Showing posts with label Opini Widy. Show all posts
Showing posts with label Opini Widy. Show all posts

Wednesday, May 11, 2016

Tentang Nikah di Gedung, Tinggal di Kontrakan

Nikah di Gedung, Tinggal di Kontrakan
So, what?
Foto dari sini


Assalamu'alaikum, maaf lama gak update karena sibuk menyehatkan diri supaya doyan makan lagi. Hehehe... Sebenarnya hari ini gak niat ngeblog sih, cuma karena pagi-pagi lihat gambar nyinyir ini yang berlalu-lalang di timeline sosmed saya, malah jadi guathel mau nulis. Hehehe...

Pagi ini banyak teman-teman yang nge-share meme yang tulisannya :

Plus dengan sejuta caption nyinyiran dari orang-orang yang berkomentar atau nge-share ulang.
Sedih... Gampang banget orang sekarang nyinyir. Tapi ya, begitulah kehidupan. Kita yang ngejalanin, orang yang berkomentar.


Friday, February 19, 2016

Menjawab Pertanyaan Calon Suami : "Kamu Siap Gak, Diajak Susah?"

Kamu Siap Gak, Diajak Susah?


Holla, menjelang weekend dan emang dasar yang punya blog ini anaknya panasan ya baca komen-komen di artikelnya Mba Tetty Tanoyo, jadi saya memutuskan buat nulis satu artikel sendiri. Iya, biar mrepet-nya puas. HAHAHAHA :D

*brb gelar tiker*
*siap-siap mrepet*


Friday, January 15, 2016

Tentang Usia 19..



Ini postingan pertama di 2016 dan dimulai dengan curhat. Apakah 2016 akan menjadi tahun curhat bagi Widy? *kemudian sok cenayang*

Hahahahaha...

Ditengah riuhnya media sosial tentang terorisme, saya malah nulis curhatan. Gak apa-apa ya, hitung-hitung biar gak ngebosenin.

Sunday, November 29, 2015

Jangan Memaki Remaja Perusak Kebun Amarilis!

Taman Bunga Amarilis di Jogja sebelum rusak
Sumber

Beberapa hari lalu, Facebook saya jadi cantik karena banyak pemandangan bunga Amarilis yang ada di wilayah Pathuk, Yogyakarta. Duhh, cantik banget serasa ada di luar negeri hehehehehe. Postingan tersebut membuat saya kepingin juga ke Yogyakarta meskipun baru berencana jalan-jalan ke sana di tahun 2016. Kayaknya gak sempat lihat bunganya ya, wong mekarnya cuma 3 minggu ini. Hehehe..

Thursday, November 12, 2015

Hari Ayah, Bagaimana dengan Anak yang Tidak Dibesarkan Ayahnya?

Daddy & son
Sumber


Pertama-tama, saya harus meminta maaf terlebih dahulu atas tulisan ini. Mungkin tulisan ini akan menimbulkan sedikit pro-kontra atau pandangan miring.

Pagi ini saya melihat di media sosial bertaburan ucapan Hari Ayah. Apakah memang benar hari ini adalah Hari Ayah? Saya sendiri tidak memperhatikan, hehehe...


Thursday, October 1, 2015

Fakta di Balik Pertanyaan 'Kapan Nikah?'

Sudah koleksi berapa undangan bulan ini?
Sumber


Selamat datang bulan Oktober, bulan di mana undangan nikahan temen banyak banget. Hahahaha...

Jadi gini ya, dilemanya setiap kondangan itu bagi yang belum nikah kayak saya adalah ditanyain

KAPAN NIKAH?
KAPAN KAWIN?
KAPAN NYUSUL?

Gak sekalian kapan mati ya? ditabok

Menurut saya itu kan, sebuah pertanyaan yang retoris. Ya menurut ngana jawabannya apa? Hehehe...

Thursday, August 6, 2015

Apakah Merdeka Itu Ada?

