Selasa, 15 November 2016

Bolehkah Mencantumkan Nama Percetakan di Undangan Pesanan?

Standard
Beberapa waktu lalu ada yang berkomentar di tulisan saya dan membuat saya 'tersentil'. Ia bertanya apakah boleh percetakan mencantumkan namanya di bagian belakang undangan?

JEDERR!!!!

Kayak kesamber geledek ya, agak menyindir gitu berhubung saya dan suami juga tukang bikin undangan. Hehehe... Boleh gak, ya? Heem.....

Boleh gak yaaa?
Foto : Facebook Undangan Murah Bekasi edited by picfont(dot)com 


Pencantuman Nama Percetakan di Undangan

Sebenarnya dalam tulisan kali ini saya juga (serius) kepingin bertanya kepada teman-teman, jika teman-teman pesan undangan dan dicantumkan nama percetakan di bagian belakang undangannya, apakah teman-teman keberatan?

Di satu sisi, pencantuman nama percetakan ini berguna juga sih. Misalnya ada teman yang tertarik dengan model undangan tersebut atau sedang mencari referensi percetakan pembuat undangan, maka nama dan kontak yang ada bisa jadi referensi. Eh, tapi kok ini malah menguntungkan percetakannya ya? Lalu, keuntungan untuk customer-nya apa dong? *jadi galau*

Di sisi lain, pencantuman nama dan kontak percetakan bisa agak menganggu dan mempersempit 'layout', meski bagaimanapun tergantung percetakannya membuat desain undangannya sih. Hehehe...

Salah satu produk dari undanganbekasi.com
Foto : Percetakan Widy

Etika Pencantuman Nama Percetakan di Undangan

Lalu, apakah boleh mencantumkan nama percetakan di undangan pesanan?

Menurut hasil diskusi saya dan suami (ini opini saja ya, gak saklek kok hehe), boleh-boleh saja namun harus tetap ada etikanya. Ini masalah komunikasi sih, sebenarnya.

Jika percetakan ingin mencantumkan nama dan kontaknya, sebaiknya meminta izin terlebih dahulu kepada customer. Biar bagaimanapun juga, produk yang dipesan nantinya akan jadi milik mereka. Apalagi jika desainnya berasal dari customer-nya, kita yang membantu merealisasikan keinginannya juga harus menghargai idenya. Permohonan izin ini sebenarnya biar nyaman di kedua pihak aja sih, kan gak semua customer berkenan ada 'promosi' percetakan di undangannya. 

Yap, pencantuman nama dan kontak percetakan juga merupakan bentuk promosi. Malah yang komentar di tulisan saya bilang 'Harusnya kan, kita dapat diskon ya mba?'. 

Nah, lho! Siap gak dengan konsekuensinya? Pemesan mempersilahkan pencantuman nama percetakan, namun percetakan juga memberikan diskon. Adil? Ya, adil sih kalau begini. Hehehe...


Undangan amplop desain terbaru yang harganya cuma Rp 1.200/pcs
Foto : undanganbekasi.com


Di undanganbekasi.com sendiri, kami memilih untuk tidak mencantumkan nama dan kontak percetakan dalam setiap pembuatan undangan. Sekalipun hanya berupa nama website kami. Meski begitu, alhamdulillah kami tidak jarang mendapat customer yang mengetahui produk kami dari undangan temannya. Mungkin dia nanya 'kamu bikin undangan di mana?'. Ada juga customer yang membawa temannya, sepupunya, atau saudaranya untuk memesan undangan ke tempat kami.

Kami berusaha mencari bentuk promosi dan publikasi alternatif selain mencantumkan nama percetakan di undangan pesanan customer. Dengan membuat hati kedua pihak nyaman dan tentram semoga membuat jualan semakin berkah. Aaamiiin....

Selasa, 25 Oktober 2016

Kisah Persahabatan Jaman SMA yang 4L

Standard
Kalau biasanya saya menulis tentang seluk-beluk dunia persiapan pernikahan, kali ini boleh ya postingannya curhat dikit (boong deh, curhat banyak sampe bawah). Hahaha.... Jadi persiapkan mata Anda supaya gak pegel baca curhatan saya ya.

Saya jadi kepikiran menulis artikel ini karena ucapan iseng ibunda yang heran dengan kelakuan muridnya. "Widy, ibu heran deh sama si A,B,C. Mereka itu sahabatan bertiga, satu geng gitu. Kemana-mana bertiga. Dari pagi sampai sore, ada aja yang bahan obrolannya. Sampai ibu tanya, apa sih yang kalian obrolin kok gak habis-habis? Katanya pulpen di atas meja aja bisa jadi bahan obrolan mereka. Ajaib ya, kayak kamu sama geng SMF kamu tuh!"

HUAHAHAHAHAHAHA...
Tiba-tiba saya langsung flashback ke masa remaja dulu.

Siap-siap curhat :D
Gambar oleh picfont(dot)com

Kisah Persahabatan Jaman SMA

Kalau orang-orang ngalamin jaman SMA, saya enggak. Agak beda dikit ya, saya masuk SMF (Sekolah Menengah Farmasi) yang isinya kata orang anak-anak pinter. Tapi gak tahu kenapa saya malah dapat temen yang sifatnya ada-ada aja :D Yaudah, anggap aja jaman SMA ya. Hehe...

Gak terasa sudah 12 tahun kami bersahabat. Terhitung mulai dari hari pertama masuk sekolah (Pra-Orientasi) sampai detik ini juga masih bersahabat. Kalau boleh bilang, mereka adalah sahabat paling awet yang saya punya.

Geng kami bernama 'Cremyund' atau paling enaknya dibaca kremian. Gak ngerti kenapa nama jijik ini dipilih, mungkin karena anak-anaknya gak bisa diem. Kami terdiri dari 9 orang, ada Tasya, Yuli, Widy, Lia, Vika, Niken, Nova, Risya, dan Yayah. 6 dari 9 personilnya sudah menikah, ada juga yang sudah punya krucil, namun alhamdulillah masih tetap main bareng sampai emak-emak begini :D

Sahabatan 4L (Lu Lagi, Lu Lagi...)

Sahabatan saya sama Cremyund ini adalah tipe 4L, alias 'Lu Lagi.. Lu Lagi..'.

