Sunday, January 20, 2013

Aku Bertemu Malaikat


Pernah bertemu malaikat? Saya pernah, baru bertemu lagi kemarin malah.

Ada pepatah kuno jawa kurang lebih bunyinya seperti ini :
“Yen siro dibeciki liyan tulisen ing watu kareben supoyo ora ilang lan terus kelingan"

Kurang lebih artinya jika kamu mendapatkan kebaikan dari orang lain, tulislah di batu supaya tidak hilang dan terus teringat. Nah, berhubung saya tidak bisa menulis di batu jadi saya tulis di blog saja, ya! Hehehe...

Saat yang paling mengharukan saat reuni adalah bertemu salah satu malaikat dalam hidup saya. Ya, dia malaikat. Wanita luar biasa yang pernah saya temui. Baterai semangat abadi yang pernah saya dapatkan. Beliau adalah wali kelas saya, Ibu Sri Riyanti.


Ini pertemuan pertama saya kembali dengan beliau sejak lulus tahun 2008. Artinya, hampir lima tahun kita tidak bertemu. Sejak pagi reuni dimulai, saya terus mencari sosoknya. Namun karena kesibukan sebagai panitia, saya baru bisa bertemu dengannya saat sesi makan siang. 

Rasa haru dan kangen bercampur aduk saat menyapanya, memeluknya, dan mencium tangannya. Beliau masih sama seperti lima tahun yang lalu, masih cantik dan sapaannya begitu hangat. Kami berbincang seru sekali, bertukar cerita tentang banyak hal.

Di akhir pembicaraan sebelum beliau pulang dari Aula Pandansari, Wiladatika Cibubur :
"Widya, jangan pernah lupakan Ibu ya.."
"Enggak, Ibu... Enggak akan pernah lupa"
Ibu Yanti, salah satu alumni Ditkesad angkatan 1987, adalah guru di sekolah saya. Beliau mengajar Farmakologi, salah satu pelajaran yang paling saya sukai. Beliau pernah menjadi wali kelas saya saat duduk di kelas 3.

Secara fisik, beliau memang kurang sempurna. Kakinya ditopang kerangka besi dan sedikit sulit berjalan. Saya sempat iba dan bingung melihatnya saat masih kelas 1. Saat itu saya belum diajar oleh beliau. Kami baru dipertemukan saat saya duduk di kelas 2. Beliau adalah guru yang hebat dan sabar. Super sabar, malah!

Saya adalah siswa yang suka konyol (plus dodol) saat praktikum resep. Saya masih ingat saat itu sedang mempelajari pembuatan sediaan obat emulsi. Emulsi adalah cairan yang terdiri dari campuran minyak dan air. Saya gagal terus membuat emulsi. Sampai tiba saya putus asa dan kesal sendiri, saya menyerah. Saya pun membawa hasil emulsi buatan saya kepada Bu Yanti yang menjadi pengawas praktikum di deretan meja saya. Bukannya memarahi saya, Bu Yanti malah mencontohkan cara pembuatan emulsi langsung di depan saya.

Nilai ujian saya saat sekolah sangat fluktiatif. Bukan, bukan karena saya pacaran. Pacaran itu gak ngaruh sama nilai-nilai saya. Saya adalah orang yang sangat moody dan pembangkang. Kalau mau belajar tapi saya gak mood, ya saya tidak akan belajar. Begitu juga saat ujian. Walau sudah belajar serius, kalau saat ujian gak mood pasti hasilnya hancur. Mungkin lebih tepat disebut pemalas ya, menuruti kemalasan diri (baru sadar).

Siang itu ulangan harian Farmakologi saya dapat nilai 20. Saya dipanggil Bu Yanti, wali kelas saya.

"Widya, saya memperhatikan nilai kamu sering naik turun. Gak cuma di pelajaran saya saja, hampir di semua pelajaran. Hari ini kamu bisa dapat 100, besok kamu dapat nilai 20, 40. Turunnya jauh banget, gitu.. Kamu gak belajar kan?"

