Senin, 08 September 2014

Pinter Keblinger, Pelegalan Nikah Beda Agama

Standard
Menuntut ilmu di lembaga pendidikan tinggi memang membuat kita berpikir lebih luas, lebih dalam, dan lebih logis. Di bangku perkuliahan kita mendapat beberapa mata kuliah seperti filsafat, logika, dan etika. Jika saat SD - SMA kita sering mendapatkan pengetahuan tanpa bertanya, saat kuliah justru 'dibentuk' menjadi lebih kritis dan berusaha mencari jawaban dari 'mengapa', 'mengapa', dan 'mengapa'.

Tapi tak lantas melupakan ajaran agama yang tertanam sejak kecil, walaupun (mungkin) dulu kita hanya diberikan pengetahuan agama tanpa tahu maksudnya. Tak pernah terlintas mengapa harus sholat, harus mengenakan jilbab, harus puasa, harus berzakat, dan lainnya.. Semua hanya dipahami sebatas perintah atau larangan Alloh saja.

Apa pantas mendebat keberadaan Alloh, hukum-hukum Alloh? Mendebat apa yang jelas tertera salah menjadi benar, dan benar menjadi salah?

Jujur, saya kesal seketika saat membaca atau mendengar pemberitaan tentang seorang mahasiswi hukum UI yang mengenakan jilbab dan berusaha melegalkan pernikahan beda agama. Kesal sekali... Karena tak berani marah-marah di media sosial, saya keselnya di blog saja ya... Hehehe... :)

Berita yang bikin kesal :p

Sebenarnya, menyatakan pendapat dan pemikiran tak salah di negeri ini pun menjadi hak tiap manusia. Namun hal itu pasti tak akan dilakukannya jika ia memahami Islam lebih dalam. Terlebih yang sependapat dan membenarkan tindakannya dengan sejuta argumen kesetaraan, kemajemukan, atau apalah itu yang intinya hendak meng-universal-kan agama. Saya pribadi tidak suka agama dicampur-campur seperti itu, karena agama bukan es campur.

Kelihatannya pinter sih berargumen panjang lebar, tapi pinter keblinger itu namanya. Akal dari Alloh kok dipakai untuk melawan Alloh? Bukan kah itu sombong?

Islam bukan sekedar agama, bukan sekedar keyakinan. Islam itu ideologi, panduan hidup, walau gak mudah sih menerapkannya. Namun tanpa panduan hidup dari Alloh, pasti hidup akan terasa 'hilang'. Saya seorang muslimah, dan berusaha selalu mempertahankan keyakinan saya. Tak masalah jika ada yang berpendapat fanatik atau berlebihan. 

Saya sendiri sudah lelah mendengar perdebatan tentang Tuhan. Tuhan dimana? Apa Tuhan ada? Pernah juga ditanya orang 'Kamu Islamnya, Islam apa?', dan dituduh jilbab adalah pakaian SARA. Saya tipikal yang tidak suka mendebat dan lebih memilih menjawab "Di agama saya, pakai jilbab itu waji. Perintah Alloh, no excuse..". Terlebih masalah pernikahan beda agama, jika seorang wanita menikah dengan non-muslim maka haram hukumnya... ya haram. Lagipula apakah semudah itu seorang muslimah menyerahkan keyakinannya kepada seorang pria yang baru dikenalnya?

Hati-hati... Semakin sering mendebat Alloh, nanti malah benar-benar dicabut nikmat iman & Islam kamu dari-Nya.

Jika tak lagi ada seberkas iman, apa masih yakin hidupmu akan tenang dan berkah?

17 komentar:

  1. Iya Mak, sedih, marah, kecewa saya membacanya. Tega dan lancang banget dia hendak merubah putusan Alloh dan rosulnya :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. na'udzubillah mak, bisa seberani itu :( antara kesel, marah, dan ngeri jadi satu denger beritanya...

      Hapus
  2. mereka cuma cari enak menurut mereka demi kepuasan dunia....
    ---
    bukan mencari kebenaran untuk kepentingan akhirat....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yaps mba.. nikah kan bukan cuma urusan kasur. Bukan cuma 'halal-halalan' ya :)

      Hapus
  3. Bener2 ya mbak, Ini bentuk kemerosotan akidah kayanya. Tantangan buat kita utk menjaga dan mendidik anak dg pondasi agama yg kuat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mba,, sekarang aku baru sadar pendidikan agama itu penting bagi anak. Paling utama, paling awal.. Sedari dini harus dikenalkan iman & Islam :)

      Hapus
  4. Sependapat ma ' waktu baca artikel itu bawaannya kesel,,nih org paham agama kaga sih...!! Ketetapan Allah yg sudah jelas di dlm Al Quran ko mw dirubah.udah keblinger itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saking pinternya, mak... Pinternya mau mengalahkan ketetapan Alloh :(

      Hapus
  5. Semoga segera keinginannya tidak dikabulkan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang sepertinya sulit dikabulkan mba.. Aku baca di http://www.republika.co.id/berita/nasional/politik/14/09/06/nbh31q-ini-alasan-nikah-beda-agama-tak-bisa-dilegalkan-di-indonesia

      Hapus
  6. Manusia itu kalau tdk mengenak Tuhannya akan jatuh ke lembah kesombongan.
    Selalu berdoa semoga kita dijauhkan dari sifat sombong

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamin... Apalah kita ini tanpa nikmat dari Tuhan :)

      Hapus
  7. Woo... setuju banget Mak.. kita sebagai hamba lebih mencari tahu asal muasal syari'at drpd untuk didebat dan ditentang..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yaps mak... dan untuk syariat memang no excuse :)

      Hapus
  8. iya, Mbak. Agama kan gak boleh disamaratakan. Kalau sudah milih Islam, yaa tinggal patuhi perintah yang ada.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sayangnya kultur 'agama keturunan' masih kental. Agama memang harus dicari mak, tapi muslim/muslimah muda yang mencari Alloh saat ini juga penuh dengan tantangan pemikiran liberal / sekuler...

      Hapus
  9. agama dan tuhan manusia sendiri kali yg bikin..:)

    BalasHapus