Dulu jaman sekolah, kita berangkat sekolah bareng karena rumahnya sama-sama di Bekasi. Jadi kalau naik bus kota suka ketemu. Duduk sebelahan, istirahat bergerombol, sholat bareng, pulang sekolah ya pasti bareng karena busnya satu jurusan. Gak cukup di situ, kita se-geng juga pernah ngekost bareng. Jangan ditanya belajar apa enggak, soalnya udah pasti kegiatan utamanya adalah gosip a.k.a ghibah. Belajar itu kegiatan sampingannya hahaha... Nyuci, nyapu, ngepel aja sambil ngomongin orang :p

Trus kita puas gitu dengan ketemu 6 hari dalam seminggu selama 24 jam?

Enggak. Weekend kita masih pulang ke rumah bareng, hangout bareng, ngebolang bareng, nyasar bareng. Sampai di rumah pun masih SMS-an dan telfonan bareng sampai tengah malam. Pakai conference call indos*t yang Rp 1,-/per menit.

SEGITUNYA.
IYA, SEGITU GUE GAK BISA HIDUP TANPA MEREKA SAAT REMAJA. Huft....

Jangan ditanya kita pas remaja pada punya pacar apa enggak. Ada sih yang punya pacar, tapi kebanyakan ga awet. Yagimana mau perhatian sama pacar kalau masa remajanya habis sama sahabat yang model begini :D


Sahabatan 4L Jaman Emak-Emak

Meskipun udah jarang banget ketemu, tapi kita masih bisa bersua lewat dunia maya. Thanks Facebook, Path, dan Instagram :*

Setidaknya, meskipun ada beberapa yang di luar kota karena ikut suami, kita masih bisa bertukar kabar satu sama lain, berbagi gosip juga tentu. Gosipin temen-temen seangkatan, kakak kelas, atau adek kelas *lah :D Kalau sekarang suka lihat postingan lucu foto/video anak-anaknya.

Selain bertukar kabar (dan gosip), kita juga masih suka memberikan perhatian gak penting satu sama lain, kayak :

Lanjutan ke bawahnya sudah bisa dipastikan isinya gosip atau ledek-ledekan




Saya pun menjelaskan ke ibunda :

"Aku juga dulu begitu, bu"
"Iya ya, kamu dulu begitu tuh sama geng-gengan kamu. Apa aja diobrolin sampe tengah malem"
"Namanya juga abege.."
"Ih, gak kebayang kalau sampai dewasa masih suka ngobrol begitu ya"
"Lho, aku tiap hari chatting sama Tasya loh"
"Hah? Tiap hari?"
"Iya, ada aja yang diobrolin"
"Apaan?"
"Ya... apa aja. Hahahahahaha"

Kemudian ibu negara memandang saya dengan ajaib.




Sabtu, 22 Oktober 2016

Tips Mempersiapkan Mental Jelang Pernikahan

Standard
Mempersiapkan mental menjelang pernikahan memang tidak segampang makan gorengan pake cabe, terus minum. Hahahaha apasih perumpamaannya. Yang jelas mempersiapkan mental untuk menikah itu memang butuh banyak perenungan, diresapi dengan baik-baik, dan jangan baperan!

YAPS! JANGAN BAPER PLIS....

Menyongsong momen penting dalam hidup kita kayak lamaran, pernikahan, atau punya anak memang membuat hati jadi lebih sensitif. Tentu kita ingin semua yang terbaik soalnya ini momen yang luar biasa.

Sudah siap mental untuk menikah?
Gambar oleh picfont.com

Berbekal pengalaman dan petuah orang-orang (yang sudah saya seleksi hahaha), berikut rangkuman tips untuk para calon pengantin mempersiapkan mentalnya menjelang pernikahan.

1. (Mencari) Tahu Kewajiban dan Hak sebagai Suami/Istri

Sebelum menikah, pasti akan banyak sekali hal yang dikompromikan. Salah satunya adalah uraian peran dan tanggung jawab sebagai suami istri. Kenapa saya tulis kewajiban dulu? Ya, karena kita harus menjalankan kewajiban dulu baru menuntut hak. Kalau kebalik, bisa-bisa menuntut hak mulu tapi malas melakukan kewajiban hehehe...

Apa sih, kewajiban dan hak suami istri? Kalau itu cari sendiri yak, nanti kalau tak tulis saya alih profesi jadi guru PPKN. Bhay :D

2. Menyeleksi Pendapat/Saran yang Masuk

Saat ada anggota keluarga atau teman yang mau menikah, pasti semuanya ikut bahagia. Tapi gak tahu ya, kalau mantan kamu. Hahahahaha... *plakkkssss

Oleh karena itu jangan heran akan banyak (buangetttt) masukan atau saran yang mampir ke telinga kamu atau calon kamu. Semua masukan mereka sebenarnya memang untuk kebaikan kita kok, namun kita juga harus pintar menyeleksinya. Kenapa? Karena kondisi kita dan pemberi saran belum tentu sama, jadi diambil saran-saran yang cocok dengan kita dan pasangan aja. Kalau gak cocok, ya jangan digunakan apalagi dipaksakan.

3. Jangan Biarkan Ada yang Mendominasi, kecuali....

JANGAN BIARKAN ADA YANG MENDOMINASI, KECUALI DIA YANG BIAYAIN PERNIKAHAN KITA

HAHAHAHAHA

Kalau masih dalam tahap memberi saran tapi gak ikut ribet sih, gak apa-apa ya. Namun terkadang ada lho, yang mau nikah siapa, eh yang (sok) ribet siapa. Padahal bukan wedding organizer yang resmi ditunjuk juga. Panitia keluarga yang ditunjuk juga seharusnya membantu, mengikuti arahan sang pembuat hajat, bukannya bikin ribet apalagi sampai mendominasi atau mengambil keputusan.

Jadi kalau misalnya ada kakak kamu yang ribet sama pernikahan kamu, kasih pengertian aja bahwa ini adalah hajatan kamu. Karena kalau ada pihak yang mendominasi begini pasti keluarga besan juga kurang nyaman deh! Coba bayangkan, bagaimana jika posisinya keluarga besan kamu yang ribet? Keluarga kamu juga pasti gak nyaman kan?

Tapi kalau dia yang biayain pernikahan kamu, wajar aja kalau jadi dia yang ribet. Kan uang dia :D
*langsung nyinyir*

4. Tidak Ada Pesta Pernikahan yang Sempurna

Ini nasihat pamungkas yang didapat dari ibu pemilik gedung tempat pernikahan saya. Nasihat yang ampuh membuat hati saya jadi super-elastis alias gak baperan menjelang hari pernikahan.