Sudah lama nih, gak nulis sesuatu yang bisa mengutak-atik pikiran. Sebenarnya lebih karena takut banyak yang gak mengerti tulisan saya sih, apalagi pikiran saya. Saya tipikal orang yang tidak suka memaksakan pikiran saya ke orang lain. Saya gak suka memaksa, saya cuma suka melobby saja biar sepaham. Hahahaa skip!

Yowes, jadikan tulisan ini pengisi waktu luang dan bisa pikirkan nanti-nanti ya. Nanti saat sedang mau tidur, di toilet, atau macet-macetan di jalan.

Jadi tema blog walking Blogger Muslimah bulan ini adalah kemerdekaan. Kali ini para kontributor dan anggota Blogger Muslimah akan menulis bersama-sama mengenai 'Apa arti kemerdekaan menurut muslimah'. Saya gak bisa bilang tulisan saya adalah pendapat orang-orang secara umum. Jadi anggaplah ini opini pribadi, jika salah maka saya lah yang salah.

Monday, March 30, 2015

Bikin Ide Gerakan Buat Ibu-Ibu, Ah...

Beberapa hari lalu sempat ada teman blogger yang posting tentang Gerakan Tanpa Setrika (GTS). Wew, gerakan apaan tuh? Sepertinya gerakan alibi saja buat para perempuan yang malas nyetrika. Nah, daripada gerakan tanpa setrika mendingan saya kasih ide bikin gerakan yang pasti berguna buat para moms. Nama adalah....


GERAKAN EMAK TERTIB LALU LINTAS


Jeng.. Jeng...

Yang disingkat GETL ah ga cakep sih nih, singkatannya! :D

Jangan dekat-dekat!!!!
Sumber : orongorong.com

Wednesday, March 11, 2015

Buat Kamu yang Bilang Bekasi Alay dan Norak

Stadion Patriot Bekasi
Sumber : Dokumentasi Komunitas Foto Bekasi


Kemarin Kota Bekasi ku berulang tahun ke-18. Wow, masih abege ya? Hihihi... Berarti sudah 21 tahun saya hidup dan tinggal di Bekasi, sejak dahulu masih bergabung dengan Kabupaten Bekasi berubah menjadi Kotamadya Bekasi, dan sekarang jadi Kota Bekasi.

Bekasi tak hanya menjadi kota dimana saya tumbuh besar, namun saya juga menuntut ilmu di sana. Alloh membawa saya mengenyam pendidikan tinggi di Universitas Islam 45 Bekasi atau yang biasa dikenal dengan Unisma. Unisma sendiri juga didirikan oleh tokoh pendidikan asli Bekasi dan sekarang sudah memasuki usia yang ke 34 tahun.


Wednesday, March 4, 2015

Yes or No? Mengajak Lelaki Menikah

Nikah, yuk!
Sumber


Perempuan pada umumnya (pasti) menyukai suatu kepastian dan komitmen. Perempuan tidak begitu suka menjalani hubungan yang main-main, apalagi kalau sudah masuk usia 20-an. Namun, bagaimana dengan persepsi para lelaki mengenai pernikahan? Bagaimana jika si lelaki tidak kunjung mengutarakan wedding proposal?


Friday, January 23, 2015

Menghitung Tanggal Pernikahan, Sebuah Jaminan?

Tulisan ini saya buat di tengah perjalanan kereta Kutojaya Utara menuju Kebumen. Mungkin karena terlalu banyak lihat sawah jadi banyak melamun dan berpikir kali ya :D

Monday, December 22, 2014

Selama Ini Kita Salah Memaknai Hari Ibu..



22 Desember 2014


Seperti pada 22 Desember tahun lalu, dua tahun lalu, sepuluh tahun lalu, dan bahkan lebih lama sebelum itu sejak saya kecil, tanggal ini selalu dikenal dengan Hari Ibu. Hari dimana kita memberikan kado atau ucapan spesial untuk Ibunda tercinta, sosok manusia setengah malaikat yang melahirkan dan menumbuhkembangkan kita.