"Saya belajar bu, tapi nge-blank begitu aja. Saya suka hilang mood"
"Itu artinya kamu gak belajar"
"Saya belajar, bu.. Beneran"
"Terus mau sampai kapan kamu begini? Bisa saja ulangan harian terakhir kamu dapat 100, tiba-tiba pas UAN Kompetensi kamu dapat 20 gimana? Ini membahayakan kamu"

Otak saya serasa disiram air es. Kaget, akhirnya jadi berfikir. Bu Yanti tidak begitu banyak menasihati selain belajar dengan lebih baik dan memberikan saya sebuah buku berjudul "Belajar Rasa Coklat". Buku ini penyelamat mood saya saat ujian akhir kelas 3. Semenjak saat itu saya berprinsip, belajarlah seperti makan coklat. Memahami dengan baik apapun materinya dan siapapun yang mengajar. Nilai ujian saya ajaib, seluruh pelajaran kefarmasian bisa mendapat nilai di atas 90. Menjadi peringkat ke-9 di sekolah dan ke-37 SMF se-DKI Jakarta. Satu prestasi besar untuk anak keras kepala dan malas seperti saya.

Bu Yanti itu ajaib. Beliau bisa tahu bakat dan minatku bahkan sebelum orang lain bisa melihatnya. Sejak sekolah saya senang menulis dan pernah menjadi ketua majalah dinding. Mungkin dari situ Bu Yanti membuat penilaian sendiri tentang saya.


"Widya, kamu cocok deh kayaknya kalau sekolah publisistik"
Apaan tuh, publisistik? Namanya saja baru dengar. Gak kebayang bakal belajar apa di sana. Saat itu saya tak menggubrisnya, mungkin sekedar celotehan beliau belaka.

....Voila! Ternyata saat ini saya duduk di bangku kuliah dan belajar publisistik alias Public Relations. Di dunia ini lah saya merasa nyaman dan menjadi diri saya sendiri. Bu Yanti bisa tahu bahkan sebelum saya menyadarinya sendiri. Ajaib kan? Amazing... Amazing...

Setelah ujian, saya dan teman-teman sering bercerita dengan beliau di waktu luang menunggu kelulusan. Beliau memberikan nasihat kepada saya dan teman-teman Cremyund (gank saya saat SMA) yang tak akan pernah saya lupa :

"Nak, Ibu butuh waktu puluhan tahun untuk membuktikan pada orang-orang bahwa ibu juga bisa seperti orang kebanyakan, untuk mereka hargai. Kalian yang dianugerahi fisik sempurna, bersyukurlah. Berusahalah, jangan patah semangat dan gampang menyerah."

Begitulah sosok Bu Yanti. Malaikat itu berwujud guruku.

Saturday, January 19, 2013

Anothero 'Farmo Murtado'


Saatnya bilang "FIUUUHHH" setelah menjalani rutinitas ujian akhir semester beberapa minggu ini. Sebenarnya belum selesai, sih.. Karena masih ada beberapa ujian praktikum yang ditunda akibat bencana banjir dan baru diselenggarakan minggu depan.

Hari ini, Sabtu (19/1) saya mengikuti kegiatan Reuni Akbar SAA/SMF Ditkes TNI-AD, sekolah saya. Menurut saya, reuni kali ini tuh WOW banget! Bagaimana tidak, ada 41 Angkatan dan 3 angkatan adik kelas yang masih bersekolah saat ini hadir juga. Gila gak, tuh! Satu kebanggan juga punya keluarga super besar seperti ini. Ada yang sudah kakek-nenek, bahkan yang masih remaja oenjoe. Kalau saya menjelang dewasa tapi semangat oenjoe terus dong! Hahahaha..

Suasana Reuni Akbar SAA/SMF Ditkesad (Foto : Pribadi)
Seluruh hadirin berdiri menyanyikan Mars KESAD (Foto : Pribadi)

Di acara reuni itu saya bertemu banyak orang yang sudah saya kenal dan yang baru saya kenal. Saya curi ilmu mereka sebanyak-banyaknya sadar atau tidak sadar. Banyak nasihat dan supply semangat yang saya dapatkan. Ternyata kakak-kakak alumni juga banyak yang 'murtad' dari farmasi, seperti saya. Bahkan ada yang menjadi pejabat bank Mandiri, manajer perusahaan perminyakan, enterpreneur, dll.

Sejak lulus, saya baru sekali bertemu salah satu orang yang punya jasa besar dalam hidup saya. Namanya Pak Heru Purwanto. Beliau adalah guru di sekolah, alumni SAA Ditkesad angkatan 1975, dan ayah angkat saya. Beliau yang menjadi orang tua asuh dan membiayai sekolah saya di Ditkesad yang supermahal. Di acara reuni ini, beliau menjadi inisiator dan ketua panitianya. Saya belum bisa membalas kebaikan beliau, saya hanya bisa sedikit membantu dengan waktu dan tenaga yang saya punya. Anyway kemarin beliau nyanyi lagu blues di acara reuni, lho! Keren abis.