"Lanjut aja neng, biarin apa kata orang. Pelaminannya gimana lah, riasannya gimana lah. Di mata orang gak ada pesta pernikahan yang sempurna. Pasti ada aja kurangnya. Yang penting kita berusaha yang terbaik, menjamu tamu dengan cara yang baik, persiapannya yang baik juga. Perkara apa kata orang mah, bagen bae (biarin aja - bahasa asli Bekasi) neng..."

Iya juga, sih! Saya sempat pusing pas mandorin dekorasi H-1 ternyata sarung gazebonya hijau-ungu. Gak matching sama pelaminan saya yang hijau-gold. Dinasihatin seperti itu saya jadi semangat lagi. Bodo amat ah, mau gak matching apa gimana. Yang penting jalan terus, BESOK SAH! Hahahahaa...


Jadi sebenarnya persiapan mental yang bisa kita lakukan cuma ada dua sih, intinya. Pertama, mawas diri. Kedua, gak baper sama omongan orang. Jangan lupa siapkan stok sabar yang unlimited menjelang pernikahan, soalnya setelah pernikahan stok sabarnya harus lebih-lebih unlimited lagi (lah!). Hehehehe....


Selamat berbahagia menjelang pernikahan ^_^

Rabu, 28 September 2016

Pengalaman Mengurus Kartu Keluarga Baru

Standard
Saat mempersiapkan pernikahan, kita disibukkan dengan mengurus surat nikah. Saya kira setelah menikah hidup saya bisa bebaaaaass tenaaaaaaannngggg dari surat persuratan seperti saat lajang dulu. Ternyata enggak ya, malah banyak yang diurus setelah menikah apalagi menjelang punya momongan gini :D

Fyi saya mengurus kartu keluarga baru karena dibutuhkan untuk membuat jaminan kesehatan dari kantor suami. Selain jaminan kesehatan istri, nantinya juga dibuatkan jaminan kesehatan anak. Ya ndak bisa dengan KK lama (KK dari rumah orang tua masing-masing), harus dengan KK baru. Jadilah kita bikin KK baru demi kelancaran administrasi jaminan kesehatan dan akta kelahiran anak tersayang kelak. Hehehe...

Foto oleh picfont(dot)com

Awalnya saya ditawari mengurus KK dari rumah mertua. Ada seseorang yang menawarkan jasa pembuatan KK baru Rp 450.000 terima beres. Saya berpikir karena sejauh ini pengalaman mengurus surat di kelurahan dan kecamatan saya mudah, cepat, dan transparan, buat apa juga minta tolong calo. Mending urus sendiri, kebetulan saya juga ibu rumah tangga dan punya waktu luang. Lagipula dengan Rp 450.000 dia hanya membuat KK baru, tanpa merevisi KK lama punya mertua dan orang tua saya. Nah, lho! Jadi kayak semacam data amburadul gitu ya. Yaa..... beginilah Indonesia. Calo pun bisa kerja serampangan dengan meninggalkan problema baru. Hahahaha...

Nah di sini saya menuliskan langkah demi langkah saat mengurus KK baru. Kondisinya saya dan suami berada dalam satu kota (Bekasi), hanya beda kecamatan saya di Bekasi Selatan dan suami dari Jatiasih. Semoga bermanfaat ya :)

1. Mengurus Surat Pindah (Domisili Suami)

Setelah menikah, kami tinggal di samping ibu saya namun berbeda rumah. Untuk membuat KK baru, suami membuat surat pindah untuk cabut berkas kependudukan dari RT/RW, Kelurahan, sampai ke tingkat Kecamatan. Yang ini nyuruh orang, karena suami sibuk kerja dan memang daerah suami masih banyak calo-calo beginian kalau gak pakai calo jadi lama. Hehehe...

Bayar 150 ribu, proses seminggu.
Syaratnya :
- fotokopi KTP suami & istri
- fotokopi KK mertua
- fotokopi KK ortu

2. Mengurus Pengantar RT & RW

Setelah surat pindah suami ada di tangan, saya datang ke rumah Pak RT untuk dibuatkan pengantar pembuatan KK baru ke kelurahan. Biayanya 10 ribu untuk iuran kas RT, 10 ribu untuk iuran kas RW.

Proses cepet banget, setengah jam kelar.
Syarat :
- Surat pindah suami
- FC KTP suami & istri
- FC KK mertua
- FC KK ortu
- FC surat nikah

3. Mengurus Pengantar ke Kelurahan

Syarat :
- Surat pengantar RT/RW
- Surat pindah suami
- FC KTP suami & istri
- FC KK ortu
- FC akta nikah/surat nikah
- tanda lunas PBB tahun berjalan


Lanjut ke kelurahan. Bawa syarat yang diajukan ke RT & RW aja ditambah surat pengantar. Hasilnya nanti akan dapat 'print putih' (semacam draft KK baru gitu) untuk di-cap ke kecamatan.

Kata ibu saya, kalau jaman dulu ditawarkan mau 'dibantu' urus KK atau enggak? Kalau mau, tinggal bayar dan terima jadi. Entah mungkin sekarang pegawai kelurahan dan kecamatan sudah agak takut sama gratifikasi, jadi saya gak ditawarin blas. Gratis sih, tapi jadi jalan sendiri hehee...

Proses cepet banget, setengah jam kelar.

4. Minta Cap ke Kecamatan

Syarat :
- Print putih (draft KK) dari kelurahan
- Surat pindah suami
- FC KTP suami & istri
- FC KK ortu
- FC akta nikah/surat nikah

Cuma minta cap doang, setengah jam kelar dan gratis.

5. Pengajuan Cetak KK di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil

JENG.. JENG.. JENG.. JENG..

Inilah fase yang paling greget! Paling warbiyasak! Paling rawrrrr!!!!

Saya benar-benar tidak menduga akan mengalami fase ini, karena ya berbekal pengalaman saya di RT sampai kecamatan yang aman-aman dan cepat-cepat saja. Tiba-tiba saya harus berhadapan dengan birokrasi khas Indonesia buangettttt di sini.