Tulisan ini tidak bermaksud mengecilkan hati siapa saja yang merayakan Hari Ibu. Namun memang ada baiknya kita sejenak belajar dan memahami esensi dari latar peristiwa dari Hari Ibu itu sendiri. Saya sendiri baru mengetahui hal ini setahun lalu dan sempat saya tuliskan di sini.

Tahun ini, kembali akan saya coba tulis dengan gaya penulisan yang lebih baik (semoga hahaha) dari tahun kemarin. Di sisi lain, saya juga ingin mengedukasi dan membuka wawasan teman-teman (khususnya perempuan) yang membaca tulisan ini.

Thursday, December 4, 2014

Pancong Balap, Kue yang Salah Nama

Kudapan.. kudapan... kudapan...


Jalan-jalan sore atau di akhir pekan memang asyiknya mencari kudapan sambil menambah wawasan kuliner. Akhir pekan kemarin saya menuntaskan keingintahuan tentang satu kudapan yang cukup terkenal di Bekasi, Pancong Balap.

Yak, agak memalukan sih.. Secara salah satu tim Bekasi Urban City, kok belum pernah nyobain Pancong Balap. Padahal makanan ini kan termasuk heitz di Bekasi. Sebenarnya ada beberapa lokasi Pancong Balap di Bekasi, ada di Proyek Bekasi (Jalan K.H Agus Salim), bunderan Summarecon Teluk Pucung, dan Perumnas 1 Bekasi. Lokasinya menyerupai warkop, hidangan yang disajikan pun ada Indomie rebus dan minuman seperti kopi susu, Nutrisari dingin, dan lainnya. Harga? Murah kok cuma 6.000 untuk sepotong kue pancong dengan susu, coklat, dan keju. Kalau dikurangi satu topping, harganya jadi 5.500.

Saturday, October 11, 2014

Bekasi jadi Bahan Candaan, Emang Lucu?

Akhir-akhir ini banyak buanget pake U beredar meme tentang Bekasi. Yah... kira-kira menggambarkan Bekasi tuh kota yang jauh banget, bahkan sampai di luar bumi. Hehehehe....

Padahal sih, Bekasi gak jauh-jauh banget dari Jakarta. Masih jauhan Tangerang malah kalau menurut saya, apalagi wilayah Parung sama Pondok Cabe Udik. Uwuwuwuwuw.... berasa antah berantah banget pernah nyasar di sana.

Bagi yang belum sempat lihat meme Bekasi dijadikan candaan, ini saya kutip beberapa dari sumbernya.

JUST WHYYY???




KEBALIK CUUUYYY!!!!


By the way, yang terakhir itu siapa sih yang bikin?? Hahahaha....


Ada lagi yang memenya lebih ngeselin. Ini nih...


... dan si papa naik apollo ke Bekasi.


Bekasi dijadikan bahan candaan, emang lucu? Lucu banget menurut saya mah... Hahahaha....

21 tahun saya jadi warga Bekasi, makan di Bekasi, tidur di Bekasi, kuliah pun di Bekasi. Dulu tuh orang kenal Bekasi sebagai tempat yang gersang, jauh, jalanan rusak, ya emang bener sih, tempat jin buang anak. Kalau Bekasi panas ya dari dulu sampai sekarang juga masih begitu. Hehehe...

Namun dengan beredarnya meme ini saya cukup senang, Bekasi jadi trending topic di Twitter (yeay!). Bahkan teman di Sumatera pun bertanya, ada apa dengan Bekasi? Jawab saya, tidak ada apa-apa. Hanya sebatas parodi meme di social media saja. Hehehe....

Kalau pemerintah kota/kabupaten bisa 'mbaca', ini sebenarnya ajang pas buat muncul dan eksis (baca : city branding). Ini bisa jadi saat yang tepat bagi pemerintah memperkenalkan siapa kota atau kabupatennya dan apa potensi yang dimiliki.

Bekasi.... Tak apa lah dikenal karena parodi dulu, semoga nantinya orang-orang juga bisa melihat identitas dan potensimu :)


Sunday, September 21, 2014

Langka Receh, Kembaliannya Boleh Disumbangin?

