Friday, May 20, 2011

Diskusi Film : Prison and Paradise

Rabu (18/5) saya, Danik, Sahlan, Supri dan Kak Evi menghadiri pemutaran perdana film dokumenter "Prison and Paradise" di sekretariat AJI (Aliansi Jurnalis Independen) - Kalibata, Jakarta Selatan. Sepulang kuliah pukul 16.00, kami langsung menuju lokasi bersama dosen jurnalistik kami, Bapak Iwan Sams, M.Si.

Suasana Pemutaran dan Diskusi Film "Prison and Paradise"


Kami sampai lokasi pukul 17.00, sedangkan pemutaran film baru akan dimulai pada pukul 19.00. Kami akhirnya berdiskusi dahulu dengan Kak Salma dan Kak Wini, jurnalis muda di AJI. Kami berbincang tentang pers mahasiswa. Mereka memotivasi kami agar membentuk pers mahasiswa di universitas. Mereka juga dengan senang hati akan memfasilitasi kami dalam belajar jurnalistik secara gratis di AJI.

Film dokumenter berdurasi 93 menit ini disutradarai oleh Mas Daniel Rudi Haryanto. Film ini berhasil menempati jajaran film terbaik di Dubai International Film Festival 2010. Wow, satu prestasi anak bangsa yang patut diberi apresasi.

Film ini mengangkat tema terorisme yang cukup sensitif bagi masyarakat Indonesia saat ini. Mas Rudi mengangkat sisi lain dari peristiwa bom Bali di Legian tahun 2002, yaitu tentang bagaimana keluarga terdekat (orang tua, istri dan anak-anak) pelaku pemboman menjalani kehidupan mereka pasca tertangkapnya anggota keluarga mereka.

Bagaimana ayah-ayah mereka (Ali Gufron, Amrozi, Mubarok dan Imam Samudra) menjalani kehidupan di balik penjara yang mereka tidak mengerti. Qanita, Azzah dan anak-anak lainnya tidak mengerti bahwa ayah mereka adalah tersangka teroris. Bagaimana ketabahan istri-istri mereka, dan kekuatannya dalam membesarkan anak-anak.

Tidak hanya mengangkat sudut pandang keluarga pelaku, Mas Rudi juga mengangkat sudut pandang keluarga korban Bom Bali 2002. Bagaimana dampak ekonomi keluarga setelah ayah mereka meninggal akibat bom Bali, bagaimana perkembangan psikologis anak-anak pasca ayahnya wafat.

Daniel Rudi Haryanto (kiri), Sutradara "Prison and Paradise"


Yang unik dan dahsyat dari film ini adalah Mas Rudi membuat riset dan merekam film ini selama tujuh tahun. Mungkin jika saya sutradarnya, saya akan jenuh sekali hehe.. Selain itu, kehebatannya dalam menembus narasumber patut diacungi jempol. Bukan suatu hal yang mudah menembus keluarga tersangka teroris, bahkan sampai mewawancarai pelaku-pelaku teroris tersebut sebelum dihukum mati. "Saya mewawancarai mereka selama 14 jam dalam 2 hari" ujar Mas Rudi pada diskusi malam itu.

Film Prison and Paradise akan diputar di 32 kota di Indonesia. Mereka terbuka apabila ada universitas yang ingin memutar film Prison and Paradise dan berdiskusi bersama. Waa... senangnya :)

Saya merasa beruntung sekali bisa berpartisipasi dalam forum ini. Jaringan saya semakin luas, saya mengenal lebih banyak orang (terutama para jurnalis). Semoga saya bisa berpartisipasi kembali di forum-forum berikutnya. Cheers ^_^

Kuliah Bersama Guru Besar UI

Rabu (11/5) mahasiswa Fakultas Komunikasi Sastra & Bahasa Universitas Islam 45 mengikuti kuliah umum. Judul kuliah umunya sih, agak 'menjelimet' dan bikin otak mumet. hehehe.. Judulnya "Trend Terkini Metodologi Penelitian Sosial dalam Kajian Critical Discourses Analysis" (bacanya sambil nahan napas), diisi oleh guru besar komunikasi Universitas Indonesia, Prof. DR. Ibnu Hamad. Kuliah umum ini diikuti oleh seluruh mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi dan Sastra Inggris UNISMA Bekasi. Kuliah umum ini diadakan di Aula FISIP - Gedung B 102 UNISMA.

Kuliah Umum bersama Prof. DR. Ibnu Hamad


Saya awalnya sangat bersemangat mengikuti kuliah ini. Awalnya hanya tahu kita akan mengkaji teori kritis. Tapi ketika melihat plotter di depan aula, otot mata ini rasanya agak sedikit berkontraksi, berhubung harus membaca tema kuliah umum dari ujung kiri ke ujung kanan (ditambah tidak mengerti maknanya).