Bayangkan sodara-sodara, saya yang lagi hamil 7 bulan bawa perut gede dan harus bolak-balik 4 kali ke kantor Disdukcasip ini. Hhhhh........ Kok bisa 4 kali? Nih, saya beberkan :

a. Kedatangan 1

Datang ke Disdukcasip Kota Bekasi, diarahkan ke petugas KK yang ada di tenda luar gedung. Di sana ada pengecekan syarat. Menurut dia syaratnya :
- Print putih (draft KK) kelurahan yang sudah dicap kecamatan
- Surat pindah suami
- FC KTP suami & istri (harus e-ktp)
- FC akta nikah/surat nikah
- KK asli punya orang tua & mertua

Saya lupa bawa KK asli dan KTP suami yang e-ktp hilang. Setelah hilang, suami saya bikin KTP di rumahnya (again.. pakai calo) dan hasilnya gak e-ktp. Untung bisa urus bukti perekaman e-ktp di Disdukcasip. Jadi FC KTP suami diganti dengan draft e-ktp aja yang sudah ditandatangan dan dicap petugas.

E-KTP atau yang sekarang disebut KTP-el penting banget sodarah. Sekarang ngurus berkas apapun harus pakai e-ktp. Pucing deh... Hehehe... Alhamdulillah saya dan suami sama-sama sudah e-ktp sejak 2012. Jadi gak perlu perekaman lagi. Kebayang gak sih, mau ngurus KK aja harus bikin e-ktp dulu yang antrinya bagai ular naga panjangnya bukan kepalang dan KTP-nya gak jadi-jadi itu?

b. Kedatangan 2

Bismillah... saya datang dengan syarat yang sudah dilengkapi. Dalam sehari, Disdukcasip hanya memberikan 150 nomor antrian pencetakan KK. Jadi kalau kita gak dapat nomor antrian, ya harus datang lagi pagi-pagi keesokan harinya. Hiks...

Saya pun dapat nomor antrian 118 dari 150. Dipanggilnya jam berapa sodarah?
Antri jam 9 pagi, dipanggil jam 15.30. WEKWEKWEK.

Sampai ruangan pencetakan KK, ternyata SYARAT SAYA KURANG. BOOOKK PLIIISSS!!!!!!!!

"Mba, bawa buku nikah asli?"
"Enggak, bu. Harus bawa buku nikah asli kah?"
"Iya, harus bawa buku nikah asli. Dan fotokopi surat nikahnya harus SATU BUKU", Gak bisa cuma selembar aja pas bagian akta nikahnya."

Saya pun memelas :(

"Waduh bu, gimana ya. Saya sudah bolak-balik ke sini. Di depan tadi syarat saya lengkap semua, dicontreng semua. Kok tiba-tiba di dalam sini syaratnya beda lagi?"

Sang ibu petugas pun bersikeras harus ada buku nikah asli dan fotokopi buku nikah satu buku. Alasannya karena sekarang banyak buku nikah palsu.

ALAMAAAKKK...... NGANA SANGKA KITORANG MALSUIN BUKU NIKAH?

Huhuhuhuhu mau nangis rasanya udah gak ngerti harus berekspresi gimana lagi. Udah ngantri seharian di ruangan sumpek, gerah, penuh orang, dan bau ketek, lalu berkas kita ditolak :(


c. Kedatangan ke-3

YEAH! Datang pagi lagi, ambil nomor antrian lagi.
AKU MERASA GAGAH :))

Hari itu saya datang kepada ibu petugas yang sama. Gak lupa dong, buku nikahnya yang asli dibawa dan fotokopi satu buku :D

Di ruangan itu kita diminta melihat isi draft kartu keluarga baru dan mengroscek data-data di dalamnya. Dilakukan pembaruan data juga, seperti penggantian alamat, profesi, dan status pernikahan. Jangan sampai lengah krosceknya ya geis, dalam proses ini kalau kamu lengah dan KK sudah tercetak maka kamu gak bisa revisi dengan mudah melainkan harus urus dari awal lagi. Mbegitulah, agak nyusahin orang emang :D

Saya kira setelah kedatangan ketiga ini saya bisa langsung memegang KK baru, ternyata KK dicetak, lalu kita diberikan tanda pengambilan saja. Saya harus kembali 14 hari kemudian untuk ambil KK. WEKWEKWEKWEKWEK LAGI. Mungkin karena harus dicap dan ditandatangan ya.

d. Kedatangan ke-4

14 hari setelah kedatangan ketiga, saya datang lagi ke Disdukcasip. Tujuannya untuk ambil KK. Sampai di sana, saya menanyakan kepada petugas informasi kemana saya bisa mengambil KK. Dia bilang ke lantai 1 sebelah kiri. WAKWAW, sampai sana salah. Saya harus ke lantai 3 sebelah kanan.

Hehehehe... Ini petugas gimana sih, ngarahin masyarakat aja salah :(
Gak heran kantor Disdukcasip kayak labirin Pacman, banyak yang mondar-mandir gak jelas.

Sampai di lantai 3, ada loket pengambilan KTP-el dan KK. Pwenuh. Gak ada yang mau antri, semua mengerubung. Kayaknya semua orang di situ kepalanya pada berasap deh, gak petugasnya, gak masyarakatnya. Semua punya masalah masing-masing.

"Bu, saya mau ambil e-ktp"
"Ambil e-ktp di lantai 1 ya"
"Gimana sih, katanya ke lantai 3, saya tadi sudah dari lantai 1 bu"
"Lantai satu ya, Pak!" 
Galakan petugasnya jadinya hehehe..

"Bu, e-KTP keluarga saya kurang 2 orang"
"Buktinya pengambilannya mana?"
"Kemarin sudah saya kasih ke sini"
"Di mana? Gak ada tuh"
Kemudian orang tersebut muntah pelangi.

"Bu, ini ada data yang salah di KK saya. Bisa dibenerin?"
"Ibu kemarin yang urus KK-nya siapa? Ibu sendiri apa bukan?"
"Diurusin orang bu, saya tinggal ambil aja ini barusan"
"Ibu sih, diurusin orang. Orangnya gak meriksa tuh bu, kemarin pas bikin KK kan dicek juga data-datanya"
"Yah, trus gimana bu?"
"Ibu bikin ulang aja ya dari RT-RW"
Pasti ibu itu langsung pengen ngemil obat asma.

BUZENG. MO PENGSAN GUE.
Belum dilayanin aja denger keluhan orang-orang yang datang udah puyeng. Mungkin petugasnya puyeng juga, soalnya orang-orang pada bergerumul gak mau antri dan semua minta diselesaikan masalah dokumennya.