Uang kembalian. Kecil, tapi penting. Menurut saya, walau hanya 100 atau 200 perak, bisa menguji kejujuran seseorang, bahkan integritasnya dalam melakukan pekerjaan jual-beli.

Receh, oh receh...
Saya tipikal orang yang detil memperhatikan uang kembalian ini. Dulu saya kerap mengabaikan uang receh logaman, tapi semua berubah sejak saya berjualan snack di kampus dan mengerti betapa berharganya uang logaman itu. Satu snack biasanya hanya dapat untung 100 rupiah, paling besar 300 rupiah bahkan ada yang cuma ambil untung 50 rupiah. Untung sehari saya bisa menjual lebih dari seratus bungkus snack di kampus, jadi masih bisa buat jajan atau beli bensin. Hehehe....

Saya juga punya kebiasaan mengumpulkan uang receh di celengan. Kalau malam saya bongkar-bongkar tas dan menemukan uang logam, saya langsung masukkan celengan. Lumayan deh, kalau sudah hampir penuh, ditukar bisa sampai 20 atau 30 ribu. Bisa creambath atau facial kan? Hahaha... Biasanya minimarket mau menerima uang receh tukaran.

Sebel sih, kadang kebiasaan saya detil sama logaman itu malah bikin saya dikatain pelit lah, perhitungan banget lah.. Kesannya saya jahat gitu, hiks... Mungkin teman-teman ada juga kah yang mendapat prasangka buruk seperti saya?

Balik lagi ke uang receh, tadi siang teman Facebook saya, Dasrizal, pasang status seperti ini :

Status Dasrizal (21/9) pagi

... dan malamnya barusan saya ngalamin kejadian ini.

Sebenarnya bukan sekali dua kali sih, begini. Sering banget banget banget malah. Awalnya saya iya-iya aja karena melihat di depan minimarket ada poster Unicef atau PMI atau peduli bencana. Tapi kok lama-lama begitu terus ya? Jadi minta disumbangin terus.

Apa ini modus selanjutnya setelah kembalian permen hilang?

Berhubung tadi saya sedang lapar jadinya galak,  alhasil petugas minimarket-nya malah saya kepoin. Saya belanja 18.700 tapi kembaliannya hanya seribu.

"Mba, yang 300-nya boleh disumbangin?"
"Emang kenapa Mas? Dari kemarin disumbangin mulu"
"Ini, Mba.. Kagak ada kembaliannya"
"Oh, gitu... Yaudah, kalau gak ada. Tapi kok dari kemarin kagak ada kembaliannya mulu"

Emm... Kesel? Iya, sih...

Tapi mendingan deh, petugasnya jujur kalau ternyata uang kembaliannya gak ada. Eh, tapi berarti sebelumnya saya dibohongin ya yang minta uangnya disumbangin itu? Huuuahahahahaseum. baru sadar

Kalaupun saya kesal atau marah, bukan sama petugas minimarketnya, melainkan ke manajemennya. Bagaimana sih, masa uang receh tidak difasilitasi. Itu kan, hak konsumen. Kasihan kan, kalau karyawannya yang justru dicurigai atau diomelin konsumen terus. Hemm...

Setahun lalu, waktu sebuah mall paling wawawaw di Bekasi itu loh di kawasan yang ada segitiga gedenya  baru buka, saya juga sampai mention dan DM-DMan sama manajemen mallnya. Dua kali saya ke mall tersebut, kembaliannya gak ada terus. Wah, masa kembalian gopek seribu gak ada.. Akhirnya saya minta ke manajemennya untuk sediakan uang kembalian yang banyak ke karyawannya. Senangnya mereka mendengar keluhan saya, sekarang parkirannya gak nyebelin lagi.


Oh, iya... Satu lagi yang bikin saya bete karena kembalian recehnya gak ada. Celengan saya jadi lama penuhnya tuh! Huaaahhhh!!!! Hahaha....

Kalau teman-teman gimana? Ada yang punya pengalaman begini juga kah?

