Wednesday, April 15, 2020

Maaf Ibu, Saya Ingin Jalani Hidup Apa Adanya

Sebagai anak muda, saya ingin jalani hidup apa adanya dan tanpa syarat ketentuan dari orang lain, termasuk orang tua. Saya tidak ingin apa yang saya lakukan didekte oleh orang lain. Ibu saya punya keinginan saya masuk ke dunia kesehatan, namun saya tidak mau. Saya malah memilih jalan hidup yang lain. Akhirnya saya jadi berkonflik dengan ibunda di tahun 2010 sampai 2013.

Jalani Hidup Apa Adanya
Foto : Canva





Mencoba Mengikuti Keinginan Ibu

Saat lulus SMP, ibunda bersikeras meminta saya melanjutkan sekolah ke SMF (Sekolah Menengah Farmasi). Padahal saya ingin ke SMA saja. Saya tetap ikut seleksi penerimaan SMA dan berhasil masuk ke SMA unggulan di Jakarta Timur. Namun ibu meminta saya untuk ikut seleksi SMF nomor 1 di Jakarta milik TNI, ternyata saya lolos juga. Hehehe... Ujung-ujungnya, tetap saja saya diminta mengikuti keinginan ibu, dengan iming-iming nanti kamu pakai jas laboratorium setiap hari. Wah, keren juga kalau dipikir-pikir (pada saat itu).

Ternyata sekolah farmasi tak seindah yang dibayangkan. Baru satu kali ulangan harian, saya sudah menangis saat belajar di rumah, materinya sulit. Bukan saya saja sih, yang stress. Banyak teman saya yang stress juga. Curhat-curhatan sama sahabat, mereka juga suka kebayang "seandainya gue gak sekolah di sini ya". Ya ampuuun... Sama! Saya juga suka membayangkan saya masuk ke SMA yang saya inginkan, saya turun sekolah di sana, saya pakai seragam putih abu-abu. Pokoknya stress banget pada saat itu.

3 tahun sekolah, akhirnya saya lulus juga di tahun 2008. Alhamdulillah, bisa lulus dengan nilai baik (banyak lika-liku dan usahanya pasti hehehe). Ibunda sebenarnya menginginkan saya masuk ke sekolah farmasi agar mudah mencari kerja. Ya, ibu saya orang tua tunggal. Beliau membiayai saya dengan susah payah. Beliau ingin saya bisa mandiri, membiayai kuliah sendiri. Benar saja, belum 1 x 24 jam pelantikan Asisten Apoteker, saya sudah dipanggil bekerja di salah satu RS Swasta di Jakarta Timur. Ibu senang sekali saya diterima bekerja dengan cepat. Saya juga bahagia bisa dapat tempat kerja yang lumayan dekat hanya 30 menit dari rumah.

Waktunya Berputar Arah

Saya bekerja di RS tersebut selama hampir 2 tahun. Sebenarnya tempat kerjanya baik, teman-teman kerjanya juga baik, namun entah mengapa saya suka menangis setelah selesai jam kerja. Rasanya capek banget, bukan capek fisik, namun batin saya menjerit seakan "ini bukan tempat gue". Bagaimana rasanya bekerja dengan hal yang bukan menjadi minat kita? Hemm... Cukup tersiksa. Apalagi kalau ditambah habis dimarahin dokter atau pasien. Hehehe...

Diam-diam tanpa sepengetahuan ibunda saya mengumpulkan uang untuk kursus Desain Grafis. Di tahun 2009 saya senang sekali menggeluti hobi fotografi dan blog. Batin saya berkata "saya mau belajar desain grafis", walau biayanya cukup mahal hampir 2x gaji saya pada saat itu. Hehehe...

Selesai kursus, hasrat saya makin menjadi untuk meninggalkan dunia farmasi. Hidup saya semakin 'jelas', saya mulai tahu apa yang saya inginkan. Saya mencari banyak informasi mengenai jurusan perkuliahan yang mempelajari desain grafis di dalamnya. Ternyata saya bisa mempelajarinya di jurusan Ilmu Komunikasi. Di tahun 2010, masih jarang sekali kampus yang memiliki jurusan ilmu komunikasi. Ilkom belum populer saat itu, peminatnya juga masih sedikit.

Saat saya sudah yakin untuk kuliah komunikasi dan menentukan kampusnya, baru deh saya mantap maju ke ibunda. Saya mencoba mengutarakan apa keinginan saya. Lalu apa reaksi ibu? Menolak. Seratus persen menolak. Ibunda ingin saya meneruskan kuliah ke farmasi. Saya mencoba bercerita ke Bapak, eh malah Bapak ingin saya kuliah ke kedokteran. TIDAK MAUUUUUU.