Akhirnya giliran saya. JENG.. JENG...
Saya berikan tanda pengambilan untuk 3 KK. KK baru punya saya, KK ortu revisian, dan KK mertua revisian. Ternyata yang ada cuma KK baru saya doang. WHAT? Akhirnya suami yang komplain, kebetulan hari itu suami ikut ke kantor Dinas.

"Gimana ini bu, kok cuma KK saya doang? KK punya orang tua saya mana?"
"Gak ada ini pak"
"Gimana sih, sistem filing-nya kok berantakan? Atasan ibu gak ngasih manajemen yang bener? Ya tanggung jawab dinas dong kalau dokumen masyarakat tercecer masa' mau salahin rakyat. Kita gak tahu apa-apa, tinggal ikutin syarat trus ambil doang. Mana udah nunggu 14 hari, datang berkali-kali"

Okeh... Ini suami gue apa Ibu Risma ya? :))

"Iya, Pak. Ini kami cetak lagi KK-nya, jam 2 siang balik ke sini ya"

Akhirnya setelah menunggu 4 jam, KK orang tua dan KK mertua pun jadi. Tuh, langsung jadi gak usah nunggu 14 hari yes? Hehehe...

Semua proses ribet di atas GRATIS sih, gak bayar.
Tapi ribetnya masyaAlloh tobaaaattttttt :(


Jadi, melalui tulisan 4N (ngalor-ngidul-ngulon-ngetan) ini, saya juga ingin memberikan beberapa potong kripik pedas untuk Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil khususnya di Kota Bekasi, domisili saya. Saya juga gak tahu harus ngasih tahu kepada orang dengan jabatan apa, namun semoga tersampaikan dan jadi masukan yang baik ya. Mohon anggap kripik ini sebagai tulisan dari sudut pandang rakyat jelata, ibu-ibu hamil gede yang nelongso ngurus berkas bolak-balik. Lelah pak....

1. Standarisasi Syarat

Ini saya juga bingung, kenapa di petugas A dan petugas B syaratnya bisa beda. Serasa ngurus surat jaman dulu ya, beda petugas beda syarat. Kalau di kelurahan saya mah, syarat pengurusan dokumen udah dipajang gede-gede dan disepakati juga sama petugasnya. Jadi masyarakat juga bisa kroscek syarat sendiri gak perlu bolak-balik.

2. Perbaiki Sistem Pengarsipan

Yakali kalau warga sudah ikuti segala prosesnya, trus berkasnya hilang, tercecer, atau cetakannya cacat, trus salah warganya? HELOH!

Trus harus pengajuan syarat dari awal lagi? HELOH!

Trus harus datang ke Disduk berkali-kali lagi? HELOH!

We have our own life.
Hidup kita gak cuma buat ngurus berkas kependudukan doang, Bapak/Ibu pejabat yang terhormat.
Alhamdulillah kalau kita mau tertib administratif harusnya didukung dong, jangan dipersulit. Kan, pendapatan daerah dari kita-kita juga hehehe...

3. Buat Anak Buah Anda Bahagia dalam Bekerja

Dari awal datang sampai ambil berkas, kesan saya cuma satu dengan petugas Disdukcasip : pada stress. Mungkin stress karena berhadapan dengan ribuan orang setiap hari. Mungkin juga stress karena banyak warga yang nanya, tapi dia sendiri bingung mengarahkan. Jadinya main lempar-lemparan petugas. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya warga wara-wiri gak jelas kebingungan (saya salah satunya), dan nanya ke petugas eh petugasnya aja salah.

Caranya gimana supaya petugas happy dalam melayani?
Ya itu harus dipikirkan oleh Bapak/Ibu pejabat terkaitnya ya, kalau saya mah mikir menu masakan besok aja di rumah. Hehehe...

4. Memangkas Alur Pengurusan Dokumen

Kadang bingung sama negara ini, bilangnya mau pakai sistem online, tapi caranya gak online pisan. Malah bikin ribet. Orang harus antre dari subuh, lalu menunggu seharian, belum lagi kalau syaratnya salah harus kembali lagi besok, setelah jadi harus menunggu 14 hari untuk diambil, kalau ada data yang salah harus urus dari awal lagi.

Bukan satu dua orang, tapi banyak saya lihat manula, ibu-ibu bawa anak/bayi, orang cacat, dan ibu hamil yang mengurus dokumen ke sana. Pak... Bu... Mereka orang-orang yang tidak sekuat orang dewasa pada umumnya. Bayangkan jika mereka harus seharian ada di Dinas dan TANPA HASIL. Sedih? Banget. Sama sedihnya kayak saya yang antre seharian namun ditolak karena syaratnya salah.

Belum lagi jika ada warga yang rumahnya jauh, harus ngongkos naik kendaraan umum, harus beli makan siang, harus beli jajan selama menunggu, apalagi sampai harus ada yang izin kerja sampai potong gaji. Negara mau tanggung jawab kalau warganya sakit atau kelaparan? Enggak kan?

Jika syarat distandarisasi, maka orang gak perlu bolak-balik berhari-hari hanya untuk melengkapi syarat.
Jika penarikan data/pencetakan dokumen bisa dilakukan secara cepat, mengapa perlu waktu berbulan-bulan warga untuk menunggu?

Memang ini sistem yang sudah lama berjalan, namun mengapa tidak dilakukan pembenahan jika dirasa kurang efektif dan efisien?
Gak mudah, tapi pasti bisa.


Sekian masukan dari saya,
Ibu hamil berperut gede yang naik turun gedung 3 lantai tanpa lift.


Kamis, 15 September 2016

Liburan Akhir Pekan Seru di Sentul

Standard
Kita semua butuh piknik, gak peduli mau berprofesi pekerja, ibu rumah tangga, sampai anak-anak juga butuh piknik. Pasti seru banget ya, kalau di akhir pekan (apalagi long weekend) kita punya rencana berlibur ke Bandung, Jogja, Bali, Lombok, dan daerah destinasi wisata lainnya yang keren-keren. Tapi gimana nih, kalau waktu liburannya mepet hanya sebentar atau terkendala untuk bepergian jauh? Kayak saya gini, lagi hamil tua jadinya susah deh kalau mau pergi jauh-jauh hehe..