Well, 1 jam pertama saya masih semangat. Saya kira akan sangat menyenangkan membahas teori kritis. Ternyata yang disampaikan oleh Prof Ibnu Hamad hanya paparan metode-metode penelitan yang terkini. Beliau menjelaskan tentang evolusi teori-teori komunikasi dari tahun 1978 oleh Fisher, sampai pengembangannya pada tahun 2007 oleh Robert Craig.
Kami mempelajari tentang 7 tradisi teori komunikasi (Craig : 2007), diantaranya
1. tradisi sosio psikologis
2. tradisi retorika
3. tradisi semiotika
4. tradisi fenomenologi
5. tradisi sibernetika
6. tradisi sosio kultural
7. tradisi kritikal --> harusnya spesifik membahas ini, kalau saya lihat dari judulnya.


Selain itu, kami juga diberi sedikit penjelasan tentang 8 metode penelitian kualitatif dan kunci-kunci untuk memahaminya (kalau kata Prof Ibnu Hamad sih, 'dalil'nya).

Agak sedikit kecewa, karena Prof. Ibnu Hamad tidak banyak berbicara tentang CDA (Critical Discourses Analysis) dan beliau belum bisa menjawab pertanyaan saya dengan jelas. Saya bertanya, bagaimana kita bisa menggunakan teori kritis dalam mencerna informasi (berhubung saat ini masyarakat Indonesia belum 'cerdas' menanggapi berita). Jawaban beliau terlalu terpaku dengan teori, tanpa menjelaskan aplikasi nyata di masyarakat dan dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh orang yang 'non-komunikasi' (mengingat saat itu ada jurusan Sastra Inggris juga).

Tapi ada positifnya juga saya mengikuti kegiatan kuliah umum ini. Saya jadi 'melek' metode penelitian, dan mungkin memberikan sedikit gambaran bagi saya ketika menyusun sebuah karya ilmiah.

Selain itu, saya menjadi mengerti efek komunikasi antarpribadi. Tiga bulan lebih saya kuliah komunikasi antar pribadi, namun tak dapat 'intinya' sama sekali (atau mungkin saya yang bodoh dan malas, hehe..). Namun lewat kuliah ini saya mengerti pengaplikasian teori komunikasi antarpribadi.

Ketika Prof Ibnu Hamad menjelaskan sesuatu, saya kurang begitu mengerti. Padahal saya sudah berusaha memberikan atensi sebaik mungkin. Namun ketika dosen saya, Pak Idham Holik, menjelaskan sesuatu saya lebih bisa menangkap intinya. Disini faktor proximity ternyata berpengaruh juga dalam efektifitas komunikasi.

Prof. DR. Ibnu Hamad bersama Dekan FKSB Unisma, DR. Jarot Prianggono


Wah, senangnya dapat pengalaman baru. Semoga ada kuliah-kuliah umum selanjutnya. Semoga universitas saya selalu dapat memfasilitasi mahasiswanya dalam belajar dengan baik. Semoga saya kelak menjadi komunikolog dan public relations yang kompeten. Amin ^_^

Wednesday, May 11, 2011

Kemana Public Relations Pertamina?

Hai kawan-kawan, selamat datang di blog saya.. By the way, suka liat spanduk ini di SPBU Pertamina tidak?


Mungkin poster ini sudah tidak asing, dan ada di hampir setiap SPBU di wilayah Bekasi (yang saya lihat).

Hal yang ingin saya kritisi dalam masalah ini adalah pesan yang disampaikan kepada publik melalui spanduk tersebut. Disitu dituliskan :


PREMIUM ADALAH BBM BERSUBSIDI
HANYA UNTUK GOLONGAN TIDAK MAMPU



Saya melihat pesan tersebut dalam beberapa sudut pandang :
1. Sudut pandang sebagai rakyat kecil : Saya pakai Premium, saya miskin
2. Sudut pandang sebagai orang kaya : Saya ga pantes pakai premium
3. Sudut pandang sebagai mahasiswa : Kenapa subsidi tidak boleh dinikmati seluruh rakyat? Subsidi itu kan hak rakyat
4. Pakai teori kritikal : Ada apa dibalik pembatasan subsidi?

Anyway, yang paling mencolok adalah opini publik (terutama dalam kesenjangan sosial) yang ditimbulkan oleh spanduk tersebut. Memakai premium, sama artinya kita termasuk tidak mampu. Premium menjadi bahan bakar rendahan, tidak bergengsi. Akan timbul, si kaya pakai pertamax, si miskin pakai premium (saya miskin dong.. hehe).