Saturday, September 20, 2014

Anak IPA Pintar, Anak IPS Bodoh

"Intan, cita-cita Intan mau jadi apa?" 

"Aku masih bingung, Mba.. Aku suka pelajaran IPS, nilaiku juga bagus-bagus di situ. Tapi aku takut masuk IPS, katanya anak IPS itu bodoh"


Begitu lah sekilas percakapan saya dengan Intan (sepupu) saat jalan-jalan bersama di akhir pekan yang lalu. Intan masih duduk di kelas 1 SMP Negeri 1 Bekasi. Anaknya mungil, pecicilan, kritis. Walaupun baru kelas satu SMP, tutur katanya rapih dan enak didengar.

Marah? Eits, jelas... Saya salah satu orang yang menentang keras pemikiran kuno ini. Stereotipe anak IPA - IPS ini sangat menggelitik pemikiran saya, karena saya pernah mengalami keduanya.

Mau jadi anak IPA atau IPS hayo?

Meski terlahir dengan sifat keluarga yang saklek (apalagi bapak), saya memang kerap memberontak dari kecil. Bapak memiliki latar belakang pendidikan teknik, saya dapat katakan he is a genious one. Penelitiannya mengenai termodinamika gak main-main, bahkan pernah mendapat penghargaan dari Pak BJ Habibie saat berkunjung ke IKIP Semarang di akhir tahun 80-an. 

Waktu kecil saya sering diomeli kalau nilai matematika saya jelek, kemudian saya diajari sampai malam dan menangis karena ngantuk. Ah, walau begitu saya tetap mencintai Bapak. Hehehe... Lama kelamaan saya jadi terbiasa dengan hitungan, belum lagi saya dileskan aritmatika saat SD, mau tidak mau kemampuan berhitung pun juga terasah.

Berbeda dengan Bapak, Ibu adalah lulusan Administrasi Perkantoran IKIP Semarang. Saat lulus SMP saya 'dikompori' masuk ke sekolah farmasi. Ibu bilang, farmasi adalah cita-citanya waktu kecil namun belum tercapai sehingga ibu berharap saya yang bisa mewujudkannya. Saya sekolah di farmasi dengan baik bohong deeh, padahal bandel.  

Perdebatan besar dalam keluarga mulai terjadi saat saya lulus SMA. Ayah bersikeras saya meneruskan pendidikan ke kedokteran, ibu bersikeras saya meneruskan farmasi. Saya sendiri ingin kuliah komunikasi. Saat itu kedua orang tua sempat marah dan saya pun akhirnya berusaha membiayai kuliah dan uang jajan sendiri.

Tak dipungkiri, keluarga saya juga masih memandang anak IPA itu lebih 'wah', dan IPS itu cuma buat anak-anak yang gak bisa masuk IPA..... dan bodoh.

Bukan hal mudah membuat orang tua menerima saya berkuliah di bidang sosial. Butuh sekitar 3 tahun hingga saya berhasil meraih mahasiswa berprestasi tingkat universitas (in other words bisa mengalahkan anak teknik dan anak pertanian di kampus hehehe). Berbagi jurus lobi dari jurus sailormoon sampai kamehameha sudah dilancarkan. Saya pun berusaha bukan main menunjukkan bahwa saya cocok di komunikasi, saya punya passion dan punya peluang besar di bidang ini.

Berhasil kah, Widy? Alhamdulillah, Ibu dan Bapak sudah tidak punya stigma IPA-IPS lagi. Apalagi Ibu, beliau mempersilakan anak-anaknya menggeluti pendidikan tinggi di bidang yang disukai. Mau IPA dan IPS pun tak apa. Adik saya yang tengah telah berkuliah di Pendidikan Olahraga di Universitas Negeri Semarang. Sedangkan adik saya yang bontot saat ini duduk di kelas 3 SMA dan mempersiapkan mimpinya menuju jurusan Geologi atau Fisika di beberapa universitas negeri.

Kembali lagi ke Intan... Setelah mendengar perkataan Intan yang takut menjadi anak IPS, saya memberikan sedikit penjelasan...

