Rabu, 11 Maret 2015

Buat Kamu yang Bilang Bekasi Alay dan Norak

Standard
Kemarin Kota Bekasi ku berulang tahun ke-18. Wow, masih abege ya? Hihihi... Berarti sudah 21 tahun saya hidup dan tinggal di Bekasi, sejak dahulu masih bergabung dengan Kabupaten Bekasi berubah menjadi Kotamadya Bekasi, dan sekarang jadi Kota Bekasi.

Bekasi tak hanya menjadi kota dimana saya tumbuh besar, namun saya juga menuntut ilmu di sana. Alloh membawa saya mengenyam pendidikan tinggi di Universitas Islam 45 Bekasi atau yang biasa dikenal dengan Unisma. Unisma sendiri juga didirikan oleh tokoh pendidikan asli Bekasi dan sekarang sudah memasuki usia yang ke 34 tahun.

Stadion Patriot Bekasi
Sumber : Dokumentasi Komunitas Foto Bekasi


Saat saya masih duduk di SD dan SMP, saya mendapatkan pelajaran muatan lokal Bahasa Sunda. Padahal kalau ditilik kembali, penduduk asli Bekasi tidak berbahasa Sunda. Mereka memiliki bahasa tersendiri dengan logat yang unik, orang biasa menyebutnya 'Bekasi Ora'.

Yups, Bekasi sebenarnya memang wilayah yang kaya akan sejarah dan budaya. Namun banyak sekali orang yang belum mengetahuinya, bahkan orang yang sudah puluhan tahun tinggal di Bekasi belum tentu mengetahui seluk beluk budaya Bekasi. Sedih kan? Hiks... Di sisi lain, pemerintah juga belum mengakomodir agar warganya dapat mengetahui dan mempelajari budaya Bekasi. Lah, orang muatan lokal di sekolah saja Bahasa Sunda, bukan Bahasa Bekasi? Bagaimana anak-anak pelajarnya mau mengenal budaya Bekasi?

Saya juga salah satu pelajar yang kagak ngarti nanan soal budaya Bekasi. Saya justru baru mempelajarinya saat duduk di bangku kuliah. Beberapa dosen saya adalah orang asli Bekasi yang masih concern dengan budaya Bekasi. Saat kuliah, saya baru mengetahui kalau Bekasi punya corak batik, punya makanan khas, sejarah 'Bekasi Lautan Api', punya pantai yang indah di Muara Gembong, punya air terjun di Narogong, dan lainnya.

Kesempatan membawa saya menjelajah berbagai kota di Indonesia dan bertemu dengan banyak pemuda-pemudi Indonesia dari daerah lain. Saya dengan bangga membawa identitas Bekasi dan memperkenalkan budaya Bekasi kepada teman-teman. Dalam beberapa kesempatan, para pemuda dipersilakan mengenalkan tradisi, budaya, pakaian, dan makanan khas daerahnya. Saya berusaha memanfaatkan kesempatan itu dengan baik. Saya bawa kue akar kelapa dan kembang goyang, saya bawa buku kamus bahasa Bekasi dan buku sejarah Bekasi yang ditulis oleh Dekan saya, Bapak Andi Sopandi.

Saat saya mulai bercerita tentang budaya Bekasi, biasanya teman-teman akan merespon :

Emang Bekasi punya budaya? Budaya apaan? Budaya alay?

Yah.. begitulah. Jauh dari sebelum Bekasi dibully di media sosial, Bekasi sudah dibully dalam benak anak muda ternyata :D


Bukan hal mudah mengenalkan sejarah dan budaya Bekasi kepada teman-teman. Beberapa justru menganggap remeh, apalagi kalau mendengar logat asli Bekasi, pasti akan diledekin norak.

Bagen ah dibilang norak, saya bangga menjadi pemuda Bekasi. Saya bangga mengenalkan sejarah dan budaya Bekasi. Saya nyaman tinggal di sini, berinteraksi dengan orang asli Bekasi. Saya bangga menggunakan baju tradisional Bekasi, baju Encim.