Setelah sibuk beraktifitas di hari kerja, kita juga pasti membutuhkan quality time bersama pasangan atau keluarga. Jangan sampai waktu liburannya terlewat begitu saja, ya.. Meskipun dengan waktu liburan yang terbatas, kita tetap bsia berlibur di dalam kota lho. Misalnya saja, menginap di hotel, maupun jalan-jalan ke wilayah di sekitar Ibukota. Salah satu tujuan 'pelarian' saya dari rutinitas adalah jalan-jalan ke Bogor dan sekitarnya. Jaraknya yang dekat dari ibukota, banyak pilihan kuliner yang menarik dan enak-enak, juga suasana alamnya jadi alasan mengapa saya suka ke kota hujan ini.

Sebenarnya Bogor juga memiliki banyak hotel atau tempat penginapan yang dapat digunakan selama berlibur guys, kamu bisa memilih salah satu dari banyak tempat Penginapan di Bogor. Bogor tuh, gak cuma puncak ya. Kebanyakan kita tahunya Puncak doang, sih! Padahal banyak wilayah lain yang lebih mudah terjangkau, gak begitu macet, dan kuliner juga penginapannya tetap seru. Kalau saya sih, lebih suka ke daerah Sentul. Selain fasilitasnya lengkap, banyak hotel dan tempat wisata juga yang bisa dikunjungi.

Tak kurang dari 10 hotel berada di daerah Sentul, seperti HARRIS Hotel Sentul City Bogor, Aston Sentul Lake Resort & Conference Center, Lorin Sentul Hotel, Hotel NEO+ Green Savana, Rukun Senior Living, GDW Hotel & Cottage, Ole Suites Hotel, Green Wattana Hotel, dan masih banyak lagi guys. Semua info lengkap dan rate ruangannya bisa kamu cek di web – web tertentu yang bekerja dalam bidang travel, seperti traveloka misalnya.

Liburan yang deket-deket aja yuk!
Sumber : malesmandi(dot)com , edited by picfont(dot)com

Nah, kalau sudah menemukan hotel yang sreg di hati dan kantong, maka selanjutnya mari kita tengok tempat-tempat wisata di sana!

Air Terjun Bidadari

Air terjun bidadari ini merupakan salah satu objek wisata yang paling terkenal di Sentul. Air terjun dengan ketinggian 40 meter ini terkenal karena keindahannya yang luar biasa. Air terjun ini pun merupakan mata air dari Hutan Lindung, lho! Seger bangetttt pasti.

Gak cuma sekedar air terjun, di bawah air terjun ini ada kawasan wisata waterpark. Jadi kamu tidak hanya dapat menikmati deburan air terjun aja, tapi bisa juga sambil main air. Disini juga terdapat pasir putih yang memang sengaja didatangkan langsung dari kawasan Bangka, jadi serasa kayak di pantai deh!

Air Terjun Bidadari
Sumber : kanalpos(dot)com

Hutan Pinus Gunung Pancar

Hutan Pinus Gunung Pancar ini tak jauh dengan Sentul City guys, kamu hanya membutuhkan waktu  15 menit dari Sentu City untuk menuju kemari. Tempat ini sangat cocok buat kamu yang memang sedang mencari ketenangan (dan lokasi foto-foto hihihi). Untuk memasuki kawasan hutan pinus ini kamu hanya membutuhkan uang 2000 rupiah, dan biaya tambahan jika kamu membawa kendaraan.

Gunung Pancar, Bagus buat foto-foto
Sumber : malesmandi(dot)com

Pemandian Air Panas Gunung Pancar

Setelah melewati hutan pinus, kawasan pemandian air panas ini sangat mudah ditemukan, petunjuk – petunjuk arahnya pun sangat jelas. So, kamu gak perlu takut lagi untuk tersasar meski pemandian air panas ini terletak tengah hutan.

Kamu dapat merilekskan diri di pemandian air panas ini hanya dengan mebayar 10.000 rupiah aja. Selain itu, kolam ini juga dipercaya memiliki khasiat untuk kesehatan.

Di pemandian air panas ini terdapat 3 kolam guys, yaitu kolam umum, kolam 3 rasa, dan kolam keluarga. Aaanndd…Just for your information, kolam ini buka 24 jam guys!  Wew! Buat kamu yang mau merasakan serunya berendam jam 12 malam, boleh juga nih, untuk di coba haha.

Gimana rasanya mandi tengah malam di sini? Huhohohohoho
Sumber : initempatwisata(dot)com

Goa Agung Garunggang

Nampaknya goa yang satu ini masih terdengar cukup asing di telinga kita ya. Memang, untuk mencapai goa ini dari parkiran kendaraan pun kamu harus tetap treking. Jika dari parkir kendaraan mobil kamu harus treking sejauh 6 km. Jika menggunakan motor kamu juga harus tetap treking sejauh 2 km. Lumayan, pulang-pulang agak langsing :D

Ketika sampai di goa ini pun kamu tidak akan di pungut biaya alias gratis. Jika ingin dipandu selama berada tempat ini, kamu bisa menggunakan jasa pemandu yang sebenarnya adalah warga sekitar. Biayanya pun seikhlasnya, dan pemandangannya, memukau banget!

Goa Agung Garunggang
Sumber : blogfakhrulrozi(dot)blogspot(dot)com

Leuwi Hejo

Jika kamu sudah terbiasa mengunjungi air terjun yang menjulang tinggi, maka tidak ada salahnya kamu datang keair terjun mini ini. Sepintas tempat ini mirip Green Canyon Pangandaran ala Bogor. Lokasi curug ini pun tidak terlalu luas, dimana curug ini dikelilingi oleh bebatuan besar yang kemudian membentuk kolam berwarna hijau dengan air yang jernih. Warna hijau yang dihasilkan ini berasal dari pantulan sinar matahari. Hemm...... Pasti keren dan menenangkan banget ya.

Airnya hem......
Sumber : kws(dot)hambalang(dot)co(dot)id


Gimana.. Gimana? Menarik banget kan wisata alam yang ada di Sentul ini? Tidak perlu bepergian terlalu jauh, cukup di Sentul aja. Di sentul pun sebenarnya masih terdapat berbagai objek wisata lain seperi Jungle Land, Taman Budaya Sentul City,Taman Patung dan Taman Bambu Ecoartpark dan masih banyak lagi yang bisa kamu explore disini.