"Gak ada jurusan pintar atau jurusan bodoh, Ntan... Yang pasti, Intan harus belajar yang Intan sukai. Kalau Intan suka pelajarannya kan, jadi lebih mudah..

Kata siapa anak IPS bodoh? Coba Intan lihat sarjana hukum yang jadi pengacara, sarjana hubungan internasional yang jadi diplomat Indonesia ke luar negeri. Mereka gak bodoh, pintar banget malah.. Bisa ketemu orang-orang hebat, bisa ngomong banyak bahasa.

Mau anak IPA atau IPS, kalau Intan suka.. Intan ikhlas.. Nanti Intan bakal jadi yang terbaik di sana"


:)




Monday, September 8, 2014

Pinter Keblinger, Pelegalan Nikah Beda Agama

Menuntut ilmu di lembaga pendidikan tinggi memang membuat kita berpikir lebih luas, lebih dalam, dan lebih logis. Di bangku perkuliahan kita mendapat beberapa mata kuliah seperti filsafat, logika, dan etika. Jika saat SD - SMA kita sering mendapatkan pengetahuan tanpa bertanya, saat kuliah justru 'dibentuk' menjadi lebih kritis dan berusaha mencari jawaban dari 'mengapa', 'mengapa', dan 'mengapa'.

Tapi tak lantas melupakan ajaran agama yang tertanam sejak kecil, walaupun (mungkin) dulu kita hanya diberikan pengetahuan agama tanpa tahu maksudnya. Tak pernah terlintas mengapa harus sholat, harus mengenakan jilbab, harus puasa, harus berzakat, dan lainnya.. Semua hanya dipahami sebatas perintah atau larangan Alloh saja.

Apa pantas mendebat keberadaan Alloh, hukum-hukum Alloh? Mendebat apa yang jelas tertera salah menjadi benar, dan benar menjadi salah?

Jujur, saya kesal seketika saat membaca atau mendengar pemberitaan tentang seorang mahasiswi hukum UI yang mengenakan jilbab dan berusaha melegalkan pernikahan beda agama. Kesal sekali... Karena tak berani marah-marah di media sosial, saya keselnya di blog saja ya... Hehehe... :)

Berita yang bikin kesal :p

Sebenarnya, menyatakan pendapat dan pemikiran tak salah di negeri ini pun menjadi hak tiap manusia. Namun hal itu pasti tak akan dilakukannya jika ia memahami Islam lebih dalam. Terlebih yang sependapat dan membenarkan tindakannya dengan sejuta argumen kesetaraan, kemajemukan, atau apalah itu yang intinya hendak meng-universal-kan agama. Saya pribadi tidak suka agama dicampur-campur seperti itu, karena agama bukan es campur.

Kelihatannya pinter sih berargumen panjang lebar, tapi pinter keblinger itu namanya. Akal dari Alloh kok dipakai untuk melawan Alloh? Bukan kah itu sombong?

Islam bukan sekedar agama, bukan sekedar keyakinan. Islam itu ideologi, panduan hidup, walau gak mudah sih menerapkannya. Namun tanpa panduan hidup dari Alloh, pasti hidup akan terasa 'hilang'. Saya seorang muslimah, dan berusaha selalu mempertahankan keyakinan saya. Tak masalah jika ada yang berpendapat fanatik atau berlebihan. 

Saya sendiri sudah lelah mendengar perdebatan tentang Tuhan. Tuhan dimana? Apa Tuhan ada? Pernah juga ditanya orang 'Kamu Islamnya, Islam apa?', dan dituduh jilbab adalah pakaian SARA. Saya tipikal yang tidak suka mendebat dan lebih memilih menjawab "Di agama saya, pakai jilbab itu waji. Perintah Alloh, no excuse..". Terlebih masalah pernikahan beda agama, jika seorang wanita menikah dengan non-muslim maka haram hukumnya... ya haram. Lagipula apakah semudah itu seorang muslimah menyerahkan keyakinannya kepada seorang pria yang baru dikenalnya?

