Jumat, 12 Februari 2016

Mission Accomplished : Nikah Kontan, Tanpa Riba (Part. 1)

Standard
Saat masih kuliah, saya bertanya kepada senior saya yang akan menikah :

"Kak, lo nikah budget berapa?"
"Ya.. 50 juta lah, Wid!"

MasyaAlloh, 50 juta! Duit siapa tuh?

"Trus lo berapa lama nabungnya?"
"Setahun alhamdulillah udah ngumpul"

Bingung? Ya iya lah! Saya gak membayangkan gimana caranya mengumpulkan sekian puluh juta untuk pernikahan dalam waktu setahun. Kalau dihitung-hitung dengan gaji, pengeluaran, dan cicilan, rasanya gak mungkin. Kemudian terbesit dalam hati, 

"Aduh.. Kapan nikahnya ya? 5 tahun lagi? 10 tahun lagi? Keburu Iqbal CJR jadi mantu orang ini mah"


Berikut saya akan tulisakan pengalaman saya dan Mas Kamekameha dalam mempersiapkan pernikahan. I think this is worth to be shared, dan semoga bermanfaat untuk teman-teman yang membaca. Bisa memotivasi teman-teman yang sedang merencanakan pernikahan juga. Sebelumnya saya izin membagi tulisan ini menjadi 3 bagian ya, soalnya kalau satu artikel bakal pegel bacanya hahahaa :D

Baca juga :


Nikah Kontan, Tanpa Riba. Bisa gak ya?


Takut dengan Budget Pernikahan

Bukan kamu doang kok yang takut, saya juga ngalamin gimana insecure-nya hati saat menghitung biaya yang harus disiapkan untuk pernikahan. Saya aja gak pernah mengumpulkan uang segitu banyak dan membelanjakan uang segitu banyaknya juga. Ternyata bukan saya saja yang takut, tetapi calon suami saya juga takut pada saat itu.

Kalau kita nikah akad doang, kira-kira orang tua gimana ya?
Ini mahal ya, itu mahal ya..
Lumayan juga harga
Dsb dll dst
Gitulah gitulah

Sedih gak sih, udah nemuin belahan jiwa, udah kepingin nikah, tapi kok budget gak memungkinkan? Sedih lah... I feel you!


Mulai (benar-benar) dari Nol, bahkan Minus. Tidak Masalah!

Saya dan suami mempersiapkan biaya pernikahan secara mandiri. Kami berniat tidak ingin merepotkan orang tua, terlebih ibunda saya adalah orang tua tunggal. Kami bertekad mempersiapkan semuanya sendiri, meskipun orang tua pasti ikut sibuk dengan acara ini, setidaknya orang tua tidak perlu berpikir untuk cari uang atau pinjaman sana-sini.

Kami berniat menikah sejak awal 2015. Apakah perjalanan kami mulus? Tidak.

Saat itu saya menganggur. Belum lagi ada insiden tembok rumah saya rubuh sepanjang 17 meter yang mengharuskan motor kesayangan saya terjual untuk menambah biaya renovasi. Bukan hal mudah melalui masa-masa tersebut.

Beruntungnya saya memiliki pendamping Mas Kamekameha. Ia bukan seorang akademisi, bukan pengusaha, belum mapan saat itu. Ia hanya seorang laki-laki yang punya tekad untuk meminang saya, meski ia sendiri bilang "Saya mau menikahi kamu, tetapi saya tidak tahu caranya". Hahahaha.. Dia juga bingung bagaimana mau melamar saya waktu itu.

Saat saya berada di titik rendah, ia datang dan bilang "Neng, bismillah. Niatkan nikah. Pasti Alloh kasih jalan. Sebelum nikah aku juga mau ngerenovasi rumah orang tua dulu ya".

DEG!
KAPAN GUE DILAMARNYA KALAU MAU RENOV RUMAH DULU?

Astaghfirulloh, saya miskin iman banget saat itu :(


4 komentar:

  1. Blog ini jd blog favorit saya semenjak mulai mempersiapkan pernikahan :)
    Salam kenal, mbak... keep writing yaa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal Mba Rosalina, terima kasih sudah mampir :)

      Hapus
  2. Aaaak penasaran cerita berikutnya. Lanjut baca :)

    BalasHapus
  3. Allah telah membawa saya kesinii hiks terharuuu

    BalasHapus