Pak Heru on the stage (Foto : Pribadi)
Pak Heru sendiri tidak melanjutkan studinya di farmasi, melainkan mengambil sarjana hukum di Universitas Indonesia. Saat ini ia bekerja di bagian investitasi Badan POM. Kalau ada sidak tahu formasil, ekstasi, dll, pasti beliau sering muncul di TV deh! Hehehe..

"Gak ada yang salah sama apa yang kamu lakukan, Widya.. Semua ilmu baik untuk dipelajari. Meskipun awalnya ditentang keluarga, tunjukkan terus prestasi kamu. Insya Alloh kamu bisa jadi orang sukses"
(Ibu Nina - Alumni angkatan 1975, Senior Product Manager di sebuah perusahaan farmasi)

Paitia Reuni Akbar berpose setelah acara selesai


Friday, January 18, 2013

Main Kano di Kampus

Banjir menyelimuti kampus Unisma Bekasi Kamis (17/1). Bencana ini berdampak pada ujian Akhir Semester mahasiswa akhirnya ditunda hingga minggu depan. (Foto : Malikus Sumadyo)






Wednesday, January 9, 2013

Lebih Baik di Sini

... Rumah kita sendiriiiii.. Uwooooooouuuuu (sambil pegang sisir)

Well, saya memang hanya seorang penyanyi kaca rias professional. Tetapi menyanyi kali ini dari hati, pakai emosi, emosi isi kacang ~> sok lucu. Postingan pertama saya di tahun 2013 ini rada gak penting tapi boleh banget dibaca, hehehe..

Seminggu yang lalu ada pelatihan jurnalisme online di kampus dari Republika. Seru sih, seru banget malah! Saya memang tertarik dengan media sosial dan website untuk korporat. Saya juga suka menulis di blog atau Facebook. Saya hiperaktif di Twitter (dadah-dadah sama followers yang baca). Saya suka melepaskan kejaiman di Tumblr. Yah, semuanya buat happy-happy dan sharing aja kok!

Awalnya, saya senang banget pemimpin redaksi Republika Online, Bang One, bilang :

"Kami akan memberikan satu kanal untuk Unisma di ROL (Republika Online). Kalian bisa menulis apapun yang kalian suka. Namun, tetap melalui editor, no SARA, dan tulislah dengan kaidah bahasa yang benar"

Wow, that's great! Ini tandanya, tulisan kita bisa muncul di media dan dibaca lebih banyak orang. Republika Online juga bisa dimanfaatkan sebagai media partner untuk acara mahasiswa. Bisa buat curhat juga, curhat yang menyangkut kepentingan publik ya! Hehehe..

Dengan semangat 45 seperti nama kampus, saya pun menulis dengan penuh gairah. Apalagi, ROL memberikan kompetisi berhadiah jika tulisannya dibaca banyak orang. Jum'at malam (4/1) , saya sudah mengirim tulisan saya ke email redaksi ROL to Campus. Apa daya, sampai hari Minggu tulisan saya tak juga terbit.

Heran, bingung, penasaran, takut. Apa tulisan saya segitu jeleknya sampai tidak dimuat di media (onlie!), atau memang salah kirim email, atau masuk spam, atau gagal? Saya cek kotak terkirim, eh ada! Akhirnya saya coba mengirim ulang Minggu malam, sambil berdo'a semoga bisa segera tayang.

"Wid, tulisan lo naik nih di ROL!" kata Jessi di laboratorium komunikasi Senin (8/1) kemarin.

Saya pun langsung nyusruk saking semangatnya lihat tulisan saya sendiri. Lingkaran browser berputar-putar, tanda sedang loading. 3... 2... 1...

"LAAHHH... KOK BEGINI SIH????"

Saya terkejut dengan hasil tulisannya. Syock anafilaksis. Ini kayak bukan saya yang menulis. Mau protes bagaimana? Kalau dosen Penulisan Humas saya lihat pasti dikritik habis deh! Judulnya gak catchy banget. Mau nangis, meringis, mau pipis, yah.. apa boleh buat hati cuma bisa kinyis-kinyis.

"Baru ngerasain ya, gimana ngenesnya masuk meja editor?" ledek Bubul, salah satu anak Panglima yang masuk konsentrasi Jurnalistik. Kalau mereka sih, sudah sering menderita sindrom ngenes gara-gara editor. Hahaha..

Then, saya memutuskan tetap menulis di blog ini. Secara bisa menulis sesuka saya, tanpa editing.

I love you more, blog! xoxo

NB : Yang mau lihat bagaimana tulisan saya before and after mampir ke editor, silakan klik di bawah ini