Kamis, 21 April 2011

A Decision

Standard
Hei... It's been a long time since i wrote last post. Hehehehe.. Kesibukan kuliah membuat saya agak sedikit lelah untuk memposting (kecuali dalam kondisi benar-benar galau). Jari yang menari di atas keyboard ini lebih banyak mengetik paper tugas kuliah dibandingkan curhat. Maklum, jadwal kuliah saya semester ini cukup padat. Alhamdulillah, karena semester kemarin mendapat predikat "Para cum Laude" jadi bisa ambil SKS lebih banyak semester ini ;)

Widy - akhirnya jadi mahasiswa hehe..


Awal bulan ini saya mengambil keputusan yang cukup berani (setidaknya menurut saya). Saya resign lagi dari perusahaan tempat saya kerja. Entah mengapa saya tidak kerasan di dua kantor saya yang terakhir. Mungkin naluri saya bukan untuk menuruti sistem, namun untuk membuat sistem. Hehehe.. Mohon jangan ditiru ya, sifat pembangkang saya.

Saya memutuskan untuk resign dengan kondisi saya masih membutuhkan biaya untuk kuliah. Saya resign dengan kondisi masih harus mencicil gadget baru saya yang tinggal 3x bayar lagi. Saya resign dengan uang 200 ribu rupiah untuk jajan. Kondisi ekonomi yang jauh dari kata stabil. Namun semua hal ini masih dalam perhitungan bahwa saya bisa hidup walaupun jobless. Ya, saya masih hidup dan tidak stress sampai detik ini.

Ternyata yang membuat stress itu bukan uang (saat ini). Saya berusaha menanamkan mind set "cukup" dan "bahagia". Saya berusaha mensugestikan diri bahwa uang datang dari mana saja. Ternyata benar, tawaran bisnis pun menghampiri dan keuntungannya menolong saya membayar uang kuliah semester ini, membayar gadget dan uang jajan sebulan ke depan. Alhamdulillah, saya juga masih mengajar di SMK Tahta Syajar.

Ngomong-ngomong soal ngajar, beberapa hari yang lalu saya mendapat tawaran mengajar di sebuah bimbingan belajar di wilayah Kaliabang - Bekasi. Ternyata Bekasi sangat luas ya, lokasinya jauh sekali dari rumah saya. Beberapa pertanda buruk datang ketika saya akan berangkat interview dan micro teaching. Pertama, saya jatuh dari motor. Kedua, saya kehujanan. Ketiga, saya nyasar alias tersesat. Keempat, saya tiba di bimbel hanya seorang diri, harusnya ada 4 orang lain yang interview bersama saya tapi tak satupun yang hadir. Dengan alasan jauhnya lokasi (plus wilayah disana sedikit rawan kejahatan), akhirnya saya menolak tawaran mengajar tersebut.

Sore tadi saya mendapat kabar, beasiswa PPA saya tembus. Alhamdulillah, biaya kuliah saya terbantu. Ternyata Alloh memberikan semuanya di saat yang tepat. Alloh mengajarkan saya arti kata "Sabar" dengan caranya yang indah. Sabar dengan terus berikhtiar agar kuliah saya tetap berlangsung dengan baik.

Tak akan pernah ku dustakan nikmat Rabb-ku.. ^_^

0 komentar:

Posting Komentar