Selamat piknik di akhir pekan, ya... ^_^

Kamis, 01 September 2016

Mempersiapkan Masa Depan di Rumah

Standard
Sejak kuliah dan belum bertemu suami, saya mungkin adalah salah satu perempuan yang resah memikirkan mau jadi apa nanti. Yaaa... seperti memikirkan cita-cita gitu. Satu sisi, saya ingin berkarya juga, mengamalkan ilmu, berguna buat masyarakat. Di sisi lain, saya juga ingin jadi ibu dan istri yang super buat keluarga. Dua pilihan yang sulit, kan? Kalau keduanya dijalankan pasti bukan perkara mudah membagi waktu dan perhatian, namun bukan berarti juga gak mungkin. Hehehe...

Siap?
Foto : picfont(dot)com

Masa Depan Saya Ada di Rumah

Semakin banyak diberi kesempatan belajar, semakin saya mengerti bahwa kodrat perempuan adalah membentuk peradaban baru. Semakin saya mengerti bahwa saya berkewajiban berbakti pada suami dan mendidik anak-anak saya kelak. Tentunya terlepas dari saya juga memiliki hak menuntut ilmu atau melakukan pekerjaan yang saya inginkan.

Sejak lulus kuliah, alhamdulillah saya diberi kesempatan untuk bekerja di perusahaan yang baik. Pertama di sebuah konsultan bisnis dan digital, kedua di sebuah perusahaan nasional FMCG yang bisa dibilang jadi kantor impian banyak orang. Dengan penghasilan dan status pekerjaan yang baik, tentunya banyak orang mempertanyakan mengapa saya rela melepas semuanya.

Banyak juga yang menyayangkan keputusan saya dan menanyakan soal kebutuhan finansial yang semakin meroket saat ini. Iya, gak munafik deh. Pasti kalau perempuan resign yang dipermasalahkan orang-orang sekitar adalah duit. Hehehe....

"Kenapa sih resign, Wid?"
"Cari ridho suami"
"Keuangan rumah tangga gimana?"
"Kalau suami ridho, Insya Alloh semuanya cukup"

Saya memutuskan kembali ke rumah hanya dengan keyakinan 'selama suami ridho, orang tua ridho, mertua ridho, saya melangkah terus'. Rezeki? Bukan urusan kita memikirkan berapa rezeki yang akan kita terima. Selama ridho suami & orang tua dipegang, Insya Alloh rezeki akan mengalir terus.

...dan itu benar!


Tetap Beraktifitas

Meski menjadi ibu rumah tangga dengan sedang mengandung, saya masih pecicilan beraktifitas ke sana-sini. Hari-hari saya bahkan jadi lebih sibuk namun menyenangkan. Pagi-pagi sudah menyiapkan kebutuhan suami sarapan dan kerja, lanjut duduk di depan komputer kayak sekarang ini, lalu kalau suntuk ya cari teman untuk makan siang dan keluyuran. Hehehehe... Iya dong, saya perlu me-time juga biar tetap waras.

Saya masih bekerja sebagai digital content freelancer, jualan undangan di undanganbekasi.com , dan insya Alloh semester ini akan mengisi beberapa sesi perkuliahan di almamater tercinta. Semua aktifitas yang saya lakukan di atas bukan berarti tanpa persiapan lho! Apa yang saya lakukan saat ini bahkan saya sudah persiapkan sejak kuliah supaya saya gak bingung mau ngapain saat jadi istri purnawaktu.


Persiapan Berkarir di Rumah

Modal persiapan saya cuma satu : HOBI.

Hobi atau minat itu dicari ya, gaes. Nyarinya gak segampang nemu karet gelang dekat gerobak tukang gado-gado. Nyari hobi/minat juga butuh waktu dan usaha. Kalau kamu bingung hobi kamu apa, kamu bisa coba melakukan banyak hal. Tanda-tandanya kalau kamu menemukan hobi atau minat adalah : kamu gak bosan melakukan itu berbulan-bulan, dan kamu gak keberatan kalau gak dibayar, bahkan sampai keluar uang. Nah, kalau kamu belum nemu juga... berarti pencarian masih berlanjut hehehe. Jangan berhenti ya, soalnya kalau berhenti ya gak ketemu deh :D

Yaps, sejak kuliah saya memang menemukan minat di dunia digital. Tahapan selanjutnya adalah mencari mentor atau guru. Bersyukur saya juga menemukan mentor yang keras menggembleng dan memberi saya arahan yang baik. Untuk persiapan masa depan, saya harus selalu siap merunduk supaya ilmunya turun kepada saya, saya teladani apa yang ia lakukan, saya ikutin aja... Hehehehe. Untung mentor saya baik ya, jadi dia gak marah kalau saya ikutin, kalau saya gangguin, kalau saya nanya gak jelas, apalagi kalau sok tahu-nya saya lagi kumat.

Setelah cari mentor dan belajar banyak, saya harus banyak buka jaringan dan menjalin hubungan baik dengan orang-orang yang sudah dikenal. Memang kadang ada satu dua yang bikin kecewa, kalau begini obatnya cuma : JANGAN BAPER. Yang udah ya udah. Kita kan, gak tahu suatu saat akan kerjasama bareng dia atau enggak. Cukup tandai dalam hati agar mawas diri, tapi tetap berusaha bersikap baik dan sopan.

Satu lagi yang harus dipersiapkan adalah mental. Mempersiapkan mental juga gak cuma sehari atau seminggu, tapi bertahun-tahun. Saya melatih mental dengan berdagang. Sejak sekolah sampai kuliah, saya suka berdagang. Dagang apa saja yang penting bisa dijual, untungnya sedikit juga gak apa-apa. Rugi juga gak apa-apa, besoknya jualan lagi. Hehehe... Saya pernah jualan nasi uduk, coklat, pulsa, paket internet, roti bakar, piscok, Aqua gelas, snack/ciki-cikian, kaos, jasa print dokumen, apa saja deh. Sampai sekarang saya jualan undangan, dan masih kepingin jualan yang lainnya lagi. Udah gak kehitung namanya rugi sampai ditipu teman sendiri jutaan rupiah juga pernah. Biar rugi dan ketipu alhamdulillah saya masih sehat, gak stress, dan tetap melanjutkan hidup saat ini. Yang penting prinsipnya satu : bisnisnya gak ngutang. Jadi mau nyungsep kayak apa gak pusing mikirin hutang yang tertinggal. Hehehe...


Yuk, Bersiap!

Sebenarnya gak ada kata telat untuk mempersiapkan masa depan di rumah. Yang masih sekolah, bisa melakukan. Yang masih kuliah juga bisa. Yang sudah berumah tangga bahkan sampai punya anak juga bisa.