Hati-hati... Semakin sering mendebat Alloh, nanti malah benar-benar dicabut nikmat iman & Islam kamu dari-Nya.

Jika tak lagi ada seberkas iman, apa masih yakin hidupmu akan tenang dan berkah?

Saturday, September 6, 2014

Makna 'Jangan Cintai Aku Apa Adanya'

Kau terima semua kurangku..
Kau tak pernah marah bila ku salah..
Kau selalu memuji apapun hasil tanganku yang tidak jarang payah..

Jangan cintai aku apa adanya, jangan..
Tuntutlah sesuatu agar kita jalan ke depan..


Lirik di atas adalah sepenggal lagu kesukaan saya dari Tulus, Jangan Cintai Aku Apa Adanya. Seperti biasa, Tulus selalu punya sisi penulisan lagu yang menarik menurut saya, termasuk juga dengan lagu ini. Awal mendengar lagu ini saya sempat berpikir dan terus mengolah kata-kata dalam lagu tersebut hingga saya menemukan makna yang bagus sekali (gak cuma bagus sih, tapi juga memiliki kisah yang sama dengan hidup saya hehehe).

Dari dulu sampai sekarang, orang selalu bilang menerima cinta dengan apa adanya. Ya, itu benar juga sih... Menerima kekurangan dari pasangannya. Itu juga perlu. Terkadang cara pikir kita berbeda, budaya keluarga bisa saja berbeda, kebiasaan juga berbeda. Walaupun sebenernya tidak buruk namun belum tentu pasangan bisa menerima perilaku kita bukan?

Bersama dengan orang asing untuk suatu komitmen bukan perkara mudah. Butuh adaptasi yang bukan sehari dua hari, tapi bertahun-tahun. Terlalu banyak mengkritik pasangan juga tidak baik, tapi selalu 'membenarkan' pasangan dengan segudang kebiasaan atau perilaku yang membuat kita tidak nyaman juga gak baik. 

Yah, terkadang ada sih orang yang saking cintanya semua dibilang benar, semua dianggap setuju. Padahal kita juga punya hak berpendapat kan, di negara aja punya, masa di hadapan pasangan enggak punya? Hehehe....

Nah, esensi yang didapat dari lagu Tulus di atas adalah seakan-akan berkata :

"Please, bilang sama aku apa yang harus aku lakukan untuk jadi lebih baik.."

atau "kritiklah aku, gak papa kok...."

Ini disampaikan oleh pasangan yang ingin beradaptasi dengan baik atau memperbaiki diri. Harus dihargai? Jelas, dong... Siapa sih, yang gak ingin memberikan hal terbaik untuk pasangannya?


Saya sendiri juga gak luput dari kritik pasangan, apalagi jika jilbab yang saya gunakan pendek (tidak menutupi dada), terlalu sibuk sampai lupa istirahat, atau malas berolahraga. Hehehe... Saya juga terkadang minta dikritik tentang rasa masakan saya. Saya tetap merasa nyaman dan dicintai, karena saya tahu kami semua ingin berbuat dan memberikan suatu kebaikan bagi satu sama lain :)

Happy weekend, people..

Wednesday, August 27, 2014

Perempuan Diciptakan untuk Menderita?

Mengapa saat lelaki melecehkan perempuan, maka yang menanggung malu adalah perempuan?

Mengapa saat lelaki menginginkan keturunan, maka yang bertaruh nyawa adalah perempuan?

Mengapa saat lelaki kalah dalam hidup, maka yang berjuang untuk melanjutkan hidup kemudian adalah perempuan?

Mengapa saat lelaki meninggal dunia yang menjadi janda hanyalah istrinya (perempuan), bukan keluarganya?

Mengapa saat proses perceraian pun lelaki diperbolehkan untuk menikah meskipun tanpa izin perempuan yang akan menjadi mantan istrinya?

Mengapa saat lelaki menyakiti istrinya, maka ibu dari lelaki tersebut yang bertanggung jawab secara moral atas anaknya?



