Senin, 23 Desember 2013

Hari Ibu, Sejarah yang Tak Pernah Diajarkan di Sekolah

Sebenarnya saya mau pasang tulisan ini saat Hari Ibu. Tapi berhubung kemarin adalah hari yang sangat sangat hectic, jadi baru sempat nulis hari ini deh *alibi*, hehehe...

Hari Ibu itu memang membuat banyak orang mendadak romantis. Kasih bunga, kasih kado, masak mendadak, nanananana.... Ya enggak salah, kok. Enggak sama sekali. Tetapi ternyata esensi hari ibu itu bukan 'memanjakan seorang ibu'. Hari Ibu di Indonesia punya sejarah yang luar biasa. Sejarah yang enggak pernah diajarkan guru IPS saya saat di sekolah. Sejarah yang baru saya tahu saat menulis artikel untuk pekerjaan saya sebagai content writer di salah satu konsultan bisnis.

Sejarah dan Makna Hari Ibu : Napak Tilas Perjuangan Kaum Perempuan untuk Berdaya



22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu. Berbagai macam ungkapan kasih sayang ditunjukkan kepada wanita yang telah melahirkan dan membesarkan kita, seperti hadiah, kejutan, kartu ucapan, dan lainnya.  Tetapi, jika menelusuri kembali sejarah Hari Ibu di Indonesia, sebenarnya bukan itu 'makna' sejatinya. Makna peringatan Hari Ibu di Indonesia adalah mengenang perjuangan kaum perempuan menuju kemerdekaan dan pembangunan bangsa.

Peringatan Hari Ibu dilatarbelakangi oleh Kongres Perempuan Indonesia I yang diadakan di Yogyakarta pada 22 - 25 Desember 1928. Kongres yang bertempat di Gedung Mandalabhakti Wanitatama Jl. Adisucipto tersebut diikuti oleh 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera. Agenda Kongres Perempuan Indonesia I adalah mengenai persatuan peremuan Nusantara, peranan perempuan dalam kemerdekaan, peranan perempuan dalam berbagai aspek pembangunan bangsa, perbaikan gizi bagi kesehatan ibu dan balita, kesetaraan gender, pemikiran kritis perempuan, dan lainnya.

Pada Juli 1935 dilaksanakan Kongres Perempuan Indonesia II, dalam konggres ini dibentuk BPBH (Badan Pemberantasan Buta Huruf) dan menentang perlakuan tidak wajar atas buruh wanita perusahaan batik di Lasem, Rembang.

Hari Ibu sendiri baru ditetapkan pada Kongres Perempuan Indonesia III pada 22 Desember 1938. Hari Ibu ke-25 diperingati sangat meriah pada tahun 1953 dimana saat itu 85 kota di Indonesia turut merayakannya. Presiden Soekarno sendiri baru secara resmi menetapkan Hari Ibu dalam Dekrit Presiden No.316 Tahun 1959 dan mulai dirayakan secara nasional hingga saat ini.

Namun, perayaan Hari Ibu di Indonesia saat ini mulai berbeda maknanya dengan perjuangan perempuan masa lalu. Perayaan Hari Ibu saat ini lebih cenderung kepada 'modern Mothers Day', dimana orang-orang memberikan pujian kepada para ibu sebagai sosok yang telah melahirkan, membesarkan, dan mendampingi suami. Bukan mengapresiasi terhadap perjuangan kaum perempuan untuk ikut menyumbangkan pikiran dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa.

Sejarah membuktikan bahwa perempuan Indonesia sudah 'sadar' untuk berdaya dan memberdayakan bangsa sejak dulu. Semangat memberdayakan kaum perempuan Indonesia tersebut tercermin lewat peringatan Hari Ibu. Kita seharusnya mengembalikan hari penting itu kepada makna sejatinya, yakni mengenang perjuangan dan keterlibatan perempuan dalam usaha perbaikan nasib bangsa yang belum lepas dari berbagai kemalangan, tanpa harus menghilangkan rasa terima kasih dan puja-puji terhadap jasa dan perjuangan kaum ibu. Selamat Hari Ibu. Semangat berdaya, kaum perempuan!

Nah, ini dia herannya! 22 tahun saya hidup kok, baru tahu sejarahnya sekarang ya? Hehehehe...

Saya juga bingung mengapa disebutnya Hari Ibu, bukan Hari Perempuan. Saya berasumsi bahwa mayoritas peserta Kongres Perempuan Indonesia adalah wanita yang sudah menjadi Ibu, makanya dinamakan Hari Ibu. Hehehe...

Luar biasa ya, perempuan di masa 1930-an pun sudah berpikir kritis dan mau berkontribusi untuk kemajuan bangsa. Sedangkan perempuan sekarang ngapain? Belanja dan nge-mall sih, boleh... Tapi jangan lupa diri bahwa kita adalah bagian dari masyarakat. Sebagai perempuan yang sudah punya kesempatan mengenyam pendidikan tinggi, kita punya tanggung jawab moral dan sosial untuk mendidik/membangun masyarakat. Ndak bisa cuek begitu saja.

Malu dong, kalau Hari Ibu hanya diperingati dengan konsumerisme.. Halah halah, cieeeee :p

Sejak tahu sejarah Hari Ibu, saya semakin bangga menjadi perempuan Indonesia. Saya bangga perempuan negeri ini punya sejarah 'kebangkitan' yang luar biasa, dan Indonesia 'harus' menghargainya.

Yuk, perempuan (re : para Ibu masa kini dan masa depan) berpikir lebih baik, beraksi lebih baik, dan melihat lebih peka terhadap lingkungan sekitar. In case, bagi yang sudah berkeluarga, tetap perhatian suami dan anak-anak yaaa hehehehe... :)

Tidak ada komentar :

Posting Komentar