Mungkin rasanya 'nanggung', saya sudah terlanjur masuk ke dunia farmasi. Bagi saya tidak ada kata terlambat untuk berputar arah, apalagi saya masih 19 tahun saat itu. Selain itu, tidak lepas dari stigma keluarga saya bahwa jurusan IPA lebih 'pintar' dari jurusan IPS. Masa' anak farmasi jadi anak komunikasi? :))


Hidup Tanpa Kepura-puraan

Saya tetap bersikeras masuk kuliah jurusan Ilmu Komunikasi. Saya pikir dengan keras kepala, ibu saya akan mengalah. Ternyata beliau malah ikutan keras. Beliau mempersilakan saya berkuliah di Ilmu Komunikasi dengan catatan tidak ada biaya kuliah dan biaya jajan dari ibu. Saya dengan darah muda yang sombong langsung menyanggupi perkataan ibu. Padahal waktu itu saya sudah resign dari rumah sakit, dan tidak punya pekerjaan. Hehehe... Yang penting uang masuk kuliah sudah ada :D

Alhamdulillah saya mendapatkan pekerjaan di sebuah apotek, walau jadinya 1/2 dari gaji saya di rumah sakit. Yang penting saya punya uang buat bertahan dulu satu semester. Dibela-belain makan ngepas, atau gak jajan asal motor bisa jalan. Itu pun saya bekerja di apotek hanya 10 bulan. Otak saya berpikir keras bagaimana saya bisa tetap kuliah. Akhirnya di semester 2 (sampai seterusnya), saya jadi hobi ikut beasiswa atau kompetisi. DEMI DUITNYA. Hehehe...

Susah juga ya, ternyata menjalani hidup tanpa kepura-puraan (dari ibu). Saya gak mau lagi jadi anak manis yang selalu ikut kemauan ibu padahal hati saya tidak suka. Walau hidup kere dan seadanya, saya bahagia bisa kuliah di jurusan yang saya inginkan. Rasanya setiap mata kuliah begitu menyenangkan. Ibu saya? Ya.. Masih tetap menunggu saya pulang, masih tetap masakin saya, walau saya masih suka dicemberutin. Hehehe...


Meraih Restu Ibu

Hubungan saya dan ibu menjadi sensitif sejak saya memilih kuliah Ilmu Komunikasi. Kami sebenarnya tetap berkomunikasi, hanya sedikit dingin saja. Di semester 5 saya bercerita ada pemilihan mahasiswa berprestasi. Satu kalimat ibu yang masih jelas saya ingat, "Kalau kamu mau ikut lomba Mapres, ibu restui kamu kuliah komunikasi". Hati saya bergetar, saya ingin dapat restu ibu itu. Saya mau ikut mapres, motivasinya cuma satu, Ibu.

Saya menjalani penelitian dan seleksi dengan serius. Saya semangat selain karena hadiahnya adalah uang senilai uang kuliah saya satu semester, saya akhirnya bisa mencoba meluluhkan hati ibu. Saat tiba waktu pengumuman, saya tidak menyangka bisa meraih juara 1 tingkat universitas. Ibu bahagia sekali waktu itu. Akhirnya beliau bilang "Ibu sudah ikhlas kamu ada di komunikasi, memang itu dunia kamu". MaasyaAlloh, senang sekali rasanya.

Percaya tidak percaya, seorang ibu memang perpanjangan dari tangan Sang Pencipta untuk kita di dunia. Setelah ibu merestui jurusan saya, rasanya hidup muluuuussss banget kayak muka artis pakai skincare mahal. Saya dapat tempat magang yang keren, saya dipermudah cari tempat penelitian skripsi, lulus dengan predikat cum laude, dan diterima di kantor impian saya. Soal uang kuliah, oh tentu saja ibunda tidak perlu repot mikirin bayar kuliah, karena pekerjaan bagus silih berganti datang. Benar-benar rasanya hidup ringan sekali.


Terus Jalani Hidup Apa Adanya

Setelah konflik itu, kami sama-sama belajar. Ibu belajar mempersilakan anak-anaknya menentukan apa yang menjadi impian juga cita-cita mereka. Kedua adik saya masuk ke jurusan yang mereka inginkan. Padahal sebelumnya ibu saya sudah kepingin memasukkan adik-adik saya ke jurusan yang ibu mau. Hehehe.. Jangan terulang lagi ya, Bu! Saya juga belajar dalam keadaan apa pun, harus tetap berhubungan baik dengan orang tua, harus punya ridho orang tua (sekarang ridho suami hihihi).

Saya bersama ibu dan kedua adik
Foto : Dokumentasi Pribadi


Di tahun 2016 saya juga membuat keputusan besar dalam hidup, yaitu menikah dan berbisnis.  Saya memang suka mengambil keputusan tanpa basa-basi. Hehehe.. Padahal karir saya sedang bagus saat itu, kantornya juga salah satu kantor impian di Indonesia. Ibu saya khawatir apakah bisa bisnis saya dan suami berkembang, bisa menghidupi keluarga kecil kami? Saya hanya menjawab "Doakan ya, bu.."