KEMANA PUBLIC RELATIONS PERTAMINA?

Atau lebih tepat pertanyaannya, apa PR Pertamina tak tahu cara berkomunikasi yang baik (apalagi PR loh, harus bisa menciptakan image perusahaan yang optimis). Pesan dalam spanduk itu jelas salah (menurut analisis saya loh) karena dapat menimbulkan opini kesenjangan sosial pada rakyat.

Kalau memang tujuan dari Pertamina adalah agar masyarakat beralih dari bahan bakar premium ke pertamax (untuk mengurangi subsidi BBM), maka menggolongkan premium ke dalam bahan bakar tidak mampu bukanlah solusi.

Lebih tepat jika Pertamina mengemukakan kelebihan Pertamax, misalnya hasil pembakaran atau efek terhadap mesin. Nantinya masyarakat yang 'sadar teknologi' dab 'sayang mesin' akan merasa lebih untung kalau pakai pertamax.

Bisa-bisa pembeli pertamax tidak hanya dari kalangan ekonomi atas, namun juga masyarakat dengan kalangan ekonomi menengan atau kebawah yang lebih tertatik memakai pertamax.

Jadi, pemakaian pertamax bukan karena gengsi saja tapi juga tahu apa plus-nya pertamax dibandingkan bahan bakar lainnya.

Selama ini publik hanya dijejali "PAKAI PERTAMAX", sedangkan manfaat penggunaannya tidak terlalu disosialisasikan (jika dibandingkan dengan kampanye PREMIUM BBM MISKIN). Tambah lah bangsa kita ga cerdas. *ups

==========================================================

Kalau menurut pandangan teori kritikal, mengapa pemerintah berusaha mengurangi subsidi untuk rakyat? Tak lain tak bukan pasti karena ulah si Paman Sam dengan konsensus Washington. Singkatnya, negara ini semakin menuju sistem kapitalis.

Cape' deh.. mikirin akal-akalan pemerintah. Saya sih, tetep pakai premium. Ga peduli mau dibilang miskin a.k.a ga mampu. Hehehe..

Monday, May 9, 2011

Trying Blogger Droid

Saya baru saja browsing ke android market dan manemukan aplikasi ini. Semoga aplikasi ini bisa membantu produktifitas saya dalam menulis.

Awalnya saya agak merasa kesulitan menggunakan aplikasi ini. Padahal harapan awalnya saya bisa mengigau di blog kapan saja, tanpa harus menunggu membuka blogger di pc.

Sampai detik ini saya masih berusaha memposting tulisan ke blogger melalui aplikasi ini. Doakan saya semoga sukses. Yeayyyy.....

By the way, hari ini saya merasa sedih dan kecewa karena hari yang saya tunggu-tunggu ini hanya berlalu dengan membosankan. Saya ingin.menerima kabar baik di hari ini. Aminnn  :-)


ヽ(´▽`) ノ ヽ(´▽`) ノ

Sunday, May 8, 2011

Tuhan, Aku Ingin Protes

Tuhan, kenapa sih kawan-kawan saya yang orang tuanya bagus, fasilitas pendidikan terjamin, kuliah di universitas ternama.. kenapa mereka santai sekali sih hidupnya? Pulang kuliah ke mall, belanja, nonton. Sedangkan saya.. saya harus berpikir bagaimana saya bisa bayar kuliah semester ini walaupun mencicil. Saya harus berpikir bagaimana saya bisa jajan, beli buku, belu bensin. Saya harus bawa bekal biar menghemat uang jajan.

Mereka yang mampu seakan-akan tak mengapa kalau bolos kuliah, nilai kuliahnya biasa saja, tak punya prestasi apa-apa. HANYA JADI MANUSIA BIASA

Dan ketika mereka lulus kuliah, mereka hanya meminta pekerjaan kepada orang tuanya. Orang tuanya dengan baik hati memenuhi segala kebutuhannya.

Tuhan, mungkin aku cemburu. Mungkin aku ingin jadi mereka. Tuhan, ketika mereka menyia-nyiakan uang orang tua mereka, rasanya ingin kutampar mereka, Tuhan. Aku malu meminta-minta uang kuliah, apalagi uang jajan.

Tapi aku baru sadar, mengapa Kau menempatkan aku dalam keterbatasan. Agar aku mengerti arti kerja keras. Agar aku menghargai jerih payah dan perjuangan. Agar aku menikmati proses, dan nanti bisa aku ceritakan kepada anak-cucuku.

Tuhan, aku ingin terus belajar. Berikan hamba-Mu ini kesempatan untuk terus belajar. Merasakan pascasarjana, belajar ke Sydney.

Amin :-)