Perempuan....
Diciptakan dari rusuk seorang lelaki. Namun mengapa sering disakiti?

Perempuan....
Banyak yang bilang ia adalah tiang peradaban. Madrasah pertama anak-anaknya.
Kelak menciptakan generasi terbaik.

Apakah mungkin generasi terbaik diciptakan dengan hati yang luka? Dengan fisik yang ringkih? Dengan batin yang tertekan..... karena disakiti?


Aku juga perempuan, aku seorang muslimah, dan Islam sangat menjunjung tinggi kehormatan perempuan.
Namun apakah mungkin seorang lelaki yang tak teguh dalam Islam-nya akan memahami itu?

Maka, mencari seorang lelaki yang taat dan paham dalam agama sudah menjadi wajib. No excuse.


Wahai lelaki,
Jika berani kau menyakiti perempuan walau sekali saja,
Apakah yakin masih ada keberkahan dalam hidupmu?



Bekasi, 27 Agustus 2014
Widy Darma

Tuesday, July 22, 2014

Cantik-Cantik Kok Tega, sih?

Beberapa waktu lalu saya sempat menggunakan Commuter Line (CL) setiap harinya. Selama 4 bulan lebih saya magang di Kebayoran Baru dan lebih memilih menggunakan kereta PP setiap hari daripada naik motor. Soalnya kalau naik motor badan pegal-pegal karena macet. Kalau naik kereta kan, bisa dengarkan musik atau main handphone tanpa takut kecelakaan. Bisa merem-merem ayam pula, hehehe...

Iya, saya tahu.... Dunia CL itu keras banget. Penuh sesak, dorong-dorongan sana-sini, kejepit pintu kereta, bahkan saya juga pernah terjatuh di pintu kereta karena terdorong. Yah... begitulah :D

Apalagi kalau pintu CL terbuka di stasiun berikutnya, udah kayak momen "THIS IS SPARTA!!!" di film 300. Hahahahaa..... *peluk Gerard Butler*

Tetapi satu yang memprihatinkan, betapa para gadis muda ini sekarang kurang peka.

Kemarin (21/7) saya naik CL gerbong wanita jam 5.30 dari Bekasi, saya mau mengantar ibu negara alias ibu saya hehehe mudik ke Stasiun Senen. Saat itu CL masih tidak begitu penuh, namun tidak satu pun gadis-gadis muda, energik, dan cantik memberikan ibunda saya tempat duduk. Padahal usia ibu sudah kepala 5, kerut wajahnya pun sudah jelas. Tak satupun yang peka, mayoritas pada merem-merem, entah merem beneran atau merem modus. Bahkan satu penumpang menggeser-geser ibu saya dari sandarannya di dekat pintu. Egois sekali....

Setelah mengantar ibu ke Stasiun Pasar Senen, saya naik CL lagi menuju Bekasi. Dari stasiun Kemayoran, saya transit di Jatinegara. Saat menunggu CL Bekasi, saya duduk bersebelahan dengan seorang ibu hamil. Ia terus mengusap-usap perut besarnya sambil bergumam untuk menenangkan anaknya yang terus menendang-nendang di dalam perut. What a lovely moment.... 

Namun haru saya berganti kesal saat di dalam kereta saya melihat ibu hamil itu tidak mendapat duduk, dan lagi-lagi tidak satu pun orang yang memberikannya duduk di gerbong wanita. Setelah lewat Stasiun Klender, baru lah satpam gerbong meminta penumpang lain untuk berbagi tempat duduk. Itupun susah. Perempuan-perempuan muda yang duduk tak juga mau berdiri sebelum satpam mengeluarkan nada agak memaksa.

Bumil berdiri di dalam Communiter Line Bekasi (21/7)
Sumber : Path Pribadi


Cantik-cantik kok pada tega, sih?

Dear, gadis muda... Kemana nurani kalian?
Semesta tak tidur, cantik... Ia terus berjalan dengan keseimbangannya, dan menyeimbangkan apa yang kamu perbuat. Sungguh...