Sampai saat ini, saya masih terus jalani hidup apa adanya, tanpa kepura-puraan. Rasanya bahagia menjalani apa yang kita inginkan. Seperti IM3 Ooredoo, provider yang menemani produktivitas bisnis kami sejak 2014 silam. IM3 Ooredoo menghadirkan freedom internet , sebuah produk telekomunikasi yang simple, bebas syarat dan ketentuan. Internetan tanpa tipu-tipu bikin bisnis semakin produktif. Unggah banyak foto produk, balas pesan pelanggan seharian, gak masalah dong!

19 comments :

  1. Sukses terus ya mba meraih cita2 apa pun itu smangat. Konfliknya aku merasakan banget nih dr tulisannya. Mdh2an yg terbaik selalu utk mba dan keluarga ya. Amiin

    ReplyDelete
  2. Masya Allah, perjuangan banget ya Mbak? Memang hidup berpura-pura itu nggak nyaman. So, lepaskanlah semuanya. Jalani hidup senyaman kita. Semoga sukses slalu ya Mbak.

    ReplyDelete
  3. Restu Ibu emang segalanya yah mba, dan apapun yang akan kita lakukan kalo dengan Restu Ibu insa Allah berjakan lancar dan bisa jalaninnya dengan tenang tanpa ngumpet2 atau pura2 lagi :)

    ReplyDelete
  4. Ada kalanya memang kita harus menuruti kata hati sendiri, karena sejatinya yang paling mengerti apa yang kita mau hanya kita sendiri.

    Ikut bahagia dengan caramu berjuang dan ending ceritamu yang berakhir manis kak, sukses selalu ya.

    ReplyDelete
  5. Restu Ibu, segalanya ya Mbak Wid. Bersyukur Ibu selalu mendukungnya. Menjalani hidup apa adanya ya lebih bersyukur untuk saat ini dan seterusnya .

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah restu ibu keluar. Dan kita bisa menjalani apa yang menjadi pilihan

    ReplyDelete
  7. Ikut bahagia Mbak. Akhirnya bisa bekerja sesuai minat ya. Saya yakin ibu pun ikut bahagia walau tidak melanjutkan kerja di farmasi. Bagi seorang ibu kan yang penting anaknya bahagia, apapun pekerjaan yang mereka pilih :)

    ReplyDelete
  8. Masya Allah sekali perjuangannya Mba. Bangga. Semangat selalu mengejar hal yang Mba suka. Luar biasa perjuangannya sampai Mba akhirnya bisa mendapatkan testu dari ibunda.

    ReplyDelete
  9. Momen memilih jalur pendidikan sering kali banyak menghasilkan cerita berliku, ya. Tapi Alhamdulillah kalau hasilnya bisa baik dan berdamai dengan tenang.

    ReplyDelete
  10. Masya Allah kak, perjuangan membuahkan hasil ya. Salut sekali sama perjuangan kakaknya yang berani putar arah sesuai passion, sukses terus ya kak

    ReplyDelete
  11. Keren mba perjuangannya yg gigih sampai dapat restu ibu akhirnya. Semoga tetap smangat ya dgn hidup dan aktivitas seduai passion.

    ReplyDelete
  12. Emang hidup lebih asik kalo kita apa adanya yaah mik, bukan ada apanya. Bebas memilih jadi apa yang kita suka, dan apa yang kita mau. Semangat selalu umikku :*

    ReplyDelete
  13. Betul sekali, hidup emang tidak boleh dengan kepura-puraan, aku sedih aja ada sesuatu yang memang tidak diperbolehkan oleh ibu, tapi aku tetap berusaha mencari jalan yang benar

    ReplyDelete
  14. Masya Allah, aku baru tahu ceritanya, terharu iiiih. Struggling dengan cita2 yang gak sejalan dengan keinginan Orangtua memang gak mudah ya, aku sempat jadi Anak yang bersebrangan juga dengan Mama, hingga akhirnya merantau ke Ibukota, banyak air matanya. Saat restu Mama terucap, itu rasanya luar biasa, kerja keras pun rasanya lebih ringan dijalani. Hiksss, jadi keingetan gak bisa mudik tahun ini, monangiiis, wkwk

    ReplyDelete
  15. Dulu waktu pertama kali denger cerita mba Wid pengen kuliah komunikasi luar biasa perjuangannya ya. Keren loh itu. Baca cerita ini, jadi ingat dulu. Dulu aku cita-cita kuliah film malah ga boleh sama bapak. Katanya jauh, saat diminta jadi pendidikan, aku belok ambil ekonomi hehe.

    ReplyDelete
  16. Subhanallah.. cukup berliku perjalanannya. Tapi aku aalsa sama kakaknya yang tetap gigih mempertahankan passionnya sehingga bisa meraih Restu ibu

    ReplyDelete
  17. Walau punya pengalaman beda pilihan jurusan saat kuliah. Tapi, senyum ibu tetap merekah saat momen foto wisuda.

    Bahagia sesederhana itu 👍

    ReplyDelete
  18. wahh saya terharu banget sih mba bacanya, semangat terus yaa buat kita. semoga selamanya kita bisa membuat senyum manis bertengger di bibir ibu kita :)

    ReplyDelete