Yang membedakan hanya kemauan dan tekad, serta efisiensi waktu. Kapan mulainya? Ya, sekarang.

Lebih baik bertindak segera daripada hanya merasakan resah di hati setiap saat tanpa ujung. Kantor atau rumah bukan halangan untuk jadi perempuan yang produktif.

Jangan lupa juga prioritaskan kewajiban dulu, baru hak. Aliaaas.............. Prioritaskan kodrat kita dulu untuk membangun peradaban di rumah, baru memperjuangkan hak kita untuk berkarya.


HAVE A PRODUCTIVE DAY ^_^


Rabu, 24 Agustus 2016

Cari Inspirasi Pernikahan di Bekasi Wedding Exhibition

Standard
Dalam mempersiapkan pernikahan, kita pasti butuh banyak referensi. Pasti banget! Mulai dari tata cara atau kebiasaan di keluarga (kedua keluarga lho ya, keluarga kita dan keluarga calon. Jangan hanya dari satu keluarga saja), sampai rekomendasi vendor-vendor yang oke. Idealnya, semakin banyak referensi vendor yang kita punya, semakin leluasa kita menentukan vendor mana yang cocok dengan selera dan rencana keuangan kita.

Dulu pas saya mau nikah juga cari-cari vendor. Capek men, carinya ngiter! Beneran ngiter. Makan waktu banget kan? Sehari paling hanya dapat satu-dua vendor yang dikunjungi. Belum lagi jika lokasinya agak berjauhan. Lebih sedih lagi kalau calon pasangan terhalang jarak, wah pasti lebih susah lagi cari banyak referensi vendor. Seketemunya aja. Padahal pilihan vendor di sekitaran Jabodetabek aja banyak banget.

Dokumentasi : Pribadi
Edited by picfont dot com

Main ke Pameran Wedding

Salah satu cara efektif menghemat waktu dalam mencari referensi/inspirasi pernikahan adalah datang ke pameran wedding. Saya juga beberapa waktu lalu datang ke Bekasi Wedding Exhibition yang diselenggarakan di Grand Galaxy Convention Hall, sebuah convention hall mewah yang ada di Bekasi. Lumayan dekat jaraknya dengan rumah yang ada di pusat Kota Bekasi, lokasi convention hall-nya juga gampang diakses.

Penasaran juga sih, kira-kira bakal ada vendor apa saja di sana. Soalnya dalam daftar vendor di akun sosial medianya @grandgalaxyconventionhall ada lebih dari 50 vendor yang bergabung dalam pameran. Wuih, lumayan banget! Bisa lihat-lihat 50 vendor dalam 3 hari. Gak ada tiket masuk lagi, alias FREE. Selain pameran, ada juga talkshow dan workshop menarik seputar persiapan pernikahan dan kehidupan pengantin baru. Lumayan, buat tambah ilmu dan wawasan.


Keseruan 2nd Bekasi Wedding Exhibition

Untuk ukuran pameran yang ada di Kota Bekasi, BWE yang diselenggarakan tanggal 5 - 7 Agustus 2016 kemarin itu keren banget. Gak nyesel menghabiskan waktu di sana. Saya datang bersama teman yang insyaAlloh sedang mempersiapkan pernikahan. Kalau saya mah, alhamdulillah sudah nikah ya. Tapi tetap saja menikmati semua keseruan di BWE, hehehe :D

Sejak baru datang, kita disuguhkan dekorasi putih nan simpel dan elegan di gerbangnya. Semacam dekorasi pernikahan. Cakep juga nih, buat pelaminan. Setelah diberikan gelang acara oleh panitia, kami bisa masuk ke dalam hall-nya. Penuh banget sama vendor, dan dekorasi booth-nya super cantik! Memanjakan mata sekali. 

Dekorasi vendor dalam hall, cantik ya..
Dokumentasi : Pribadi 
Ada berbagai vendor di Bekasi Wedding Exhibition
Dokumentasi : Pribadi

Panggung dan juga catwalk untuk fashion show selama acara
Dokumentasi : Pribadi


Satu kalimat yang terbesit saat lihat vendor-vendor adalah : "Jadi kepingin resepsi lagi"
*lah
*ditabok suamik*

Vendor-Vendor yang Berkesan di BWE

Ada puluhan vendor mulai dari catering, dekorasi, bridal, fotografi, sampai hotel dan travel. Semua kebutuhan pernikahan 'numplek' jadi satu di sini. Selain puas bisa bertanya dengan pihak vendor, kita juga bisa dapat berbagai promo menarik selama pameran. Vendor catering lebih seru lagi. Sudah dapat free food-test (hampir semua vendor catering mempersilakan tes makanan lho!), bisa dapat bonus porsian makanan/gubukan lagi jika melakukan booking selama pameran. Bisa juga deh, ngebandingin mana catering yang punya rasa lebih oke dan harga yang lebih bersahabat.

Saya? Jangan ditanya makan berapa kali selama di BWE ya. Saya makan terus! Hahahaha... Dari berbagai vendor catering top yang ikut BWE, ada satu yang berkesan, dan menurut saya memang rasa makanannya oke banget sih! Nama vendornya Puspita Sariwargi. Gak heran boothnya selalu rame saat pameran. Ada juga yang enak, Alfabet Catering.

Banyak yang bawa ortu/camer juga buat ikutan survey. Biar sreg sekalian kali ya?
Dokumentasi : Pribadi

Food test di booth Puspita Sariwargi. Lasagna-nya jangan ditanya! Enak banget.
Dokumentasi : Pribadi

Booth vendor kesukaan akoh! Alfabet Catering.
Dokumentasi : Pribadi

Ada satu vendor lagi yang menurut saya penawaran dan produknya oke, yaitu Pigura Photobooth. Paket souvenir fotonya murah, 4 juta udah dapat paket unlimited. Hasil fotonya juga oke-oke. Framenya bagus. Ini recommended banget sih...

Hasil fotonya Pigura. Bagus-bagus. Bisa tes foto langsung juga kemarin di sana
Dokumentasi : Pribadi


Jadi gak sabar buat datang ke Bekasi Wedding Exhibition berikutnya. Jangan sedih, di tahun 2016 aja Bekasi Wedding Exhibition sudah diadakan dua kali. Semoga aja semakin sering dan banyak event seperti ini ya, apalagi menjelang musim kawin. Jadi para calon pengantin gak pusing harus muter-muter cari vendor yang oke.