Widy di Konferensi Kebangsaan Indonesia Youth Forum 2013, Bandung
Sumber : Dokumentasi Pribadi


By the way, pemuda Bekasi nih lagi bangkit menurut saya. Lagi banyak komunitas-komunitas baru bermunculan. Saya yakin, ide untuk membangun Bekasi pasti akan semakin banyak. Sayangnya yang saya alami selama ini, justru kami para pemuda kurang diapresiasi. Yang banyak berkontribusi, turun tangan langsung membawa perubahan Bekasi justru tak diperhatikan. Entah fokus pemerintah terhadap pemuda masih ke arah mana. Selama ini sih paling ada wadah untuk menyalurkan ide, tapi hanya sekedar jadi wadah bercerita saja. Pemerintah dan anak mudanya belum bersinergi langsung untuk membuat suatu program yang keren.

Kami pun seperti kekurangan ruang publik. Taman untuk kumpul-kumpul komunitas masih sedikit. Lebih banyak mall rasanya dibanding taman yang bisa kumpul gratisan kayak alun-alun (Bandung gitu yang ada rumput sintetisnya) hahahaha.... ngarep ya :D

FYI dulu saya juga sempat dikontak sama Pemerintah Kota Bekasi sih, saat jadi delegasi Kota Bekasi di Indonesia Youth Forum 2013. Cuma buat profilnya aja ditaruh di web pemkot, habis itu sudah tak ada follow up lagi. Cuma buat bangga-banggaan saja sepertinya :D

Meskipun masih banyak yang perlu diperbaiki dari kota tercinta ini, kita patut berbangga menjadi warga Bekasi, baik warga asli maupun pendatang. Yuk, sama-sama berkontribusi supaya kota yang kita huni ini lebih baik lagi. Dimulai darimana? Ikut musrenbang (musyawaran rencana pembangunan) RT kayaknya. Hahahaha, serius loh ini :)

Selamat ulang tahun Kota Bekasi,
Semoga tambah memanjakan warganya supaya bahagia,
Semoga tambah hijau,
Semoga tambah kompak pemerintah dan warganya,
Semoga makin banyak ruang publiknya,
Semoga makin keren komunitas-komunitasnya,
dan semoga Alloh senantiasa menganugerahkan pemimpin yang amanah untuk Kota Bekasi, aamiin...


13 komentar:

  1. Yang bilang alay itu karena belum mengenal bekasi dengan baik. Itu menurut pendapat saya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tak kenal maka tak sayang, kalau sudah kenal jadinya tambah sayang hehehe :)

      Hapus
  2. Bukannya akar kelapa, kembang goyang juga baju encim masuk budaya Betawi ya. Jadi bisa dibilang bekasi ini Betawi pinggiran gitu. Cmiiw

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama seperti berbagai wilayah di jawa tengah, daerahnya berbeda-beda tetapi ada beberapa budaya yang mirip. biarpun terlihat hampir serupa dengan betawi, bekasi tetaplah unik tersendiri :)

      Hapus
  3. Balasan
    1. betul, banyak sejarah & pahlawannya juga. satu lagi, bekasi kota ihsan :)

      Hapus
  4. padahal dalam lingkup JABODETABEK ya.... tapi terpinggirkan, bukan begitu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. yang lebih terpinggirkan Bekasi Kabupaten lebih tepatnya :)

      Hapus
  5. Epilog yg terakhir itu loh... Musbareng. Hmm gimana ya? Kayanya agak susah gitu bersinergi dengan generasi diatas kita, apalagi kalo perpanjangan pemerintah tersebut dipilih secara turun temurun *eh Ada ya dipilih turun temurun? Hehehe

    BTW, kotamadya itu beda ya sama kota? Kukira kota itu bahasa keren dari kotamadya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. ehehehe memang susah mba musrenbang itu. gimana caranya ngumpulin ide2 pembangunan dari tingkat RT, disaring teruuusss sampe tingkat kelurahan, kecamatan. makanya terkadang jalan lama diperbaiki, fasilitas masyarakat lama dibangun, karena memang sistemnya juga panjang. makanya kita warga berhak kasih masukan di musyawarah rencana pembangunan supaya tahu benar mana yang urgent dibangun/diperbaiki.

      Hapus
  6. Aku suka kok tinggal di Bekasiii.. malah mumet klo harus ke Jakarta.. ahahahaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kirain saya doang yang ngerasa mumet kalau ke Jakarta hehehe.... Iya mak, alhamdulillah beraktivitas di Bekasi agak tenang, gak se-stress kalau harus ke Jakarta. Alhamdulillah juga kuliahnya di Bekasi dan sekarang kerjanya masih di Jakarta Timur yang deket banget sama Bekasi Barat :D

      Hapus