh, sukses untuk kita semua :)

      Hapus